Terkait FPI, Bolehkah Ormas Merazia? Ini Jawabannya.

Biasanya dibulan ramadhan, FPI selalu menjadi sorotan masyarakat. Entah itu karena ketidaksetujuan atau keberpihakkan dari masing-masing pribadi terhadap aksi yang dilancarkan oleh FPI atau hanya ingin tahu apa saja yang dilakukan dan dimana mereka akan bergerak. Dibulan ini biasanya FPI gencar turun ke jalan mencoba untuk merazia atau membubarkan secara paksa hal-hal yang dianggap kemaksiatan.

Bagi orang yang katanya mengerti hukum, FPI salah, sudah tidak dapat diganggu gugat. Biarkan hukum yang mengatasi permasalahan tersebut!

Sedangkan untuk yang tidak percaya dengan hukum, orang-orang yang gemas dengan lemahnya hukum atau fihak yang mengedepankan; aksi nomor satu tidak hanya omong saja atau orang amar ma’ruf nahi munkar, pastinya aksi FPI adalah benar dan didukung.

Kebetulan di bulan ini ada terjadi insiden yang melibatkan FPI sehingga menimbulkan korban jiwa, hal ini membuat orang-orang yang tidak suka dengan FPI meradang. Bubarkan FPI katanya. Bagi orang yang mendukung FPI, hukum orang FPI yang melanggar bukan bubarkan FPInya. Akhirnya banyak debat diadakan dengan topik menyangkut FPI; topiknya adalah apakah ormas boleh merazia?

Begini saya kasih analogi menjawab pertanyaan ini:

Ada pencopet atau penjahat yang beraksi dan meresahkan di lingkungan kita.

Bagi yang mengerti hukum (pembenci FPI) pasti dibiarkan, mereka akan berkilah itu urusan hukum, biarkan polisi yang mengurusnya.

Tapi bagi pihak yang kedua yaitu yang proaktif (pendukung FPI), mereka pasti menangkap dan membawa penjahat itu ke pihak berwenang.

Sudah mengerti dengan analogi saya bukan?

Atau saya beri analogi lagi:

Seorang pemikir jika ditawari air teh atau kopi, mereka akan menimbang baik-buruknya terlebih dahulu, lebih berguna yang mana dan banyak pemikiran lagi sehingga proses air masuk ke tenggorokannya bisa lama waktunya. Tapi bagi seorang yang berpikir sederhana, apa yang dipikirnya saat itu maka itulah yang diputuskan sehingga cepat air minum itu masuk ke tenggorokannya baik teh ataupun kopi.

Sudah mengerti kemana arah pembicaraan ini bukan? Mengerti atau tidak mari kita lanjut.

Kemaksiatan adalah musuh bersama, masyarakat dan polisi. Tidak hanya tugas polisi saja. Sungguh rumit dan tidak cerdas jika semua hal kemaksiatan diserahkan kepada polisi.

Apakah mungkin polisi mempunyai personil dan dana yang mencukupi untuk selalu bergerak menindas kemaksiatan setiap harinya? Pasti ada prioritas utama mereka dalam bertindak sehari-harinya, tidak akan mungkin semua hal mereka sanggup atasi. Atau apakah kita bisa menjamin bahwa polisi bersih dari kolusi dengan pihak yang melakukan maksiat? Tidak bukan. Oleh karena itu masyarakat pun mesti bergerak dan proaktif tidak hanya menyerahkan semuanya kepada hukum!

Sekarang FPI proaktif, kenapa mereka yang harus dibubarkan hanya karena kesalahan mereka dalam caranya untuk membantu masyarakat dan polisi untuk memerangi maksiat?

Seharusnya, bukankah mereka itu perlu dibina dan diarahkan serta dirangkul agar FPI atau ormas-ormas yang proaktif tidak melanggar hukum sehingga FPI berdiri dengan cerdas dan masyarakat menjadi senang serta tenang?

Jika semua orang berbicara serahkan urusan ini pada polisi; kami juga beragama dan tidak menyukai kemaksiatan tanpa aksi nyata sedikitpun; atau biar kami berjuang di dewan rakyat untuk urusan ini dan perkataan-perkataan lainnya yang belum tentu ada realisasinya, sungguh kasihan polisi di negeri ini, mereka menjadi superhero padahal superhero pun tidaklah super. Batman, Superman atau Spiderman selalu beraksi di negeri orang sana tidak pernah mampir ke negeri ini, pastikan kita mengerti hal itu!

Baiklah, misalnya FPI atau ormas yang proaktif ini harus dibubarkan dengan pertimbangan a sampai z, pertanyaanya adalah ; apakah rezim pemerintahan mau tegas untuk memberantas kemaksiatan dan menjamin keinginan masyarakat muslim untuk melaksanakan kenyamanan beragamanya? Mesti diingat, sampai sekarang masyarakat muslim tidak pernah dapat menggunakan haknya untuk menggunakan hukum islamnya di negeri ini, mereka masih menggunakan hukum non muslim dan itu sudah berjalan sejak dari zaman kemerdekaan! (ingin sekali saya bertanya kepada orang-orang yang berkata “kami mengerti hukum biar berjuang di dewan”, mana buktinya ucapan itu?)

Misalnya jawaban untuk hal tersebut; pemerintahan saat ini belum bisa tegas dan sanggup mengayomi haknya warga muslim, maka suatu kesalahan besar bagi pemerintah untuk membubarkan atau mengebiri dan membatasi gerakan ormas-ormas proaktif seperti FPI ini!

Terakhir, bolehkah ormas merazia? Jawabannya; seperti masyarakat yang diperbolehkan untuk proaktif siskamling, maka razia ormas tegas saya katakan BOLEH. Tegasnya saya seperti tegasnya Ratna Sarumpaet yang minta FPI dibubarkan. Bolehkah ormas melakukan anarkis, TIDAK. Haruskah anggota ormas dihukum jika melakukan kesalahan HARUS.

2 responses to “Terkait FPI, Bolehkah Ormas Merazia? Ini Jawabannya.

  1. Kalo anda bicara hukum ga bisa pake analogi mas.yang ada nanti multi tafsir

    • Menurut saya, hukum pun penuh dengan analogi dan asumsi-asumsi. Contoh, kasus narkoba; dengan kasus yang sama bisa menghasilkan putusan hukum berbeda. Baik itu bentuk hukumannya, maupun cara pandang hakimnya. Di PN, PT dan MA bisa berbeda-beda putusannya.
      Bukan begitu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s