Gilanya Pemancing – Kisah Permulaan

Dibuat Oleh : Bayu Segara

Pertama kali mengenal mancing, jujur saja, yang namanya mancing itu sangat-sangat membosankan dan begitu menyebalkan. Lalu kenapa sekarang malah suka dan menikmati? Mungkin bagi yang tidak suka mancing, cerita mancing pasti membosankan karena yang ada dibenaknya mancing itu adalah duduk di depan kolam sambil bersabar ikan memakan umpan, sudah hanya itu.

Namun, mancing itu tidak hanya begitu saja ternyata. Tidak hanya duduk di depan kolam, nyabar-nyabarin diri nungguin ikan terpancing. Tapi ada begitu banyak kisah dibalik proses memancing, baik itu kisah suka ataupun kisah duka.

*****

Dulu, seperti kebanyakan rumah orang Garut atau orang Tasikmalaya, di sebelah rumah kakek ada kolam ikan. Ada dua kolam ikan, namun hanya satu yang berisi banyak ikan. Di kolam yang berisi banyak ikan itu, ada ikan mujair, ikan emas, ikan sepat mungkin ikan nilem juga ada.

Kolam ini jarang dikuras atau diambil ikannya. Selama saya tinggal di rumah itu, kakek, nenek atau bibi saya jarang menangkap ikan. Padahal, sirib, sebuah alat yang berupa jaring datar berbentuk empat persegi dengan tulang-tulang yang terbuat dari bambu yang disatukan dalam dua selobong bambu sebagai pengikatnya serta bambu panjang sebagai pengungkit untuk mengangkat jaring tersebut kami punya. Hanya tinggal kemauan merakitnya kemudian memberikan umpan dari dedak padi ditambah batu pemberat yang prosesnya tidak lebih dari lima menit, itu saja.

Suatu waktu saya iseng memancing, demi melihat pancingan tergantung di bilik bambu milik paman saya yang tinggal di Bandung. Dengan bermodal umpan cacing tanah yang tinggal gali di dekat pohon pisang, acara mancing dimulai.

Tak butuh waktu lama, kail saya mendapat sambutan dari ikan. Dengan semangat orang norak, saya teriak-teriak bahagia, sendirian. Agak gemetar saya angkat pancing waktu itu, holaa… diujung kail sana ikan mujair menggelepar-gelepar mencoba berontak ingin lepas. Cepat-cepat saya gulung kenur, takut ikan terlepas.

Ternyata mancing itu mudah…. itu pikiran yang ada dalam benak saya saat itu. Penuh semangat, saya mulai melempar pancing lagi ke dalam kolam. Sambil menunggu kail mendapat sambaran dari ikan, saya pandangi ikan hasil pancingan yang ada di ember yang berisi air. Senyam-senyum sendiri, merasa bangga bisa mendapatkan ikan dari hasil memancing.

Lima belas menit berlalu, umpan tidak ada satupun yang memakan. Cepat-cepat saya ganti umpannya dengan umpan baru. Lempar lagi ke kolam. Nunggu sampai beberapa saat, tidak juga ada yang menyentuh umpan, angkat lagi kail. Pindah tempat, kira-kira 2 meter dari tempat pertama, kemudian lempar lagi kailnya.

Sudah setengah jam, kail tidak ada nyenggol, perasaan hati mulai agak berubah, tadinya senang sekarang sedikit agak kesal. Coba pindah lagi tempat, namun tetap saja tidak mendapatkan hasil yang diinginkan. Kali ini kekesalan sudah memuncak. Akhirnya acara mancing disudahi. Sayapun mengambil sirib. Beres merakit, lalu saya letakkan jaring ke dasar kolam setelah memberinya dedak sebagai pemikat. Kira-kira dua menit, saya angkat sirib tersebut. Hasilnya…. nihil!! Semprul… saya sewot sendiri. Saya taruh lagi siribnya, menunggu sebentar, kemudian angkat lagi dan seperti tadi, hasilnya nihil juga. Ada setengah jam saya melakukannya, dengan tidak membuahkan hasil apapun. Kali ini saya marah. Batu segede kepalan tangan saya lemparkan ke dalam kolam sambil menggerutu. Ikan dodol luh………….. wek wek wek sewooot sendiri. Acarapun bubar, dengan hasil yang mengecewakan, hanya dapat satu ikan doang.

Dari situ saya mengambil kesimpulan bahwa saya tidak cocok memancing. Mungkin karena lahirnya bukan hari Minggu. Lah, apa hubungannya yah, mancing dengan hari lahir? Biasa…, alasan pembenaran dari ketidaktahuan dengan mengait-ngaitkan terhadap sesuatu walaupun yang dikaitkan itu kadang tidak nyambung atau tidak ada korelasinya. Dulu saya tidak faham teknik atau cara memancing yang benar, sehingga mencari sebuah alasan atas ketidaktahuan tersebut.

Lama berselang dari kejadian pertama kali mancing itu, saya tiba di sebuah tempat yang bernama Balaraja. Daerah yang terletak di barat Tangerang dekat dengan perbatasan Serang. Sebuah tempat yang sepi, tidak ada mall, seperti layaknya kota Jakarta yang padat dengan mallnya. Hanya ada pertokoan kecil, jika kita ingin mencari pertokoan yang lumayan besar, harus ke Cikupa Mas. Di sini, agak mending, daripada tidak sama sekali. Oleh karena itu, sedikit sekali kita bisa mencari hiburan di daerah sana.

Faktor inilah yang membuat saya tidak ingin kemana-mana setelah pulang kerja atau jika hari libur tiba. Di rumah saja. Sebelum saya mengontrak rumah petak, saya tinggal dengan paman saya di sebuah perumahan. Di sini banyak anak kecil, hingga membuat saya agak betah. Setidaknya ada sedikit hiburan daripada tidak sama sekali. Kan sangat menyedihkan, sudah mah tidak ada tempat hiburan, masa tidak ada satupun yang bisa dijadikan hiburan. Makanya ketika melihat tingkah polah anak kecil yang lucu-lucu yang berlalu-lalang di depan rumah, lumayan sedikit terhibur.

Kira-kira sebulan saya mencoba beradaptasi dengan lingkungan dan mencoba untuk betah, agak susah sih. Selain karena terbiasa hidup di keramaian juga dikarenakan harus mengenal orang-orang dan lingkungan baru. Biasanya, jika sore hari sepulang kerja, saya ikut bermain volley dengan warga perumahan. Untuk permulaan, itulah satu-satunya hiburan saya.

Menjelang tiga bulan berlalu. Suatu hari sepulang dari tempat kerja, saya melihat anak-anak kecil yang saya kenal sedang memancing di sungai yang membelah pesawahan. Waktu itu siang hari dengan panas matahari terik.

“Anak kecil kurang kerjaan, siang-siang mancing, kan panas,” gumam saya di hati.

Tidak hanya siang saja saya menemukan mereka sedang memancing, namun sore hari juga. Ah dasar anak kecil, pikir saya. Ternyata pikiran itu suatu saat nanti mesti saya ralat, karena menjilat ludah sendiri.

Dan saat itu akhirnya tiba, ketika itu saya sedang merasa bosan, ingin mencari hiburan. Namun tak tahu mesti kemana. Hingga datanglah gerombolan anak kecil itu, dipimpin oleh anak yang paling gede, dia sudah SMP, yang lain masih SD.

“Kemaren dapet kagak mancingnya?” iseng saya bertanya kepada mereka.

“Dapet Bang, ada beberapa biji,” jawab mereka rame, gak jelas siapa yang menjawab.

“Segimana ukurannya yang paling gede?” tanya saya penasaran.

“Segini, Bang,” jawab salah seorang dari mereka sambil menunjukkan dua jari yang dirangkapkan.

“Ooooh… segitu, besok abang ikut mancing yah,” iseng saya ngomong sama mereka. Pikir saya, daripada tidak ada hiburan, nyoba ngikut sama mereka saja, kali aja dapet hiburan.

“Ayo Bang,” jawab mereka antusias.

“Ada pancingnya ngga?”

“Ntar saya pinjemin Bang,” ucap salah seorang dari mereka.

“Pancingnya kayak gimana?”

“Dari bambu Bang, dikasih benang, gituh aja,” jawab anak yang paling gede.

“Ya sudah, jangan lupa nyamper yah.”

“Iyah Bang.”

*****

Besoknya mereka nyamper ke rumah lengkap dengan alat pancing. Pas saya lihat alat pancingnya, saya senyum-senyum sendiri. Dasar anak kecil. Yang begini dibilang alat pancing, gumam saya di hati demi melihat alat pancing dari bambu butut yang diberi benang yang ada sambungannya. Tapi tak mengapa, daripada tidak ada sama sekali.

Akhirnya kamipun berangkat. Saya yang mencari cacing. Ternyata, kalau urusan mencari cacing, anak-anak kecil itu tidak tahu tempat yang baik. Ini terlihat dari rasa heran mereka ketika mendapatkan begitu banyak cacing dari hasil korekan saya di tanah. Setelah mendapatkan cacing yang lumayan banyak akhirnya kami berangkat ke sawah.

Tadinya saya pikir, mereka akan membawa saya ke tempat biasa mereka memancing. Namun ternyata pikiran saya keliru. Mereka membawa saya ke arah yang berlainan. Tiba di tempat yang mereka tuju, pertama kali melihat keadaan tempatnya saya merasa nyaman. Tempat yang akan kami pancing adalah parit-parit yang berisi air bekas galian di bekas sawah yang sudah diratakan.

Dengan beralaskan sandal, kami duduk berjejer menghadap parit yang sangat panjang. Satu persatu pancingan kami turunkan ke dalam air. Sambil ngobrol, kami asyik melihat kumbul-kumbul yang menyembul di atas air. Jika bergoyang-goyang atau turun ke dalam air, cepat-cepat kami gentak. Begitulah terus yang kami lakukan sepanjang sore itu. Lumayan asyik, nongkrong di alam terbuka diantara ilalang sambil memandangi senja turun dikejauhan.

Ketika maghrib tiba, kami sudahi acara mancingnya. Saya mendapatkan satu ikan kecil berukuran dua jari. Kalau tidak salah, dua orang anak kecil juga mendapatkan ikan yang sama ukurannya dengan yang saya dapat. Lumayan menghibur acara mancing ini.

Inilah kegilaan pertama dari Pemancing :

Bilang dasar anak kecil, tapi dirinya kayak anak kecil.

Bilang, ah dasar anak kecil, panas-panas mancing. Lah dia sendiri mancing!

****

Kisah selanjutnya : Mulai berkenalan dengan alat pancing.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s