Romansa Diakhir Ramadhan

Ditulis oleh : Bayu Segara

Sepi… Entah pada kemana semua orang. Ingin aku berkata seperti itu. Namun, tidak bisa. Karena aku tahu, orang-orang yang menjadi tetangga kos sedang pulang kampung. Mereka hendak merayakan lebaran di kampungnya masing-masing.

Ingin kukatakan entah, seolah-olah bahwa aku tidak tahu keberadaan mereka. Berharap bahwa mereka tiba-tiba ada, menyapa, dan menemani kesendirianku saat ini. Namun, ini hanyalah khayalan, hal itu tak mungkin. Kini mereka puluhan bahkan ratusan kilo keberadaannya.

Jam menunjukkan pukul satu pagi. Hening. Tak ada suara tangisan anak kecil yang biasanya sesekali terdengar dari tetangga rumah. Suasana yang membuat hati ini semakin pedih.

Masih kuingat wajah mereka kemarin. Si muka-muka bahagia. Hendak pulang kampung bertemu sanak saudara katanya. Kerinduan di dada seakan membayang di wajah mereka. Tak ada kulihat kerisauan, ketakutan atau kekhawatiran bahwa mereka hendak melakukan perjalanan jauh. Yang kulihat hanyalah harapan dan tawa kebahagiaan.

Sialan kaliaaaan… Tidakkah kalian ingin berganti peran denganku. Biarlah aku yang pulang. Biarlah kan kutempuh perjalanan jauh itu meski ribuan kilometer adanya agar bisa bertemu ibu, bapak dan saudara-saudaraku. Biarlah letih, penat dan lelah mendera tubuh ini, tak akan ada sebersit dalam pikiran bahwa perjalanan itu akan melelahkan. Hanyalah keinginan itu yang selalu datang menjelang berakhirnya ramadhan.

Setengah dua pagi. Bintang-bintang tidak ada di langit sana apalagi rembulan yang sudah tua. Hanya asap yang menutup langit memantulkan gemerlap kota menembus penglihatan mata ini. Bosan. Melihat televisi sebentar, keluar kamar, beberapa kali kulakukan hal itu. Huh…

Akhirnya sesuatu merasuk pikiranku. Televisi cepat-cepat kumatikan. Jaket, helm dan sepatu tak lama sudah menempel di tubuh ini. Lampu kamar kumatikan, pintu kukunci dengan rapih. Lima menit kemudian tubuh ini sudah menyusur jalanan dengan motorku.

Lengang. Hanya sesekali kulihat ada kendaraan melintas. Lewat Ahmad Yani kubelokkan laju motor ke kanan menuju Matraman. Sepi juga. Hanya di pasar dekat fly over terlihat keramaian. Hmmm… Walau aku kesepian, tak suka jika mesti bergabung dengan keramaian ini. Hanya uang atau hanya barang yang ada diantara mata-mata mereka. Tak ada pandangan kasih yang tulus yang kubutuhkan saat ini.

Melewati Menteng yang redup kini Kuningan yang kosong berada di depan mataku setelah lewat Cikini. Hahaha ini dia….batinku. Kutarik gas sekuatnya, tak lama kemudian motorku melesat membelah angin dalam kecepatan tinggi. Tak ada rasa takut terbersit yang jika hari-hari biasa menyelimuti pikiran melihat kendaraan yang padat.

Tak menunggu waktu lama, Kuningan telah berakhir. Kubelokkan motor ini menuju Sudirman. Seperti tadi, motor kuajak berlari terburu-buru. Spidometer menunjukkan angka di atas seratus duapuluh. Tak perduli, tangan ini terus menahan gas.

Motor hanya berkurang kecepatannya ketika masuk Menteng namun ketika menjelang Senen kembali lagi tuas gas tertahan di kecepatan tinggi. Belok kiri menuju Kemayoran. Lebih parah lagi ketika tiba di jalan bekas bandara yang lebar, tidak ada sedikitpun gas tersisa. Yang tersisa hanyalah siuran angin dan asap knalpot di belakang.

Masuk Ancol. Tak lama kemudian tubuh ini sudah berhadapan dengan laut. Rokok mengepul di mulut ini mencoba mengusir udara dingin yang datang silih berganti.

Kulihat dikejauhan kerlap-kerlip cahaya lampu yang menerangi laut sambil menerawang. Angin laut dan deburan ombak seakan mendorong lamunan.

Yani, Reni, Mayang, Putri dan wanita-wanita yang pernah ada di sekelilingku datang merasuki pikiran. Mereka seakan sedang membuka buku catatan hidup ini.

“Aku cinta pertamamu, masih ingat kan?”

“Maafkan aku meninggalkanmu.”

“Engkau hanya pelampiasan dendamku, maaf.”

“Aku butuh kepastian dan itu tidak kudapatkan darimu.”

Seakan mereka mengajak berbicara. Aah… Kenapa tak ada satupun diantara mereka yang abadi dalam kehidupanku. Selalu ada kisah yang berujung pada kesendirian diri saat ini.

Mereka memang indah dan cantik. Namun tak ada satupun yang membuatku bisa menahan agar mereka tidak lepas dari pelukan. Ada yang kurang dari mereka. Ketulusan dan kelembutan untuk jiwaku yang keras ini.

Usiaku beranjak matang, sudah saatnya mengarungi bahtera pernikahan. Namun tak berdaya hati ini untuk menerima pasrah terhadap pilihan yang ada. Aku tetap menginginkan dia.

Mungkin kekosongan jiwa ini yang memaksa. Terlahir di panti asuhan, tepatnya terbuang di sana. Tak mengenal rupa ibu dan bapak dari kecil. Yang kukenal lekat-lekat hanyalah ibu panti asuhan dan teman-teman senasibku. Hingga ada sebagian hati ini yang sepertinya sakit dan minta untuk disembuhkan. Obatnya adalah seorang wanita lembut dan keibuan disamping kecantikannya.

Aargh….. kapan? Kapan dia hadir. Dimana dan siapa? Masih lamakah aku menunggu?

Andai saja dia hadir lebih awal mungkin saat ini aku tak berada di sini. Pasti aku sedang tertidur bahagia di samping ia dalam rumah orang tuanya. Mungkin mudik mungkin tidak, tak masalah bagiku.

Lama bayang-bayang dan lamunan itu datang silih berganti hingga sayup-sayup suara orang membangunkan sahur terdengar dikejauhan.

Hmmm… Biarlah, disesali atau tidak aku tetap ada di sini. Aku hanya harus melebur kesakitan ini. Ya, mungkin aku harus kesana, gumam batinku.

Tak butuh waktu lama, motor kembali membelah jalanan, masih dengan kecepatan tinggi. Kira-kira setengah jam aku berhenti di sebuah pasar.

Semua makanan dan minuman yang terbersit enak di pikiran sudah terikat rapih di jok. Banyak sekali uang yang harus kukeluarkan sesuai dengan jumlah barang yang ada. Aku seperti orang yang sedang gila belanja. Biarlah… Sebentar lagi juga pengeluaranku akan balik lagi, lihat saja nanti.

Kuketuk pintu usang itu.
“Assalamualaikum,” ucapku.
“Waalaikum salam,” terdengar sahutan ramai dari dalam. Tak lama kemudian pintu terbuka. Satu wajah yang sangat kukenal kini berdiri di hadapanku.

“Aeeh… Randiiii… Apakabar anakku, ayo masuk-masuk. Kemana saja, kok tidak pernah datang sih, ibu kangen sama kamu,” cerocos ibu panti asuhan setengah berteriak sambil memegang tangan dan bahuku dengan hangat.

“Waduh ibu borongan ngomongnya, aku sampe bingung mau jawab yang mana dulu,” sahutku sambil masuk ke dalam diiringi ibu panti asuhan.

“Hehe… Sudah tidak usah dijawab, yang penting ibu senang kamu di sini. Kehadiran kamu yang terlihat sehat mengunjungi kita adalah tambahan kebahagiaan di sini. Ayo kita sahur bareng.”

Tiba di dalam, nampak anak-anak panti asuhan sudah berkumpul melingkari ruangan menghadap makanan yang menunya sederhana.

“Sebentar bu, saya lupa bawa sesuatu di motor,” pamitku. Tanpa menunggu jawaban aku bergegas keluar mengambil belanjaan di atas motor.

“Ini makanan serta kue untuk ibu dan anak-anak lebaran nanti,” ucapku sambil menurunkan barang di lantai.

“Horee… ” terdengar anak-anak berteriak kegirangan. Ada salah satu luka dalam hati yang langsung sembuh mendengar teriakan mereka ini.

“Aduh terimakasih anakku. Bilang apa anak-anak sama ka Randi?” ucap ibu panti sambil berpaling kepada anak-anak.

“Terimakasih ka Randiiii…..” jawab mereka berbarengan.

“Sama-sama,” balasku sambil tersenyum.

Hari itu aku tidak pulang ke kosan sampai maghrib tiba. Sibuk sekali aku membantu persiapan panti menyambut lebaran. Pulang ke kosan hanya sebentar mengambil pakaian setelah isya.

“Anakku, apakah kamu tidak berlebihan mengeluarkan uang yang begitu banyak untuk mereka,” tanya ibu panti ketika lebaran datang, saat itu pukul sepuluh malam. Kami ngobrol di ruang tamu ditemani satu orang pengurus sambil menonton televisi.

“Tidak bu, saya sangat senang dan ikhlas mengeluarkannya,” sahutku.

“Tapi, tidak seharusnya kamu begitu. Ibu ingin kamu juga bahagia. Suatu saat kamu akan menikah dan butuh biaya. Setidaknya setengah dari uang hari raya disisihkan untuk keperluan itu.”

“Ibu, tidak usah khawatir tentang hal itu, sayapun sudah memikirkannya. Dan perlu ibu tahu, uang itu kan uang hari raya, bukan uang pernikahan. Jadi ya mesti dihabiskan untuk hari raya… hehe,” candaku mencoba menepis kekhawatiran ibu panti.

“Hehe… Kamu bisa saja. Ya sudah kalau kamu sudah memikirkan hal itu, ibu hanya khawatir.”

Ibu panti tidak tahu bahwa aku tidak memikirkan biaya pernikahan itu, yang kupikirkan saat ini hanyalah bagaimana agar anak-anak yang sama nasibnya denganku tidak bersedih di saat lebaran ini.

Biarlah mereka lupa dengan keinginan bertemu dengan orangtuanya yang memang tidak ada. Biarlah baju baru yang kubelikan di pasar itu menutupi hati mereka untuk ingin mencium tangan ibu bapaknya sambil minta maaf. Biarlah tudung cantik itu menutupi mata gadis-gadis kecil panti dari air mata yang mengalir demi melihat anak-anak lain di luar panti yang berlari-lari bahagia bersama kakak dan adiknya yang mereka tidak punyai.

Dan biarlah uang itu keluar dari dompetku membawa luka yang tertutupi oleh kebahagiaan anak-anak panti yang mencium, memeluk dan bergelayut di tubuhku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s