Ketika Cinta Menghilang

Ketika cahaya bintang yang gemerlap turun di sini.
Angin dingin menusuk pori-pori menciutkan tubuh.
Saat itu kenangan masa lampau melintas begitu saja
Mencoba bernostalgia.

Dikala engkau masih ada.
Masih sehat,
Masih memancarkan pesona.
Memberi warna pada dusun kami.

Engkau muara dari berbagai sungai.
Engkau cabang dari berbagai ranting.
Dan engkau induk dari semua anak.

Ketika satu persatu dari engkau pergi.
Muaraku tidak deras lagi.
Pohonku tidak kokoh lagi.
Dan anak-anakku mulai kehilangan arah.

Semesta di bumi kami mulai menciut.
Bumi yang kami pijak sedikit demi sedikit mulai panas.
Wajah-wajah bahagia mulai berganti nestafa.

Dan jika kulihat keatas langit.
Bintang masih bertebaran.
Malam masih dingin.
Juga bulan masih bersinar.

Namun semua tidak ada pesona.
Begitu resah.
Begitu rapuh.
Begitu melara jiwa.

Rindu aku padamu.
Ketika mentari bersinar di pagi hari.
Nasi gorengmu yang hangat mengakiri kerongkongan kami.
Atau air teh panas serta kental meresap ke dalam aliran darah kami menggenang menutupi luka di lambung kami.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s