Category Archives: Opini

Opini saya tentang suatu hal

Soal Macet & Banjir, Jokowi Dianggap Lebih Hebat dari Tuhan.

Kang Kardun adalah seorang perantau yang sukses di Jakarta. Usaha jongko bubur kacang ijo, mie rebus dan roti bakarnya maju pesat. Sudah dua puluh tahun dia bergelut dengan usaha tersebut. Kini, setelah merasakan pahit dan jatuh bangunnya usaha, ia merasakan manisnya kerja keras. Lima buah jongko dengan beberapa pegawai telah memberikan penghasilan yang lebih dari lumayan dibanding gajih seorang manajer sekalipun. Maka tak heran, ia mampu membeli sebuah rumah yang bagus di Jakarta sini untuk ditempati bersama keluarga selain rumahnya yang di kampung tempat ia mudik di waktu lebaran.

Siang itu, ia sedang bernyanyi-nyanyi di halaman rumah sambil menyalakan motornya.
“Darah muda, darahnya para remaja. ”
Wew romanisti ternyata dianya. Alias penggemar bang haji Rhoma. Treeet ah, petik melodinya kang Kardun. Ternyata kang Kardun prinsipnya sama dengan penulis. Dangdut No! Rhoma Irama Yes…hiks hiks hiks.

“Wew yang merasa muda…, gak malu liat uban udah nongol di kepala. Lagi seneng nih, kayaknya ada sesuatu.” Terdengar celetukan dari balik pagar yang membuat kang Kardun menengok ke arah sumber suara. Nampak seorang anak muda sedang tertawa memandangnya, tangan orang itu menggenggam jeruji pagar.

“Eeeh Ujang, sini.. sini masuk, kita ngopi.” Kang Kardun tersenyum kecil mendengar ledekan dari Ujang yang ternyata tetangga rumahnya sambil melambaikan tangan menyuruh masuk orang itu. Walau sudah menjadi orang kota, kang Kardun masih tidak lupa kebiasaannya di kampung yaitu menawarkan minum kepada tamu.

“Boleh… Boleh… Ada rokoknya ngga?” sahut Ujang sambil membukakan pintu pagar lalu melangkah masuk dan duduk di kursi yang tersedia di teras.

Kang Kardun mengikuti dari belakang, di depan pintu masuk ia berteriak ke dalam rumah.
“Ma… Pangdamelkeun (tolong buatkan) kopi dua, aya (ada) tamu.” Kemudian dia duduk di kursi setelah menyimpan bungkus rokok dan korek gas di atas meja. Ujang dengan senang mengambil sebatang rokok dan menyalakannya.

“Mangga (iya),” terdengar sahutan dari isterinya di dalam. Tak butuh lima menit, isterinya keluar sambil menenteng baki berisi gelas kopi dan makanan kecil. “Eh Ujang, kamana wae nembe katinggal?” tanya isteri kang Kardun sambil meletakan minuman dan makanan di meja.
*kemana aja baru kelihatan.

“Ada saja ceu, biasa… Kemarin-kemarin Poncol lagi rame. Kebetulan sekarang lagi sepi. Jadi libur dulu ah.”

“Syukur atuh kalo rame mah, sok dileueut (silahkan diminum).” Tanpa menunggu jawaban, isterinya kang Kardun kembali masuk ke dalam.

“Nuhun (makasih),” sahut Ujang.

“Gimana… Gimana… Ada urusan apa nih, tumben-tumbenan maen ke sini?” tanya kang Kardun dengan tatapan penasaran.

Ujang hanya senyam-senyum mendapat pertanyaan ini. “Nggak gimana..gimana sih kang. Cuma pengen maen aja.”

“Oooh… Kirain ada apa. Kebetulan atuh, mau nggak temenin saya ke dealer?”

“Kapan?”

“Sekarang?”

“Mang mo ke dealer apa?” tanya Ujang sambil melirik ke arah motor kang Kardun. Masih bagus, pikirnya.

“Dealer mobil Jang, mo ngambil mobil.”

Mendengar berita ini, wajah Ujang nampak berseri-seri. “Waah mau beli mobil euy. Alhamdulillah atuh punya sodara teh kebeli mobil, suatu saat sayah bisa ikut diajak jalan-jalan.”

“Tenaang, kalo masalah itu mah. Bisa kan?”

“Bisa…bisa…tapi saya mesti pulang dulu mau ganti baju.”

“Ya iya atuh. Masa pake celana pendek seperti itu, nanti diremehkan sama orang dealer.”

“Huuh kang, penampilan suka menipu,” timpal Ujang sambil menyeruput kopinya.

Selang beberapa menit kini mereka sedang dalam perjalanan menuju dealer mobil yang dituju oleh kang Kardun. Mereka menggunakan motor milik kang Kardun.

Ketika melintas jalanan langganan banjir, nampak air memenuhi jalan. Mereka pun terhadang banjir.

“Wah banjir Jang, bagaimana kalau kita dorong saja motornya yah biar bisa lewat trotoar kalo terlalu dalem airnya,” gerutu kang Kardun sambil nengok ke belakang minta pendapat Ujang.

“Hayo lah, abis mo gimana lagi,” sahut Ujang sambil turun duluan dari motor diikuti kang Kardun.

“Gimana nih Jokowi, kok masih banjir saja yah Jang,” ucap kang Kardun sambil mendorong motornya.

“Ah kang Kardun mah. Memangnya pak Jokowi teh lebih dari Tuhan sampai-sampai semuanya mesti bisa diselesaikan oleh beliau,” sahut Ujang senyum-senyum.

“Maksudnya gimana Jang?” tengok kang Kardun penasaran.

“Tuhan saja tidak mampu untuk menuntaskan banjir ini karena manusia di kota Jakarta semakin padat. Bangunan bertambah banyak. Tanah resapan air semakin berkurang. Sedangkan laut tempat menampung air dari sini begitu dekat dan tingginya hampir sama dengan daratan. Sampah-sampah yang berserakan karena dibuang sembarangan menyumbat saluran air sedangkan saluran air tertutup aspal bagaimana mau dibersihkan coba. Otomatis air tidak turun ke mana-mana. Ke tanah tidak, ke got tidak. Hasilnya ya banjir ini. Kalau kita bisa ngobrol dengan Tuhan dan mengeluh tentang banjir ini mungkin Dia akan bilang, kalian kan yang ingin banjir, kini ketika banjir datang kenapa kalian mengeluh. Sepertinya Aku tidak sanggup mengatasi banjir ini. Hari ini kuangkat banjir, besok kalian buang sampah lagi, bangun lagi, tutup saluran lagi, bikin banjir baru mana selesai-selesai coba.”

Ujang nyerocos dengan penuh semangat. Kang Kardun hanya ngangguk-ngangguk mengiyakan. “Bener juga yah Jang. Banjir tidak akan beres-beres kalau begini terus keadaan kita.”

“Huuh. Saat ini kang Jokowi hanya bisa berusaha meminimalisir banjir sesuai dengan yang dia mampu. Kalau tidak didukung oleh kita mah, ya jangan salahkan beliau kalo banjir datang lagi tiap tahun.”

“Bener tah Jang.”

Urusan dorong mendorong motor untungnya tak lama, karena dealer yang dituju tidak terlalu jauh. Mereka pun masuk ke dalam setelah memarkirkan motor di halaman. Kebetulan posisi dealer lebih tinggi dari jalan, hingga air tidak masuk ke dalam.

Mereka disambut ramah oleh sales. Disuguhi teh manis, yang semanis sales girlnya. Terlihat senyum cerah di wajah-wajah mereka. Sales tersenyum karena senang mobilnya terjual, terbayang target dan bonus yang bakal diterimanya. Kang Kardun senang, terbayang naik mobil bersama keluarga dan dikagumi orang. Ujang tersenyum, merasa bahagia karena kang Kardun bahagia!

Setelah cangcingcong, pulanglah mereka. Ternyata banjir kini telah surut. Hilang satu masalah datang masalah lain. Jalanan kini macet!

“Eleuh… Eleuh ini macet. Mana panjang begini. Kang Jokowi teh gimana yah, katanya mo ngatasin macet tapi kenyataannya mah masih macet juga,” keluh kang Kardun sambil menyelipkan motornya diantara mobil.

“Ah jangan ngeluh gituh atuh kang. Bukan salah Jokowi atuh. Kan barusan akang juga baru beli mobil baru,” tukas Ujang santai.

“Lah, apa hubungannya antara saya ngeluh kinerja Jokowi ngatasi macet dengan saya beli mobil baru?” tanya kang Kardun tidak mengerti.

“Ada atuh. Nih yah kang, jalanan Jakarta teh udah susah untuk diperlebar. Sedangkan tiap hari mobil dan motor dijual. Belum pernah kan tidak dengar mobil nggak kejual satu bijipun setiap harinya?”

“Belum.”

“Nah itu, mobil baru masuk terus tiap harinya. Sedangkan daya tampung jalan segituh-gituh aja. Pastinya macet terus. Kecuali, kita sadar. Mau naik angkutan umum. Satu mobil dipakai ramai-ramai atau satu kereta diisi ribuan orang. Bukan satu mobil dipakai seorang doang. Nah kalau mau sadar, insya Allah macet ini berkurang. Sekali lagi Jokowi hanya bisa meminimalisir, tanpa kesadaran kita mah, sia-sia saja. Misalnya nanti MRT ataupun angkutan massal lainnya diperbanyak tapi yang berminat sedikit ya percuma saja. Jadi pada dasarnya kalau kita terjebak macet, hanya satu sikap yang mesti kita lakukan. Yaitu nikmati saja. Karena kita sendiri yang ingin macet ini terjadi. Tuhanpun tidak akan mampu mengatasi macet jika kita tidak sadar diri apalagi Jokowi.”

“Eta si Ujang bener lagi. Terus gimana yah kalo kita ingin cepat-cepat terbebas dari macet dan banjir secara cepat menurut kamu?”

“Nah kalo yang ini Jokowi tidak akan mampu menjawab tapi saya bisa?”

“Gimana?” tanya kang Kardun penasaran.

“Akang pulang kampung. Biar usaha di Jakarta, tapi ngaturnya dari kampung saja. Mobil bawa pulang. Pasti akang tidak kena macet dan kena banjir karena kampung akang di sisi gunung bukan?”

“Haha…. Bisaan euy si Ujang ngasih solusinya. Bener juga yah. Kalo tidak mau macet ya jangan hidup di Jakarta intinya hahaha….”

“Sumuhun (iya) kang.”

Begitulah kisah kang Kardun dan si Ujang menyikapi macet dan banjir yang kini sedang menjadi sorotan di bawah kepemimpinan Jokowi.

Miris kita, mengharapkan Jokowi bersikap lebih hebat dari Tuhan. Padahal Tuhanpun dalam al-Qur’an bersabda “Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum jika kaum itu tidak mau merubah nasibnya”.

Kita ingin terbebas macet dan banjir. Namun dalam keseharian kita malah menciptakan macet dan banjir itu sendiri. Siapa yang bisa mengatasi hal yang mustahil ini. Kira-kira anda bisa? Kalau anda bisa, maka anda lebih hebat dari Tuhan? Tapi itu tidak mungkin!

Waktunya untuk nyanyi lagu Rhoma lagi. Berjuang… Berjuang…

Salam hangat.

Ternyata Setan Cantik Suka Sama Cowok Alim

Ditulis oleh Bayu Segara

Ada seorang setan wanita, sebut saja namanya sakor. Ia sangat cantik dan langsing. Wajah mulus, kulit putih dan halus, bibir meraaah banget, baju bagus-bagus dan dandanannya menawan hati. Makanya ia banyak disukai oleh setan-setan pria. Tak sedikit sms yang masuk ke handphonenya atau permintaan pertemanan di facebook yang membludak karena sangat memikat hati kecantikannya.

Namun dari sekian banyak setan pria yang mendekatinya tak sedikitpun ia tertarik.
Hal ini tentu membuat penasaran penulis untuk menyelidikinya. Penulispun mengirim sms untuk minta wawancara. Dan nasib baik berpihak kepada penulis, ia mau menyediakan waktu untuk hal itu. Kita sepakat untuk mengadakan pertemuan disebuah kuburan tua di tengah hutan, tempat yang ia sering dibilang oleh manusia menjadi penunggu kuburan itu.

Tiba dihari pertemuan, penulis degdegan dan sedikit gugup. Biar bagaimanapun penulis adalah lelaki normal, jadi jika lihat yang cantik-cantik, terus terang… pengeeeen.

Celana jeans dan sepatu kets tinggi dipadu dengan kaos serta jas item yang pas di badan membuat penulis tambah ganteng apalagi baru cukur rambut, pastinya yang cantik bakal kesemsem. Memang penulis ini pede abisss hahaha.

Tiba di kuburan, ow ow ow, gak salah emang, dia bener-bener cantik. Saat itu perasaan lumayan grogi. Namun gengsi dong disamain sama cewek yang histeris sambil nangis-nangis dengan tangan melambai-lambai mencoba meraih ketika lihat Ariel Noah, saya pura-pura biasa saja. Padahal kalo liat Ariel, eke juga pengen megaaang ciin, cucok abis, muna dikitlah hehe.

Tiba di hadapannya, saya tersenyum sambil mengulurkan tangan mengajak salaman.
“Hai, apakabar, sehat kan?” sapa saya.

“Pastinya dunk. Kalo ga sehat, gimana mau godain manusia coba, benerkan?” jawabnya sambil menerima uluran tangan saya. Dingin ternyata, kirain hangat, ilfil jadinya.

“Bener-bener. Kalo ga selalu sehat, mana bisa godain manusia selamanya, hiks hiks. Siap wawancaranya?”

“Siap, mulai darimana nih?” sahut setan itu percaya diri.

“Baiklah. Kita mulai dari wajah, kenapa wajah anda bisa cantik?”

“Wajah saya bisa cantik dikarenakan perawatan dong. Cewek yang selalu saya goda dia senangnya beli produk perawatan kecantikan. Lihat iklan ini atau iklan itu, saya bisikin “beli, bagus tau” padahal di meja riasnya sudah banyak alat kecantikan yang tidak terpakai. Hingga akhirnya ia tergoda untuk membelinya, tau tidak cerita selanjutnya?” tanyanya sambil menatap saya dengan seulas senyum di bibirnya.

“Tidak, gimana tuh cerita selanjutnya?” jawab saya sambil balik bertanya.

“Karena tidak terpakai, maka sayalah yang memakainya. Mubazir dong, kalau ga dipake, udah beli mahal-mahal mending dimanfaatin. Bener nggak?”

“Bener-bener.”

“Apalagi pertanyaan selanjutnya?”

“Mengenai tubuh anda yang langsing, gimana ceritanya?”

“Cewek yang saya goda itu kalau belanja di pasar atau di pusat perbelanjaan senangnya ngiter. Satu toko ke toko yang lain ia singgahi mencari harga yang pas menurut kantongnya. Misal udah beres cari-carinya, tau-tau harga yang pas itu letaknya di tengah-tengah, pasti ia balik lagi. Walau saya bingung, gak pegel gituh kakinya, terpaksa saya ikuti dengan ngedumel. Cukup memakan tenaga bukan, hingga membuat saya berkeringat. Dan yang parahnya kalau makan, dia makannya sedikit, diet ketat katanya. Oleh karena hal tersebut, saya jadi langsing seperti anda lihat saat ini.”

“Wow, menarik juga.”

“Pastinya dong, ada lagi?”

“Ada. Anda ini kan cantik dan langsing, kenapa masih jomblo?”

“Hhh… ini dia masalahnya. Selera saya sama setan cowok yang langsing, tidak pada yang gendut. Namun yang ada sekarang ini, setan cowok banyak yang gendut-gendut hingga membuat saya malas berurusan dengan cowok,” keluhnya sambil menghembuskan nafas seakan ingin melepas beban.

“Loh, emangnya kenapa setan cowok pada gemuk-gemuk?” tanya saya penasaran.

“Begini. Cowok kan jarang tuh belanja-belanja. Mereka biasanya hanya berurusan dengan perut atau urusan di bawahnya, anda pasti tahulah yang bawah perut itu apa, gak usah dijelasin juga pasti udah faham,” selorohnya sambil melihat ke arah celana saya, membuat saya tertawa kecil.
“Urusan dengan penampilan menjadi urutan yang ke berapa gituh. Makanya ketika mereka mendampingi manusia, secara otomatis urusan perut merekalah yang selalu terisi. Kalau urusan perut terisi terus, maka tak heran setan cowok gemuk-gemuk,” lanjutnya.

“Oh, kalau setan cowok yang kurus gimana ceritanya?”

“Nah ini yang suka kasihan sama mereka,” ucap dia dengan wajah menampakkan rasa iba.

“Kenapa memang kasihan?” kejar saya.

“Solidaritas sesama setan dong ah hiks hiks.”

“Wakakak kirain manusia doang yang punya solidaritas.”

“Hush, kalau urusan solidaritas, bangsa kami unggul jauh dong. Kalian disuruh ke masjid untuk sholat berjamaah, yang dateng berapa coba, apalagi kalo sholat subuh, kakek-kakek doaaaaang yang nongol, mana kita takuuuttt. Mereka kalah jumlah. Tapi kalau nonton bola atau konser musik, anjrit saya paling suka sama mereka, bayarpun mereka bela-belain. Tak perduli hujan atau panas, luar biasa sekali semangat mereka.”

“Haha… emang mantab bangsa anda ini bisa menggiring bangsa kami mengikuti kemauan bangsa anda.”

“Itulah, semua terjadi karena solidaritas. Kami ramai-ramai menggoda bangsa anda. Jika satu ide bangsa kami ditolak, maka yang lain membisikkan ide lain. Dari kepala, dada, perut kami hembus-hembuskan godaan kami hingga berhasil.”

“Wew mantab kerjasamanya, terus mengenai setan cowok yang kurus?”

“Oh iyah lupa, kita malah membahas masalah solidaritas. Kalau setan kurus, biasanya dia mendapatkan korbannya manusia yang alim. Si alim ini kalau mau apa-apa selalu ngadu.”

“Ngadu sama siapa?”

“Ya sama Tuhan kitalah.”

“Kita? bukannya tuhan itu untuk manusia saja.”

“Hiks hiks emang yang diciptakan oleh Tuhan situ doang. Kita jugalah, emang brojol sendiri gituh. Malahan kita lebih tahu tentang Tuhan dibanding kalian, karena kami dulu sangat dekat dengan-Nya.”

“Jadi, setan kurus itu jarang dapat makan karena orang alim selalu mengadu kepada Tuhan.”

“Begitulah, mana bisa gemuk coba. Dan kamu pasti tahu, orang alim di dunia ini sedikit jumlahnya. Tentunya hal ini berbanding lurus dengan keberadaan setan kurus. Makanya sampai saat ini saya jomblo terus hiks hiks.” ucapnya sambil nyengir kuda.

“Wew baru tahu saya, begitu toh ceritanya.”

“Yup, ada lagi yang mo ditanyakan?”

“Tidak, cukup sekian saja wawancaranya.”

“Baiklah kalau begitu, saya boleh titip pesan tidak?”

“Apa itu?”

“Kalau pembaca tulisan anda orang alim, bilang sama dia “i love you full”, tapi kalau sebaliknya, bilangin “dasar semprul, bisa-bisa masa jomblo saya tambah panjang tau” hiks hiks hiks.”

“Wek wek wek.. baik-baik nanti saya sampaikan.”

“Makasih yah.”

“Sama-sama.”

Akhirnya kamipun berpisah.
Nah gimana pembaca, anda berada di posisi mana tuh untuk jawaban dari pesan si setan tersebut hiks hiks.

Rossa dan Iklan Rambutnya

Setiap orang yang ingin menjadi lebih baik biasanya akan selalu mendapat tantangan yang berat. Hal ini sepertinya sudah menjadi hukum alam dari zaman ke zaman. Tantangan itu bisa dari keluarga, lingkungan dan yang paling berat adalah yang datang dari dirinya sendiri. Oleh karena itu, orang yang ingin menjadi lebih baik jika tidak didukung oleh orang-orang terdekat dan semangat yang menggebu di dada biasanya akan berada di suatu tempat. Tempat itu bernama kegagalan.

Kita teringat pada satu kisah pendosa yang ingin bertobat setelah membunuh 99 orang. Ia mendatangi seorang yang dianggap alim dan bisa menuntunnya untuk mencari jalan taubat. Namun lacur, si alim ini malah menghalanginya dari pertaubatan dengan mengatakan bahwa dosanya tidak mungkin dimaafkan oleh Tuhan karena begitu beratnya dosa yang ia lakukan. Kesal dengan keadaan itu, ia bunuh si alim ini, maka genaplah 100 orang yang ia bunuh.

Namun selepas itu, ia masih tetap mencari jalan untuk bertaubat dengan berusaha mencari seorang alim lainnya hingga ketika di tengah jalan umurnya tidak sampai, ia meninggal. Diceritakan bahwa orang itu diterima pertaubatannya oleh Tuhan secara dramatis. Dimana secara hitungan alam, jarak dari tempat terakhir ia membunuh ke tempat si alim yang ia cari lebih dekat ke tempat ia membunuh, teori mengatakan seharusnya si pembunuh ini termasuk ke dalam orang-orang yang merugi. Namun Tuhan menunjukkan sifat maha kasih sayangnya, Ia memanipulasi hitungan antara dua malaikat yang berseteru karena masing-masing malaikat merasa berhak untuk membawa ruh si mayat. Seharusnya malaikat keburukanlah yang berhak membawa ruh si pendosa ini, namun Tuhan merubah jarak itu menjadi lebih dekat ke tempat si alim yang dituju. Sehingga si malaikat kebaikanlah yang akhirnya dapat membawa ruh si pendosa.

Dalam kisah ini ada tantangan; lingkungan, yang diwakili oleh sosok alim yang mempunyai pemahaman agama kurang mendalam. Namun karena tekad yang kuat dalam dirinya tantangan itu dapat ditaklukan, ia tetap berusaha.

Rossa?
Iklan produk rambut adalah tantangannya untuk berjilbab saat ini. Dimana biasanya seseorang dibayar untuk membintangi sebuah iklan itu durasinya minimal dalam jangka waktu setahun, waktu yang sangat lama. Jadi Rossa akan tidak memakai jilbab dalam waktu setahun. Beres iklan produk rambut, apalagi tantangan selanjutnya?
Ah cuma ini saja kok, nanti saya akan menolak produk lainnya dan memakai jilbabnya. Yakiiin? Rossa adalah artis terkenal, banyak yang mengatakan seorang diva dan sangat valuable untuk sebuah produk loh.

Tantangan-tantangan lainnya pasti akan selalu datang menggoda dan merintangi entah itu jadi bintang iklan atau hal-hal yang mengharuskan dia tidak memakai jilbab. Itu juga kalau masih ada umur, kalau tidak, bagaimana?
Ayo Rossa dijilbab itu jangan ditunda-tunda lagi dong ah.

Saya di sini bisa dan mau menulis nasehat ini karena saya lelaki dimana lelaki tidak harus berjilbab. Kalau saya wanita, tidak berjilbab pula, pastinya saya tidak mau menulis tulisan ini, malu. Apalagi kalau saya sebagai lelaki namun memakai jilbab, lebih malu lagi pastinya …. ngga cucoook bo.

Rok Mini, Anda Tenang, Saya Tegang

Ditulis oleh : Bayu Segara

Rok Mini,
Terus terang saja yah, saya tidak munafik atau pura-pura tidak suka kalau ada wanita memakai rok mini. Saya katakan di sini, saya ini lelaki normal. Dimana seorang lelaki normal pasti akan tertarik melihat mulusnya paha wanita yang memakai rok mini. Dan saya termasuk dalam salah satu diantara deretan lelaki normal itu. Bahkan saya lebih normal lagi, saya suka sesuatu yang ada dibalik rok mini itu. Wkwkwkwk…

Namun, maaf, untuk kepantasan umum dan larangan agama yang saya anut, saya sangat membenci wanita yang suka memakai rok mini tidak pada tempatnya! Dan saya mendukung jika ada orang yang mempermasalahkan hal ini.

Kenapa?

Begini, saya kasih contoh yah. Suatu waktu ada wanita memakai rok mini anteng-anteng saja duduk di depan memperlihatkan mulusnya paha dia. Kitanya yang blingsatan, yang tadinya pendulum saya anteng-anteng saja, tiba-tiba dia menjadi tegang! Yang tadinya kita damai sendirian tiba-tiba dipanggil oleh temen untuk melihat pemandangan bagus ini. Yang tadinya mata anteng, jadi ingin jelalatan terus ke arah sana. Yang tadinya fokus, jadi menghayal kemana-mana.

Sedangkan wanita yang memakai rok mini tersebut tidak menyadari apa yang telah terjadi dengan kita!

Pasti ada yang akan bilang begini mengomentari cerita di atas.

“Ah lelakinya aja yang mata keranjang”
“Ah lelakinya yang kurang iman”
“Pertebal iman lelaki tuh”

Kalau tidak ada agama, pengen rasanya saya menggetok kepala orang yang ngomong kayak begitu.

Woy dengerin yah,…
Pendulum saya otomatis tegang ketika melihat paha mulus atau sesuatu yang membuat terangsang…. ini alami, tidak bisa diredam oleh Iman ataupun sejenisnya!

Nah, karena ini alamiah atau naluriah maka sebetulnya untuk masalah rok mini, bukan lelakilah yang harus mempertebal iman! Tetapi wanitalah yang harus menjaga diri agar lelaki tidak sampai terangsang. Caranya, dengan tidak memakai rok mini di depan umum atau lelaki yang bukan muhrimnya.

Iman, kalau ngomongin masalah ini pasti ribet. Karena yang namanya iman, pagi-pagi bisa kuat, entahlah kalo siang, sore atau malam hari. Tak ada yang sanggup untuk konsisten terus dengan keimanannya. Kalau di dunia ini, ada yang sanggup konsisten dengan keimanannya, saya yakin dunia harusnya sudah kiamat.

Kenapa saya katakan begitu? Karena pada dasarnya manusia itu labil. Ini sudah bawaan alias sudah kodratnya. Dimana di satu sisi diberikan nurani dan disatu sisi diberikan nafsu. Dua kubu yang berlawanan ini tiap harinya selalu berperang dan terus terjadi hingga ajal menjemput.

Oleh karena iman itu selalu turun naik, maka ketika iman sedang turun dan mendapati rok mini… olala…. bisa saja terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Dan yang paling ditakutkan adalah keinginan akan isi rok mini tersebut.

Kalau dia sudah sudah punya isteri, tinggal minta sama isterinya. Lah kalau dia belum punya isteri?

Jepitin pintu?
Sayang ah, cuman satu-satunya, ntar gepeng lagih.

Onani?
Mending kalau cukup dengan itu. Kalau pengen yang lebih, gimana coba?

Jajan?
Bisa jadi….. dan ini yang ditakutin….

Jangan salahkan wanita terus dong…
Terus harus menyalahkan siapa? Lelaki?

Nih yah, kalo ada lelaki tiba-tiba pendulumnya tegang melihat wanita yang memakai kerudung yang tertutup dengan rapih, sayalah yang pertama dan ada di barisan depan menyalahkan lelaki itu. Malahan kalau boleh, saya akan getok kepalanya. Karena pasti yang dipikiran lelaki itu seks melulu.

Tapi, kalau ada yang lelaki tiba-tiba pendulumnya tegang atau terkejut melihat mulusnya paha wanita, maka saya akan angkat jempol untuknya. Selamat, kejantanan anda masih normal, tidak perlu berobat ke dokter atau dukun biar bisa tegang.

Mari, kepada wanita yang suka memakai rok mini. Toloong yah, jangan membangunkan macan dari tidurnya. Jangan membuat lelaki ketar-ketir melawan nafsunya.

Situ yang tenang, kita yang tegang!!! Kan gak lucu. Coba kita sama-sama tegang, kan seru………… wkwkwkwkwkkkkkkk

Nak, Kamu Telah Menjatuhkan Harga diri Mama

Oleh : Bayu Segara

“Mamah tahu nak, kamu ingin dibelikan HP, namun jangan kamu jatuhkan harga diri mamah begitu. Tidak tahukah kamu, mamahmu ini dikantor ditakuti dan disegani. Karena selain sebagai manajer, mamah ini juga adalah atasan yang galak. Hal itu mama lakukan, agar anak buah mamah tidak mengusik harga diri mamah. Sekarang kamu sudah menjatuhkan harga diri mamah. Dengan membandingkan mama teman kamu dengan mamah. Seakan mamah adalah mamah yang paling jahat di dunia ini. Cuman kamu yang bisa begitu nak.”

*****

“Mah, belikan aku HP yah”, ucapmu malam itu.

“Nggak. Mama tidak akan membelikanmu HP”, ucapku tegas.

“Ayo dong mah, temenku punya, masa aku ngga”, kamu merajuk.

“Kalo mamah, bilang nggak. Ya nggak. Sudah tidur sana, mamah pusing. Gak tahu kalo mama baru pulang kerja, capek tahu. Kamu enak di rumah, mama banting tulang. Buat biayain kamu sekolah”

“Tapi mah…”

“Gak ada tapi-tapian. Kamu gak denger perkataan mamah”, bentakku sambil melotot.

Sambil menunduk ketakutan, kamu pergi meninggalkanku. Meninggalkan segores rasa penyesalan di hati mama.

Dan esoknya, ketika mamahmu baru pulang kerja. Kamu datang mendekat. Merangkul dan bergelayut di tangan mamah.

“Mah, capek yah”, ucapmu tulus.

“Iyah”, jawabku pendek.

“Aku pijitin yah, Mah..”

“Ya udah”

Tangan kecilmu memijat tanganku. Walau terasa seperti sentuhan saja. Namun mamah tidak protes. Karena mamah tahu, bahwa kamu ingin menunjukkan kasih sayang.

“Mah…”

“Yah, ada apa sayang?”

“Temenku punya gambar bagus loh di HPnya”

“Oh yah?”, aku pura-pura tidak tahu maksudmu.

“Iyah Mah. Katanya, gambar itu dia yang motret sendiri loh”, jawabmu semangat.

“Lalu ?”

“Gak apa-apa sih mah. Cuman katanya HP itu pemberian mamanya. Mama dia baek yah, Mah”, ucapmu menohokku.

“Ya udah, mama belikan kamu HP. Biar kamu bisa seperti temenmu itu”, ucapku.

Mamah tahu nak, kamu ingin dibelikan HP, namun jangan kamu jatuhkan harga diri mamah begitu. Tidak tahukah kamu, mamahmu ini dikantor ditakuti dan disegani. Karena selain sebagai manajer, mamah ini juga adalah atasan yang galak. Hal itu mama lakukan, agar anak buah mamah tidak mengusik harga diri mamah. Sekarang kamu sudah menjatuhkan harga diri mamah. Dengan membandingkan mama teman kamu dengan mamah. Seakan mamah adalah mamah yang paling jahat di dunia ini. Cuman kamu yang bisa begitu nak.

“Bener mah?” tanyamu. Matamu berbinar-binar walau menyiratkan keraguan.

“Bener”

“Mamah, adalah mama yang paling baek di dunia deh”, ucapmu. Sambil kau cium pipiku, mencairkan kebekuan wajah mamah.

“Iyah. Besok minggu kita ke toko HP”, ucap mamah meyakinkanmu.

“Cihuy”. Sambil bernyanyi, kamu berlari ke luar. Mamah tahu kamu pergi ke luar untuk menemui temenmu. Dan bakal cerita kalau mamamu akan membelikan HP. Dan mama juga tahu, kamu akan memuji mama setinggi langit di depan teman-teman kamu.

Nak, sikapmu mengingatkan mamah sama kakekmu. Beliau sama keras dan galaknya seperti mamah. Namun segala kekerasan dan kegalakan kakekmu akan luruh oleh tangisan mamah.

Apa mama kena hukum karma, nak?

I, Scavengers And Hookers

By : Bayu Segara

That night you stood there, lined up with other women. No makeup look on your innocent face. Ah, where I’m interested in you, though my libido have to the fontanel. I passed you and you also seemed indifferent to my existence.

I stopped my bike next to a sweet woman who wore makeup so thick with clothes that stimulate lust.

“How much, Dear?” I asked when it was in front of her.

“300, short time”, she replied with a sweet smile.

“Wow, so overpriced, how about 200?”, my bargaining.

“No, search the other”, she said a little sharply, making her desire to be extinguished. Go on these footsteps in middle-aged woman who was sitting at the bus stop at the other end.

“Go wild Bro?”, Yet nothing she has offered.

“How?” I asked curtly.

“Just 300 Bro”

“Can’t be less?”

“Market for that much”

“200, how?”

“Can’t”

The answer makes my feet move to the other women. And it turns out they’ve got the same answer, to make me give up. I turn my body into the place had been parked motorcycle. There I saw innocent woman was still sitting on the sidewalk.

“Sis, how much income you last night?”, I said while standing in front of her.

“Not necessarily Bro, sometimes 10 thousand. If more fortunate get to 20 thousand”, she replied. Making I moved against you, O women of the night.

“I give you money, 200 thousand, interesting?”

“If You want to give, yes I accept”

“But there are conditions”

“What are the conditions Bro?”

“You must serve my willingness for 10 days”

“If able, I will obey, if not, I will reject it. What is your willingness?”

“Sis, you not go out and stand there for 10 days. Think of this money in lieu of income that long”

“Really?”

“Yes”

“Is that your willingness to me?”

“Just that”

“Did not carp are looking for an outlet where women as lust?”

“Yeah right”

“Then why the money was you offer to me?”

“Because you are not being offered to me”

“Is it because I am not beautiful?”

“Yeah, you less beautiful”

“Am I not attractive”

“Yeah, you unattractive”

“And if that causes you give me this money?”

“You are not beauty and vapidity which made me give the money”

“Why is that Bro?”

“Because if you are interesting, your position may not in front of me again. Maybe now you was in discotheques, stately home or in a luxury car ”

“Are You insulting?”

“I was more despicable than you, why could say if I’m insulted you”

“How you mean”

“I’m now looking for an outlet lust, while you are looking for a bite of rice”

“Then”

“I do not care anymore with my stomach is hungry because I was already full. Until I was looking for the fun of the stuffed my stomach. If my stomach was hungry and no money to buy food, where can I have fun like you doing right now, coming out at midnight for a bite of rice ”

“What the other considerations that makes you want to give that money to me?”

“I’m amazed at your struggle. While other women are asleep in her soft bed, you are willing to stand up and walk out to reach your sustenance. While other women spree with the money not from sweat. You spend a sweat for the sake of convenience ”

“Are you give this money because less money to hire other women”

“No, indeed I intend to give it to you. You see this “, I said, taking out wallet from pocket and showed it to her.

“In my wallet there is two million”

“I believe You”

“How, able to follow my wishes?”

“Yes, Bro”

“Here the money”, I said, handing her money. Looks so your eyes filled with tears when she received the money.

“I go home than, Bro. Thank you for your kindness “, she said, taking a sack that was lying on the side near the trash can. The inclusion of iron hook who had been his grasp into the sack. While she use too shabby hat, leave me alone.

“You are welcome”, I said, seeing her walk away in the darkness of night.

***** *****

The next day I went back again to it, does not seem you were there. I see around, do not appear too women of yesterday evening. Until I tried to wait for their appearance on a bike saddle. But none of their nose that appears to midnight. Whether they’re on vacation, I do not know.

Seeing this situation, make me laugh. Apparently I’m a whore too, sitting here waiting for them to vent my soul. While they are the whore of life, standing there because her stomach must be filled by the rice. While the rice can be bought when she had sold her body in lust whore like me. They become prostitutes for the necessities of life, I’m whoring for the needs of lust. Do not know who’s better, me or her, I do not know.

Kiat Sukses Bob Sadino [Wajib Dibaca]

Oleh : Bayu Segara

Pagi itu Om Bob datang ke gedung tempat seminar. Beliau memakai celana jeans pendek, yang bawahnya kayak habis digunting. Memakai kemeja yang digulung lengannya, serta sepatu tanpa kaos kaki. Saat itu ane berpikiran, nih kakek, kaya tapi nyentrik.

Om Bob, walau udah tua, terlihat dari uban yang memenuhi kepala serta kumisnya. Namun gaul, ga kayak kakek-kakek seumuran dia. Datang-datang, photo-photo ama penggemarnya, ketawa-ketiwi. Ah pokoknya mah familieur!! Jarang loh milyarder kayak dia.

Beliau datang ke gedung tersebut sebagai pembicara tamu. Saya kebetulan jadi saksi mata ketika beliau membagikan kiat-kiatnya menjadi sukses.

Ada beberapa poin yang saya tangkap dari pembicaraan beliau, karena menurut saya, masuk diakal dan agak lucu.

Prinsip Ekonomi

Kalau kata sarjana ekonomi. Dengan modal sekecil-kecilnya, mesti mendapatkan untung sebesar-besarnya.

Menurut Om Bob, itu adalah kebodohan. Apa alasannya?

Kalau mau dapet ikan hiu, masa umpannya pake ikan teri? Sampai matipun gak bakal dapet. Kalau mau dapat ikan hiu, umpannya minimal ikan tongkol. Artinya kalau mau untung besar, ya modalnya pun harus besar.

Hehe masuk akal juga yah Om.

Lakukan Dulu, Hitung-Hitungan Belakangan

Banyak orang-orang lulusan kuliahan yang tidak jadi membuka usaha. Kenapa? Karena terlalu banyak perhitungan dan pertimbangan. Belum-belum juga usaha, udah menghitung laba, kerugian dan macam-macam. Sehingga menjadikannya urung membuka usaha, kalau ujung-ujung dari perhitungannya menjadi rugi.

Kalau menurut Om Bob, saya membuka usaha untuk mencari rugi. Kok bisa begituh Om?

Kalau ada untung pasti ada rugi, dan begitu juga sebaliknya. Namun kalau kita mencari untung duluan, usaha belum tentu dilakukan karena takut rugi. Tapi kalau mencari rugi, usaha pasti dilakukan karena ga takut untung.

Bener lagi juga nih si Om.

Saya Ini Orang Bodo, Tapi Bawahan Saya Orang Pinter.

Karena saya orang bodo, maka saya buka usaha tanpa mikir-mikir lagi.

Eh, ketika usaha saya maju, saya kan tidak ngerti hukum, maka saya rekrut orang pinter dibidang hukum. Saya juga tidak mengerti manajemen, saya rekrut orang pinter manajemen jadi bawahan saya. Dan saya rekrut orang-orang pinter lainnya untuk mendukung usaha saya.

Hehe orang pinter jadi bawahan orang bodoh, mantep Om

Itulah beberapa ide yang saya tangkap dari pembicaraan Om Bob. Yang bagi saya mantep beneeeeer. Pandangan yang nyleneh, tapi ada bukti nyata, tidak hanya berteori.