Ratu yang Tertipu oleh Penjahat

Ditulis Oleh : Bayu Segara

Konon katanya di kerajaan Dodolnasia, ada seorang ratu cantik yang sangat jahat. Nama ratu itu Selsa. Selain jahat ia juga terkenal serakah akan harta benda. Hobinya mengumpulkan permata yang gemerlap dari seluruh negeri. Maka tak heran, di negerinya, tak ada satupun orang yang bisa memakai permata karena semuanya pasti dirampas oleh sang ratu.

Sebelum jadi ratu, dia hanyalah perempuan dusun biasa. Namun karena kecantikannya yang terkenal sampai kerajaan membuat ia dijadikan isteri oleh sang raja. Ratu selsa bisa menjabat menjadi penguasa tunggal kerajaan dikarenakan oleh satu aturan kerajaan yang turun temurun. Aturannya adalah bahwa barang siapa yang bisa membunuh raja, maka dia berhak menjadi raja.

Oleh karena aturan ini, raja-raja sebelumnya yang mempin kerajaan Dodolnasia amatlah sakti-sakti. Mereka mempunyai ilmu kedigjayaan tinggi dan ilmu kebal yang hebat. Sehingga jarang ada yang berani bagi seorangpun untuk menantang sang raja.

Namun sesakti-saktinya manusia, merekapun punya kelemahan. Seperti sang raja yang jadi suaminya ratu selsa ini, ia terkenal mata keranjang. Hingga banyak sekali selir-selirnya yang mengisi gedung istana. Hal ini pula yang membuat Ratu Selsa bisa masuk ke dalam istana.

Dengan kecantikannya ia memperdaya raja untuk menjadikannya permaisuri kerajaan menggantikan permaisuri yang syah. Tak cukup hanya sampai situh, ia pun meracun sang raja, yaitu suaminya sendiri hingga meninggal. Tanpa merasa bersalah, ia mengaku kepada seluruh istana bahwa dialah yang meracuni sang raja.

Walau merasa keberatan, namun seluruh negeri akhirnya mengangkat ratu Selsa menjadi penguasa tunggal kerajaan Dodolnasia menggantikan suami yang telah dibunuhnya mengikuti peraturan yang ada.

*****

Nun jauh di sana, di sebuah dusun dekat gunung Papandayan ada seorang lelaki, namanya AA. Dia seorang penjahat yang licik. Dia terkenal sekali hingga seluruh negeri dan mempunyai julukan Si Bukan Penjahat Kelamin. Tak seorangpun tahu kenapa AA mendapat julukan seperti itu. Pembaca pasti penasaran bukan, sama.. saya juga sebagai penulisnya pun penasaran… wkwkwkwk…

Sudah banyak harta yang ia kumpulkan dari merampok rakyat dan pembesar istana. Beberapa kali prajurit kerajaan mencoba menangkapnya namun tak pernah berhasil karena ilmu kesaktian yang ia dapat dari bertapa di goa-goa pinggir laut kidul, Pameungpeuk Garut.

Tapi, walau sakti, ia mempunyai kelemahan. Ilmu kesaktiannya akan hilang jika memakan buah pisang. Oleh karena itu, tidak ada satupun pohon pisang yang berdiri di depan rumahnya. Dan penduduk kampung di sekitar persembunyiaan AA yang terletak di dalam hutan tidak ada satupun yang berani menanam pohon pisang. Mereka takut didatangi oleh AA dan dibunuh karena berani menanam pohon pisang, walaupun tidak pernah terbukti ketakutan itu.

Kabar bahwa AA mempunya kelemahan, akhirnya terdengar juga oleh prajurit kerajaan. Oleh karena itu berbagai usaha dilakukan untuk menjerat AA agar memakan buah pisang dilakukan. Namun usaha inipun selalu menemui kegagalan. Hingga akhirnya mereka mulai menyerah.

Namun, seperti hari yang selalu berganti. Atau kesenangan dan kesedihan yang selalu datang dan pergi. Begitu juga dengan peruntungan nasib AA.

Suatu hari dia sedang jalan-jalan di sungai sambil membawa panah. Ia berniat mencari ikan dengan panahnya. Sedang asyik-asyiknya dia menelusuri sungai, tak sadar ia tiba di depan rumah seorang penduduk.

Tampak olehnya seorang perempuan cantik sedang bercengkrama dengan monyet di pinggir sungai di depan rumah itu. Ternyata penjahat juga manusia, sodara-sodara. Ia mendekati perempuan itu, tertarik dengan kecantikannya. Ketika tiba di hadapan wanita itu, iapun terpesona. Jatuh cinta pada pandangan pertama! Olala… syuit .. syuit…

Tak sedikitpun pandangannya berpaling dari wanita itu beberapa saat lamanya. Hingga ia tersadar ketika ada suara lembut halus menyapanya.

“Akang, ada apa, kok mandangin Eneng seperti begitu?”

AA pun tersadar dari kekagumannya.

“Anu… anu .. Neng. Akang teh lagi mencari ikan, buat makan siang nanti,” jawab AA sambil tersenyum. Sebuah senyum yang langka datang dari mulut AA. Hanya segelintir orang yang bisa melihat senyum AA, saking susahnya.

“Oooh… Akang lagi nyari ikan. Yah atuh sok, silahkan. Tuh banyak ikan di sungai, sekalian kalau udah dapat, nanti Eneng dibagi yah,” ucap perempuan itu sambil menunjuk ke sungai di bawah kakinya.

“Demi Eneng, siaplah,” ucap AA merasa mendapat angin, dengan sigap turun ke sungai. Celingak-celinguk sebentar sambil mengambil anak panah dari tempatnya. Demi dilihat ada ikan besar yang lewat, secepat kilat dengan ilmunya yang sudah sangat tinggi dipanahnya ikan itu. Seeeet, terdengar suara anak panah membelah angin terdengar begitu keras, saking besarnya tenaga yang dikeluarkan AA.

Hal ini AA lakukan selain untuk membunuh ikan, juga sekalian pamer kekuatan kepada perempuan yang ada di sampingnya. Memang tidak salah apa yang dilakukan AA, karena perempuan itu begitu terpukau dengan kelakuannya hingga membuat ia semakin menjadi-jadi.

“Aduh si Akang teh hebat, sekali panah ikan langsung didapat,” terdengar si perempuan itu berseru demi melihat ikan tertembus anak panah yang dilepaskan oleh AA sambil tepuk tangan.

“Ah ini belum seberapa Neng, masih ada keahlian Akang lain yang belum Eneng lihat,” kata AA sambil mesam-mesem dan hidungnya kembang kempis merasa bangga dipuji.

“Oh yah? boleh dong Eneng melihat ilmu Akang yang lainnya?” tanya perempuan itu sambil tersenyum manis.

“Boleh..boleh… untuk Eneng, Akang pasti menunjukkannya, tapi nanti yah” jawab AA sambil mengambil ikan yang mengambang di air hasil memanah. Diambilnya rumput tali yang ada dipinggir sungai, kemudian ia masukkan rumput itu ke dalam rahang ikan dan menalikannya.

“Neng, pegangin dulu yah, Akang mau nyari lagih yang lain,” ucap AA sambil menyerahkan tali rumput yang menggantung ikan kepada perempuan itu.

“Baik, Akang,” tukas perempuan itu sambil menerima tali yang disodorkan oleh AA. Entah sengaja atau tidak, tangan halus putih itu memegang tangan AA. Hal ini membuat AA panas dingin dan badannya bergetar, tampak wajahnya memerah.

“Kenapa Akang wajahnya merah begitu?” tanya perempuan itu dengan polosnya.

“Enggak neng, Akang lagi menahan kentut nih,” jawab AA ngelantur.

“Iiih jorok si Akang mah, jangan di sini atuh kentutnya,” jerit perempuan itu manja sambil cekikikan.

“Eh bukan mo kentut Neng, Akang salah ngomong tadi, maaf yah. Kok Akang jadi ngomong pengen kentut yah, padahal tadinya Akang mo ngomong, kenapa wajah Eneng teh kok imut” ucap AA sambil gelagapan.

“Hihihi….bisa ajah nih si Akang… ya sudah atuh, sok dilanjut nyari ikannya,” ucap perempuan itu sambil duduk di atas batu. Tangan kirinya mengelus monyet yang setia bergelantung di pundaknya sambil memandangi AA yang sedang berburu ikan.

Hanya butuh waktu lima belas menit saja bagi AA untuk mendapatkan jumlah ikan yang banyak, tak terasa sudah ada 10 ikan yang besar-besar yang dipanahnya hingga membuat kerepotan perempuan itu.

“Akang, ini ikannya sudah banyak atuh, cukuplah,” teriak perempuan itu mencoba mempengaruhi AA untuk berhenti mencari ikan.

“Oh iyah Akang lupa, saking asyiknya nih, ya sudah kita selesaikan acara nyari ikannya yah,” ucap AA sambil beranjak ke darat.

“Iyah Akang, Eneng udah pegel nih meganginnya.”

“Aduh maaf Neng, sini Akang pegangin,” ucap AA gesit menghampiri perempuan cantik itu. Dan seperti tadi, tangan halus perempuan itu bersinggungan dengan kulit tangannya. Sekali lagi, hati AA berdebar-debar, tak terasa badannya menggigil kembali.

“Aeh …itu si Akang badannya gemetaran, sepertinya kedinginan yah Kang, yuk ke rumah Eneng, nanti Eneng buatkan perapian untuk menghangatkan badan Akang sambil kita ngebakar ikan”

“Ayuk.. ayuk .. Neng,” AA menjawab penuh semangat empat lima.

Akhirnya mereka beriringan berjalan melewati jalan setapak. Di tempat yang agak becek, tiba-tiba perempuan itu terpeleset hendak jatuh. Namun dengan sigap AA menangkap tubuh perempuan itu sebelum tubuh itu terjerembab di lumpur. Ow o wow… berasa jadi pahlawan banget perasaan AA saat itu. Nilai tambah nih.

“Hati-hati Neng,” ucap AA sambil mendirikan tubuh perempuan itu. Tercium olehnya bau semerbak dari tubuh perempuan itu. Sekali lagih, hatinya kebat-kebut.

“Makasih Kang, kalau tidak ada Akang, mungkin sekarang baju Eneng kotor semua,” kata perempuan itu dengan wajah memerah yang menambah kecantikannya di mata AA.

“Ah itu mah hal kecil Neng,” pukas AA dengan senyumnya yang cerah.

“Memang si Akang ini cowok idaman para wanita, kayaknya”

“Ah masa sih Neng,” ucap AA sambil ketawa lebar, kembali idungnya terasa cenat-cenut.

“Beneran Kang,” jawab perempuan itu lugu.

Tak lama mereka tiba di rumah perempuan itu.

“Kang, nitip monyet Eneng dulu yah. Eneng mau kebelakang ngambil kayu bakar buat kita bakar ikan,” ucap perempuan itu sambil menyerahkan monyet yang ada di gendongannya. AA pun dengan sigap menerimanya. Tak lama kemudian perempuan itu keluar sambil membawa kayu bakar yang banyak di pondongannya.

“Ayo Kang kita bakar ikannya,” ajak perempuan itu sambil menyalakan api.

“Yuuuuk… biar akang aja deh yang membakarnya. Neng nonton saja, pokoknya tahu beres saja lah,” AA menunjukkan semangat yang membara. Dasar cowok, ternyata dimana-mana sama. Makanya penulis tidak pernah suka sama cowok, karena cowok itu gesit dan siap membantu jika ada maunya saja hiks hiks hiks.

Tak lama, ikan matang, wanginya membuat perut yang keroncongan semakin tambah bunyi. Dengan sigap AA menyorongkan ikan hasil bakaran kepada perempuan cantik itu. Sambil tersenyum manis perempuan itu menerimanya. Merekapun makan ikan bakar dengan nikmatnya.

“Sebentar yah Kang, Neng ambil buah untuk cuci mulut,” ucap perempuan itu ketika mereka beres makan.

“Silahkan, sama sekalian kalo boleh Akang minta air minum, agak seret nih.”

“Aduh, maaf Eneng lupa. Iyah nanti sekalian Eneng bawa air minumnya”

Tak lama kemudian perempuan itu membawa 5 potong buah pisang dalam piring serta kendi lengkap dengan cangkirnya.

“Nih Kang, air dan buahnya untuk cuci mulut. Sekalian Eneng minta tolong kasih makan monyet kesayangan Eneng itu,” ucap perempuan itu menunjuk kepada monyet yang sedang digendong oleh AA.

Entah kenapa, AA tidak menyadari bahwa buah pisang yang disodorkan oleh perempuan itu adalah sumber mala petaka baginya. Sepertinya, kecantikan wanita itu telah melenakannya, hingga tidak ingat sedikitpun akan pantangan ilmu kesaktiannya. Maka dengan lahapnya ia memakan pisang itu dan mengupas satu buah untuk monyet yang sedang digendongnya kemudian menyuapinya.

Tiba-tiba…. Ketika AA sedang asyik makan buah pisang….

Sst… sst…. Segerombolan orang berseragam berloncatan dari balik pepohonan berdiri mengurung AA, membuat monyet yang digendong oleh AA meloncat kabur ke dalam rumah. Wajah mereka begitu garang. Dilihat dari pakaian yang mereka kenakan, sepertinya prajurit kerajaan.

“AA, menyerahlah atau kami akan membunuhmu,” bentak salah seorang dari prajurit itu.

“Prajurit dodol, jangan harap kalian bisa menangkap saya. Kalian semua tahu pasti kesaktian yang saya punya bukan, jadi pergilah kalian semua sebelum saya marah,” tantang AA dengan kalem, dia belum sadar akan keadaan dirinya.

“Hahahaha…. Memang kami tahu kalau kamu ini sakti, tapi hari ini kami pasti menangkapmu. Hari keberuntungan kamu sudah lenyap. Ayo kawan-kawan kita tangkap bajingan ini,” jawab prajurit yang paling tua sambil meloncat menubruk ke arah AA, diikuti oleh anak buahnya.

Melihat bahaya yang datang, AA sigap hendak berdiri dan menghindar dari sergapan para prajurit kerajaan. Namun, ia terkaget-kaget ketika tidak ada sedikitpun tenaga yang ada pada tubuhnya. Tulang-tulangnya terasa lemah tak bisa digerakkan. Baru sadar ia sekarang akan pantangan ilmunya. Tak ayal, iapun tertangkap dengan mudahnya.

AA melirik ke arah perempuan itu, tampak perempuan itu bersikap biasa-biasa saja tidak menampakkan ketakutan. Baru sadar sekarang dia kalau sudah dijebak.

“Ternyata kamu telah menjebak saya Neng, tega sekali,” ucap AA sambil memandang pada perempuan cantik itu.

“Maafkan saya Akang, Eneng terpaksa. Eneng harus patuh pada perintah kerajaan,” jawab perempuan itu datar.

Akhirnya AA digiring ke kerajaan untuk diadili.

Besoknya, kabar tentang tertangkapnya AA sang buronan nomor satu kerajaan tersiar dengan cepatnya. Ada yang bahagia dengan kabar itu, namun tidak sedikit yang kecewa. Walau seorang penjahat, namun pada dasarnya AA ibarat seorang pahlawan, karena berani menantang kekuasaan Ratu Selsa yang bobrok. Semua orang berbondong-bondong ke alun-alun kerajaan, penasaran ingin mendengar pengumuman dari pihak kerajaan tentang kebenaran berita itu.

“Rakyatku sekalian, kami mengumumkan berita baik hari ini. Kami telah menangkap seorang penjahat yang selama ini kita cari. Penjahat yang selalu meresahkan negeri ini, yaitu AA yang kita ketahui berjuluk Si Bukan Penjahat Kelamin. Besok siang, dia akan dihukum dengan dimasukkan ke dalam ruang kekejaman,” terdengar suara lantang dari seorang yang berpakaian pejabat kerajaan.

Mendengar pengumuman tersebut, terdengar ramai suara kasak kusuk dari penduduk yang hadir.

“Wah, habislah riwayatnya dia”

“Kalau dimasukkan ke Ruang kekejaman, sudah beres ceritanya”

“Sungguh kasihan dia, disiksa di ruang kekejaman, mendingan dipenggal saja langsung deh daripada dimasukkan ke sana”

Dan suara-suara lainnya yang mengasihani nasib AA sang penjahat ini.

Ruang kekejaman adalah sebuah ruang yang sengaja dibuat oleh raja-raja dahulu untuk menakuti musuh-musuh yang ingin menggulingkan kekuasaannya. Di dalam ruang kekejaman itu banyak terdapat binatang buas dan berbisa yang sengaja dimasukkan. Jika sudah masuk, tak ada satupun orang yang bisa keluar dari situ hidup-hidup saking mengerikannya hukuman itu.

Tibalah hari yang dinanti-nanti oleh seluruh penduduk, yaitu hari penghukuman AA. Berduyun-duyun orang datang ke kotaraja ingin menyaksikan acara penghukuman. Mereka berkumpul bersama-sama pedagang dadakan di alun-alun kota.

Menjelang siang hari, akhirnya AA digiring oleh prajurit kerajaan dalam keadaan diborgol diiringi oleh Ratu Selsa. Hari itu Ratu Selsa sangat cantik. Gaunnya yang megah bertahtakan intan permata yang bercahaya sehingga membuat silau yang memandang. Ibu-ibu hanya bisa menelan ludah dan kagum demi melihat keadaan Ratu Selsa itu. Diantara mereka tampak Ibu Yayat, Ibu Aulia, Ibu Desy, Ibu Tyas yang nafsu sekali melihat pernak-pernik yang dipakai Ratu Selsa, ini terlihat dari ujung bibir mereka yang meleleh air liur. Lah ngomong-ngomong mereka ini siapa yah? kok bisa masuk dalam cerita ini sih!

“Wahai kamu AA, sang penjahat negeri, hari ini kamu dihukum dengan hukuman dimasukkan kedalam ruang kekejaman. Aku sebagai ratu yang baik tentunya tidak begitu saja menghukum kamu tanpa memberikan kamu satu permintaan terakhir. Katakan, apa permintaanmu sekarang?” ucap Ratu Selsa dengan berwibawa.

“Terimakasih yang mulia atas kebaikannya. Izinkan saya untuk melihat-lihat terlebih dahulu ke dalam ruang kekejaman sebelum pintu kekejaman ditutup. Itu permintaan saya yang terakhir,” jawab AA dengan tenang.

“Apa? Tidak ada permintaan yang lainnya kah? Masa kamu hanya ingin melihat-lihat ruang kekejaman saja?” Tanya Ratu Selsa sedikit heran.

“Iyah Ratu, hanya itu saja keinginan saya, tidak ada yang lain,” jawab AA dengan tegas.

“Baiklah kalau itu kemauan kamu. Prajurit, cepat bukakan pintu kekejaman,” perintah Ratu Selsa kepada prajurit yang mengawal AA.

“Baik yang mulia,” sahut mereka dengan cekatan.

“Nah silahkan kamu masuk ke dalam, pintu sudah terbuka,” ucap ratu selsa kepada AA.

“Terimakasih yang mulia,” ucap AA sambil masuk ke dalam ruang kekejaman sendirian.

Terdengar suara helaan nafas dari rakyat dan prajurit istana yang menonton. Mereka berkeyakinan bahwa AA tidak akan keluar lagi dari ruang kekejaman itu hidup-hidup.

Namun tak lama kemudian AA keluar dengan tenangnya tanpa ada satupun luka. Ratu Selsa dan semua yang berkumpul di situ terbengong-bengong. Tampak AA keluar dengan menggenggam sesuatu di tangannya. Hal ini tidak luput dari pandangan Ratu Selsa.

“Apa yang kamu bawa itu wahai penjahat?” tanya sang Ratu penasaran.

“Permata yang mulia,” jawab AA.

“Hah, permata. Dapat darimana kamu?” ucap Ratu Selsa penasaran sambil mendekati AA.

“Dari dalam ruang kekejaman Ratu”

“Apa, betulkah? Coba aku lihat permata itu,” ucap sang ratu sambil menyodorkan tangannya.

“Betul Ratu, silahkan ratu lihat-lihat saja permata ini,” jawab AA sambil menyerahkan permata itu ke tangan Ratu Selsa.

Ratu Selsa membolak-balik dan meneliti permata itu dengan teliti.

“Hebat kamu AA, ini batu permata asli. Aku jadi penasaran, sebenarnya apa yang ada di dalam ruang kekejaman itu, coba jelaskan padaku”

“Di dalam ruang kekejaman, saya menemukan banyak sekali binatang buas. Salah satunya adalah buaya putih. Sewaktu saya melongok ke dalam, tiba-tiba dia menyambar kepala saya. Namun dengan sigap saya mengelak sambil menendang giginya hingga lepas dari rahangnya. Gigi itu terpental keluar, cepat-cepat saya keluar dari ruang itu. Tadinya saya ingin membuktikan saja, benarkah bahwa ruang kekejaman itu sangat kejam. Ternyata benar adanya,” jawab AA sambil terdiam sejenak.

“Lalu, mengenai batu permata itu?” kejar Ratu Selsa penasaran akan cerita AA.

“Ketika saya hendak keluar, saya melihat gigi buaya itu tergeletak dekat pintu. Karena bercahaya, saya jadi penasaran. Maka saya ambil gigi itu. Setelah saya teliti, ternyata gigi buaya itu permata seperti yang Ratu lihat sekarang,” jawab AA.

“Ah kamu bohong, mana ada gigi buaya terbuat dari permata,” damprat sang ratu.

“Saya tidak membohong Ratu, kalau Ratu tidak percaya silahkan lihat sendiri”

“Nanti saya celaka, dimakan oleh buaya itu”

“Disini banyak prajurit yang mengawal, tentunya sebelum buaya itu menerkam Ratu, mereka akan melindungi Ratu”

“Hm……. ,” ucap sang Ratu sambil berpikir sejenak.

“Baiklah, aku ingin melihatnya sendiri.”

Kemarukan akan harta membuat hilang akal sehat sang Ratu.

AKhirnya sang ratu memasuki ruang kekejaman tersebut diringi prajurit kerajaan dan tak ketinggalan AA sang penjahat.

“Mana buaya itu?” tanya sang ratu kepada AA ketika mereka sudah di dalam.

“Disebelah situ dekat bibir batu kubangan,” tunjuk AA ke bibir kubangan yang dekat dinding batu.

Ketika sang Ratu melongok ke bawah, memang benar banyak sekali buaya, namun tidak ada satupun buaya berwarna putih. Dengan heran dan perasaan dongkol ia membalikan badan hendak memarahi AA. Namun, belom sempat ia menatap muka AA tiba-tiba ada suara angin yang kencang berhembus di belakang tubuh mengarah ke pinggulnya.

Duk…. ia merasakan satu hantaman ke tubuhnya membuatnya terpental jatuh ke dalam kubangan yang berisi buaya. Rupanya ia ditendang oleh AA dengan sekuat tenaga.

“Maaf saya kurang sopan nendang di sana Ratu, nanti disangka pelecehan seks, tapi mo gimana lagi, cuman bagian itu yang pas dan enak untuk ditendang” ucap AA sedikit merasa bersalah.

“Gak apa-apa saya ngerti kok. Ternyata kamu memang penjahat hebat AA, dua jempol buat kamu deh, bisa nipu saya…” terdengar jawaban Ratu Selsa dari kubangan di bawah sana diiringi jeritan kesakitan karena diterkam buaya.

Tak butuh berapa lama, Ratu Selsa pun meregang nyawa dicabik-cabik oleh buaya yang sedang kelaparan.

Para prajurit marah, bergerak hendak mengeroyok AA. Namun sebelum mereka bergerak, dengan cepat AA berteriak.

“Apakah kalian hendak membunuh raja kalian sendiri? Yakin nih… pada berani……???”

Mendengar ucapan AA, Prajurit-prajurit itu pada diam dan saling berpandangan diantara mereka, tidak mengerti maksud ucapaan AA.

“Apa maksud ucapan kamu AA?” tanya salah seorang prajurit penasaran.

“Kan sesuai peraturan, siapa yang membunuh raja atau ratu yang berkuasa, maka dialah yang berhak menjadi raja atau ratu. NGarti, sekarang?” jawab AA sambil cengengesan.

“Oh iyaaah bener…. Ngerti saya kalo begitu,” jawab prajurit rame menjawab.

“Ya udah kalo ngerti, lepasin nih borgol.”

“Siap Baginda,” jawab prajurit, mereka berebut melepas borgol yang melingkari badan AA. Biasa, pada carmuk. Ah, ternyata sama saja, walau beda zaman, teteeeeeeeepp yang namanya orang cari muka ada di mana-mana. Miris dah.

Begitu cerita yang terjadi di kerajaan Dodolnasia. Kabar terakhir yang didapat, Raja AA menyunting perempuan yang telah menjebaknya sebagai permaisuri, belakangan diketahui perempuan itu bernama Ranti.

Ia tidak mendendam kepada neng Ranti, walau hampir mencelakakan hidupnya. Bagi dia, semua orang pernah melakukan kesalahan. Semua orang bisa berubah karena tertekan katanya…. Wit wiiiiit…. so sweeet… gak salah memang kalau AA dibilang cowok idaman wanita seperti kata perempuan yang bernama Ranti itu…….. Karena ternyata hatinya memang penuh cintaaaa….

Catatan : Eneng, Neng adalah nama panggilan untuk wanita Sunda, biasanya panggilan anak kecil atau wanita yang belum menikah.