Sepatu Tuhan yang Digigit Anjing

Ada seorang anak priyayi di sebuah dusun di Garut Timur sana. Sebut saja namanya si Fulan. Anak ini tergolong cerdas, sedikit pendiam, baik kelakuannya namun sangat kukuh pada pendirian.

Sehari-hari ia bergaul dengan anak-anak pesantren yang dipimpin oleh Kyai Mahfud dekat rumahnya. Kebetulan ayahnya adalah sobat karib dari kyai tersebut. Namun, walau sobat karib, ayahnya tidak mau mengirim anaknya untuk belajar di pesantren itu. Dengan alasan; takut anaknya menjadi pendakwah. Bagi ayahnya, seorang pendakwah biasanya hidup dalam kemiskinan. Ia tidak mau anaknya menjadi miskin. Sebuah pola pikir yang nantinya ia sesali.

Karena hal itu, ilmu agama si Fulan seperti orang kebanyakan di masyarakat kita, dangkal atau Islam tapi tidak islami. Maksudnya islam tapi tidak islami adalah ; sudah tahu islam memerintahkan untuk membaca tapi buktinya minat masyarakat islam untuk membaca sangat-sangat memprihatinkan; sudah tahu islam memerintahkan untuk menjaga kebersihan namun yang terjadi sampah berserakan dimana-mana karena orang-orangnya senang buang sampah sembarangan. Dan contoh-contoh lainnya yang menggambarkan hal tersebut.

Ketika beranjak dewasa ia kuliah di sebuah universitas negeri di kota. Di sini ia mulai berkenalan dengan pilsafat dan faham-faham pemikiran orang-orang terkenal di dunia baik itu berhaluan kanan ataupun kiri. Karena dasar agamanya tidak kuat, terjadilah kegamangan tentang keberadaan Allah di dunia ini merasuki pikirannya.

Ia mulai melenceng dari jalur hidup yang seharusnya dan
kini telah meninggalkan sholat lima waktu. Namun begitu, ketika pulang ke rumah ia selalu melakukan shalat seperti biasa demi menjaga amarah orang tua. Untuk beberapa lama, orang tuanya tidak mengetahui hal ini. Namun seiring waktu akhirnya mereka tahu juga.

Orang tua Fulan adalah seorang bijak. Ia menyadari bahwa kejadian yang menimpa anaknya sekarang terjadi karena kesalahan mereka pula. Menyesal mereka tidak mengirimkan anaknya ke pesantren waktu dulu untuk memberikan dasar agama yang kuat bagi anaknya. Mau jadi pendakwah atau tidak itu urusan anaknya nanti karena pesantren bukan hanya urusan agama.

Penyesalan datangnya selalu terlambat dan memang seharusnya begitu. Jadi tidak ada istilah itu, yang ada adalah mau tidaknya seseorang untuk memperbaiki keadaan dan mengambil pelajaran dari kejadian yang menimpa dirinya. Sudah itu saja, tidak ada yang lain.

Oleh karena kesadaran ini, orang tua Fulan mulai berusaha memperbaiki keadaan. Mereka mencoba menggiring anaknya untuk kembali ke jalan yang benar. Namun usaha itu tidak semudah membalikkan keadaan. Orang yang sudah dewasa susah untuk diarahkan, karena rasa ego dan merasa mampu akan keadaan diri biasanya hal itu yang menghalangi jiwanya menerima nasihat atau petunjuk. Karena itu, jika hendak membentuk manusia yang sesuai keinginan, didiklah anak sedari kecil agar lebih mudah.

Hingga suatu hari kyai Mahfud mengajak ayah si Fulan umroh. Dengan tanpa banyak pertimbangan, ayahnya mengiyakan. Si Fulan adalah salah satu anggota keluarganya yang didaftarkan.

Walau, si Fulan merasa enggan, namun ia tidak berani menolak. Dan setelah berpikir lebih jauh, ia merasa ada untungnya juga ikut, selain untuk melihat negeri Arab juga demi membuktikan sesuatu yang mengganjal pikirannya selama ini.

Tiba di tanah suci, ia berusaha untuk selalu sendiri dan menghindar dari rombongan keluarga demi misinya.

“Allah, saya datang ke sini untuk membuktikan kalau engkau ada. Jika engkau tidak menunjukkan diri, aku bisa pulang dengan tertawa,” ucapnya sambil menatap langit ketika malam pertama tiba.

“Oh iyah, ini sepatu sebagai alat untuk pembuktian diri kita. Jika engkau ada, maka hilangkanlah sepatu ini selama aku berada di sini. Dan aku akan berusaha untuk tidak menghilangkannya. Yuk kita saling mengalahkan.”

Sejak keluar ucapan itu, Si Fulan tak pernah sedikitpun melepaskan perhatian dari sepatunya. Jika ia mesti melepaskan, maka ia membungkus sepatunya dengan plastik. Tidur ia peluk sepatu itu seperti guling, jika shalat ia simpan di bawah kaki. Diusahakannya untuk tidak lengah, selalu waspada.

Dihari kedua, ia tersenyum melihat sepatunya masih bisa dipakai.
“Hari kedua nih ya Allah, ini sepatu masih kupakai hehe,” gumamnya sambil tersenyum.

Dan seperti kemarin, ia terus memakai sepatu itu. Walaupun kadang tersiksa dengan hawa panas dan banyaknya pasir yang masuk ke dalam sepatu. Sesekali, ia membuka dan membersihkan sepatu dan memakainya kembali.

Sampai sore tiba, ia masih tersenyum hingga suatu kejadian aneh menimpanya di malam hari. Waktu itu ketika sedang melintasi sebuah batu di jalanan menuju pulang ia mendengar suara tawa. Pertama ia tidak begitu perduli dengan berpikiran bahwa suara tawa itu hanyalah hembusan angin yang menerpa bebatuan.

Namun ketika baru dua langkah ia berjalan, ia mendengar suara tawa itu lagi. Kali ini dia penasaran. Ia tengok kanan kiri celingukan mencari sumber suara. Setelah diteliti, ternyata suara berasal dari batu yang tadi ia lewati. Ia memutuskan untuk kembali dan mendekati batu itu. Terdengar suara obrolan.

“Orang ini ingin membuktikan bahwa Allah ada atau tidaknya kawan,” ucap suara pertama.

“Hahaha… kenapa dia tidak buktikan ada atau tidaknya bintang saja,” sahut suara kedua.

“Iyah betul. Memang bintang itu kelihatan oleh mata, terasa berkelap kelip menggoda tapi dia tidak pernah memegang dan tahu bagaimana bentuk bintang itu sebenarnya. Darimana kita tahu kalau apa yang dia lihat itu adalah bintang.”

“Setuju. Kita dikenal sebagai batu. Orang bisa melihat, memegang dan merasakan kita, oleh karena itu setiap orang sepakat bahwa kita ada, tidak seperti bintang kawan, mungkin bintang itu hanya khayalan saja.”

“Betul kawan. Manusia ini ingin membuktikan ada tidaknya Allah dalam persepsi dia. Padahal untuk membuktikan bintang saja yang hanya ciptaan tidak sanggup, bagaimana mau membuktikan Allah yang menciptakan bintang?”

“Haha… tapi kita yakin, orang seperti dia tidak mudah menerima petunjuk yang terang, inginnya sebuah pertunjukkan yang terang, ya kita lihat saja nanti.”

Setelah itu hening, tak ada obrolan lagi. Bagi orang-orang yang mau mengosongkan egonya, harusnya obrolan itu adalah sebuah petunjuk yang terang untuk membuka pikiran si Fulan. Namun, sayangnya si Fulan tidak mengosongkan ego untuk menerima petunjuk ini, dengan cepat hatinya menolak.

“Ini hanya halusinasi,” gumamnya sambil cepat-cepat pulang ke penginapan.

“Hari kedua ya Allah, ini sepatu masih ada,” ledek batinnya ketika hendak tidur.

Malam harinya di malam ketiga, si Fulan berjalan-jalan melihat keadaan kota Mekkah. Tak sadar ia berjalan begitu jauh hingga pelosok. Baru tersadar ketika kakinya letih.

“Lumayan olahraga nih acara pulang. Oh iyah, hari ketiga nih, sepatu masih saya pakai looh,” gumamnya sambil tersenyum dan melangkah pulang.

Tiba di sebuah gang yang gelap ia dikejutkan oleh empat mata yang memandang dengan garang. Ternyata dua anjing sedang menghadang jalannya, siap-siap untuk menggigit. Maka dengan tidak berpikir panjang ia lari tunggang langgang. Dan anjing-anjing itupun dengan sigap mengejarnya. Sial bagi si Fulan, kakinya terantuk batu hingga terjatuh. Sepatu yang ia pakai terlepas entah kemana dan anjing itu kini menggigit kedua kakinya. Untung bagi dia, gigi anjing-anjing itu hanya menggigit kaos kaki saja. Lepas pulalah kaos kakinya karena ditarik oleh mereka. Dengan sekuat tenaga ia berdiri dan berlari menghindari kejaran anjing-anjing itu. Tak diperdulikan rasa sakit yang diderita kaki karena terbentur batu dan duri yang diinjaknya sepanjang jalan.

Tiba di penginapan, baru dia sadar dengan luka di kakinya. Perih dan pedih ia obati dengan obat yang ada.

“Hehe… engkau memang ada ya Allah dan engkau berikan bonusnya pula,” gumamnya sambil tersenyum kecut.

Hari kepulangan tiba, muka si Fulan tampak sedih, ada rasa enggan untuk pulang. Hal ini tidak luput dari perhatian ayahnya.

“Kamu berangkat ke sini dengan muka muram dan seperti enggan untuk ikut. Lalu sekarang kenapa wajah kamu sedih dan seperti enggan pula. Bukankah seharusnya wajah kamu cerah dan semangat untuk pulang?” tanya ayahnya sambil tersenyum.

“Iyah ayah. Waktu aku mau berangkat, wajahku begitu karena urusanku dengan Allah dan sekarang
ketika mau pulang wajahku begini karena urusan dengan Allah pula,” jawab si Fulan sambil tersenyum.

“Dan luka kaki itu pasti hadiah dari Allah yah,” kata kyai Mahfud sambil tersenyum meledek seperti tau apa yang telah terjadi.

“Iyah kyai,” jawab si Fulan tersenyum malu.

Akhirnya mereka pulang ke tanah air. Si Fulan berjalan tertatih-tatih dengan tumitnya keluar dari penginapan menuju kendaraan yang akan membawanya ke bandara.

Semenjak itu, si Fulan kembali ke jalan lurus. Ia mulai mendalami agama dengan sungguh-sungguh. Jika diakhir pekan dan hari libur kuliah ia mengunjungi pesantren kyai Mahfud untuk berguru ilmu agama kepadanya.

“Alhamdulillah,” lirih si Fulan setiap teringat pengalaman di Arab sana yang kini telah merubah hidupnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s