Beauty But the Beast

image

        Gambar Domba Garut

Soal Macet & Banjir, Jokowi Dianggap Lebih Hebat dari Tuhan.

Kang Kardun adalah seorang perantau yang sukses di Jakarta. Usaha jongko bubur kacang ijo, mie rebus dan roti bakarnya maju pesat. Sudah dua puluh tahun dia bergelut dengan usaha tersebut. Kini, setelah merasakan pahit dan jatuh bangunnya usaha, ia merasakan manisnya kerja keras. Lima buah jongko dengan beberapa pegawai telah memberikan penghasilan yang lebih dari lumayan dibanding gajih seorang manajer sekalipun. Maka tak heran, ia mampu membeli sebuah rumah yang bagus di Jakarta sini untuk ditempati bersama keluarga selain rumahnya yang di kampung tempat ia mudik di waktu lebaran.

Siang itu, ia sedang bernyanyi-nyanyi di halaman rumah sambil menyalakan motornya.
“Darah muda, darahnya para remaja. ”
Wew romanisti ternyata dianya. Alias penggemar bang haji Rhoma. Treeet ah, petik melodinya kang Kardun. Ternyata kang Kardun prinsipnya sama dengan penulis. Dangdut No! Rhoma Irama Yes…hiks hiks hiks.

“Wew yang merasa muda…, gak malu liat uban udah nongol di kepala. Lagi seneng nih, kayaknya ada sesuatu.” Terdengar celetukan dari balik pagar yang membuat kang Kardun menengok ke arah sumber suara. Nampak seorang anak muda sedang tertawa memandangnya, tangan orang itu menggenggam jeruji pagar.

“Eeeh Ujang, sini.. sini masuk, kita ngopi.” Kang Kardun tersenyum kecil mendengar ledekan dari Ujang yang ternyata tetangga rumahnya sambil melambaikan tangan menyuruh masuk orang itu. Walau sudah menjadi orang kota, kang Kardun masih tidak lupa kebiasaannya di kampung yaitu menawarkan minum kepada tamu.

“Boleh… Boleh… Ada rokoknya ngga?” sahut Ujang sambil membukakan pintu pagar lalu melangkah masuk dan duduk di kursi yang tersedia di teras.

Kang Kardun mengikuti dari belakang, di depan pintu masuk ia berteriak ke dalam rumah.
“Ma… Pangdamelkeun (tolong buatkan) kopi dua, aya (ada) tamu.” Kemudian dia duduk di kursi setelah menyimpan bungkus rokok dan korek gas di atas meja. Ujang dengan senang mengambil sebatang rokok dan menyalakannya.

“Mangga (iya),” terdengar sahutan dari isterinya di dalam. Tak butuh lima menit, isterinya keluar sambil menenteng baki berisi gelas kopi dan makanan kecil. “Eh Ujang, kamana wae nembe katinggal?” tanya isteri kang Kardun sambil meletakan minuman dan makanan di meja.
*kemana aja baru kelihatan.

“Ada saja ceu, biasa… Kemarin-kemarin Poncol lagi rame. Kebetulan sekarang lagi sepi. Jadi libur dulu ah.”

“Syukur atuh kalo rame mah, sok dileueut (silahkan diminum).” Tanpa menunggu jawaban, isterinya kang Kardun kembali masuk ke dalam.

“Nuhun (makasih),” sahut Ujang.

“Gimana… Gimana… Ada urusan apa nih, tumben-tumbenan maen ke sini?” tanya kang Kardun dengan tatapan penasaran.

Ujang hanya senyam-senyum mendapat pertanyaan ini. “Nggak gimana..gimana sih kang. Cuma pengen maen aja.”

“Oooh… Kirain ada apa. Kebetulan atuh, mau nggak temenin saya ke dealer?”

“Kapan?”

“Sekarang?”

“Mang mo ke dealer apa?” tanya Ujang sambil melirik ke arah motor kang Kardun. Masih bagus, pikirnya.

“Dealer mobil Jang, mo ngambil mobil.”

Mendengar berita ini, wajah Ujang nampak berseri-seri. “Waah mau beli mobil euy. Alhamdulillah atuh punya sodara teh kebeli mobil, suatu saat sayah bisa ikut diajak jalan-jalan.”

“Tenaang, kalo masalah itu mah. Bisa kan?”

“Bisa…bisa…tapi saya mesti pulang dulu mau ganti baju.”

“Ya iya atuh. Masa pake celana pendek seperti itu, nanti diremehkan sama orang dealer.”

“Huuh kang, penampilan suka menipu,” timpal Ujang sambil menyeruput kopinya.

Selang beberapa menit kini mereka sedang dalam perjalanan menuju dealer mobil yang dituju oleh kang Kardun. Mereka menggunakan motor milik kang Kardun.

Ketika melintas jalanan langganan banjir, nampak air memenuhi jalan. Mereka pun terhadang banjir.

“Wah banjir Jang, bagaimana kalau kita dorong saja motornya yah biar bisa lewat trotoar kalo terlalu dalem airnya,” gerutu kang Kardun sambil nengok ke belakang minta pendapat Ujang.

“Hayo lah, abis mo gimana lagi,” sahut Ujang sambil turun duluan dari motor diikuti kang Kardun.

“Gimana nih Jokowi, kok masih banjir saja yah Jang,” ucap kang Kardun sambil mendorong motornya.

“Ah kang Kardun mah. Memangnya pak Jokowi teh lebih dari Tuhan sampai-sampai semuanya mesti bisa diselesaikan oleh beliau,” sahut Ujang senyum-senyum.

“Maksudnya gimana Jang?” tengok kang Kardun penasaran.

“Tuhan saja tidak mampu untuk menuntaskan banjir ini karena manusia di kota Jakarta semakin padat. Bangunan bertambah banyak. Tanah resapan air semakin berkurang. Sedangkan laut tempat menampung air dari sini begitu dekat dan tingginya hampir sama dengan daratan. Sampah-sampah yang berserakan karena dibuang sembarangan menyumbat saluran air sedangkan saluran air tertutup aspal bagaimana mau dibersihkan coba. Otomatis air tidak turun ke mana-mana. Ke tanah tidak, ke got tidak. Hasilnya ya banjir ini. Kalau kita bisa ngobrol dengan Tuhan dan mengeluh tentang banjir ini mungkin Dia akan bilang, kalian kan yang ingin banjir, kini ketika banjir datang kenapa kalian mengeluh. Sepertinya Aku tidak sanggup mengatasi banjir ini. Hari ini kuangkat banjir, besok kalian buang sampah lagi, bangun lagi, tutup saluran lagi, bikin banjir baru mana selesai-selesai coba.”

Ujang nyerocos dengan penuh semangat. Kang Kardun hanya ngangguk-ngangguk mengiyakan. “Bener juga yah Jang. Banjir tidak akan beres-beres kalau begini terus keadaan kita.”

“Huuh. Saat ini kang Jokowi hanya bisa berusaha meminimalisir banjir sesuai dengan yang dia mampu. Kalau tidak didukung oleh kita mah, ya jangan salahkan beliau kalo banjir datang lagi tiap tahun.”

“Bener tah Jang.”

Urusan dorong mendorong motor untungnya tak lama, karena dealer yang dituju tidak terlalu jauh. Mereka pun masuk ke dalam setelah memarkirkan motor di halaman. Kebetulan posisi dealer lebih tinggi dari jalan, hingga air tidak masuk ke dalam.

Mereka disambut ramah oleh sales. Disuguhi teh manis, yang semanis sales girlnya. Terlihat senyum cerah di wajah-wajah mereka. Sales tersenyum karena senang mobilnya terjual, terbayang target dan bonus yang bakal diterimanya. Kang Kardun senang, terbayang naik mobil bersama keluarga dan dikagumi orang. Ujang tersenyum, merasa bahagia karena kang Kardun bahagia!

Setelah cangcingcong, pulanglah mereka. Ternyata banjir kini telah surut. Hilang satu masalah datang masalah lain. Jalanan kini macet!

“Eleuh… Eleuh ini macet. Mana panjang begini. Kang Jokowi teh gimana yah, katanya mo ngatasin macet tapi kenyataannya mah masih macet juga,” keluh kang Kardun sambil menyelipkan motornya diantara mobil.

“Ah jangan ngeluh gituh atuh kang. Bukan salah Jokowi atuh. Kan barusan akang juga baru beli mobil baru,” tukas Ujang santai.

“Lah, apa hubungannya antara saya ngeluh kinerja Jokowi ngatasi macet dengan saya beli mobil baru?” tanya kang Kardun tidak mengerti.

“Ada atuh. Nih yah kang, jalanan Jakarta teh udah susah untuk diperlebar. Sedangkan tiap hari mobil dan motor dijual. Belum pernah kan tidak dengar mobil nggak kejual satu bijipun setiap harinya?”

“Belum.”

“Nah itu, mobil baru masuk terus tiap harinya. Sedangkan daya tampung jalan segituh-gituh aja. Pastinya macet terus. Kecuali, kita sadar. Mau naik angkutan umum. Satu mobil dipakai ramai-ramai atau satu kereta diisi ribuan orang. Bukan satu mobil dipakai seorang doang. Nah kalau mau sadar, insya Allah macet ini berkurang. Sekali lagi Jokowi hanya bisa meminimalisir, tanpa kesadaran kita mah, sia-sia saja. Misalnya nanti MRT ataupun angkutan massal lainnya diperbanyak tapi yang berminat sedikit ya percuma saja. Jadi pada dasarnya kalau kita terjebak macet, hanya satu sikap yang mesti kita lakukan. Yaitu nikmati saja. Karena kita sendiri yang ingin macet ini terjadi. Tuhanpun tidak akan mampu mengatasi macet jika kita tidak sadar diri apalagi Jokowi.”

“Eta si Ujang bener lagi. Terus gimana yah kalo kita ingin cepat-cepat terbebas dari macet dan banjir secara cepat menurut kamu?”

“Nah kalo yang ini Jokowi tidak akan mampu menjawab tapi saya bisa?”

“Gimana?” tanya kang Kardun penasaran.

“Akang pulang kampung. Biar usaha di Jakarta, tapi ngaturnya dari kampung saja. Mobil bawa pulang. Pasti akang tidak kena macet dan kena banjir karena kampung akang di sisi gunung bukan?”

“Haha…. Bisaan euy si Ujang ngasih solusinya. Bener juga yah. Kalo tidak mau macet ya jangan hidup di Jakarta intinya hahaha….”

“Sumuhun (iya) kang.”

Begitulah kisah kang Kardun dan si Ujang menyikapi macet dan banjir yang kini sedang menjadi sorotan di bawah kepemimpinan Jokowi.

Miris kita, mengharapkan Jokowi bersikap lebih hebat dari Tuhan. Padahal Tuhanpun dalam al-Qur’an bersabda “Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum jika kaum itu tidak mau merubah nasibnya”.

Kita ingin terbebas macet dan banjir. Namun dalam keseharian kita malah menciptakan macet dan banjir itu sendiri. Siapa yang bisa mengatasi hal yang mustahil ini. Kira-kira anda bisa? Kalau anda bisa, maka anda lebih hebat dari Tuhan? Tapi itu tidak mungkin!

Waktunya untuk nyanyi lagu Rhoma lagi. Berjuang… Berjuang…

Salam hangat.

Ternyata Setan Cantik Suka Sama Cowok Alim

Ditulis oleh Bayu Segara

Ada seorang setan wanita, sebut saja namanya sakor. Ia sangat cantik dan langsing. Wajah mulus, kulit putih dan halus, bibir meraaah banget, baju bagus-bagus dan dandanannya menawan hati. Makanya ia banyak disukai oleh setan-setan pria. Tak sedikit sms yang masuk ke handphonenya atau permintaan pertemanan di facebook yang membludak karena sangat memikat hati kecantikannya.

Namun dari sekian banyak setan pria yang mendekatinya tak sedikitpun ia tertarik.
Hal ini tentu membuat penasaran penulis untuk menyelidikinya. Penulispun mengirim sms untuk minta wawancara. Dan nasib baik berpihak kepada penulis, ia mau menyediakan waktu untuk hal itu. Kita sepakat untuk mengadakan pertemuan disebuah kuburan tua di tengah hutan, tempat yang ia sering dibilang oleh manusia menjadi penunggu kuburan itu.

Tiba dihari pertemuan, penulis degdegan dan sedikit gugup. Biar bagaimanapun penulis adalah lelaki normal, jadi jika lihat yang cantik-cantik, terus terang… pengeeeen.

Celana jeans dan sepatu kets tinggi dipadu dengan kaos serta jas item yang pas di badan membuat penulis tambah ganteng apalagi baru cukur rambut, pastinya yang cantik bakal kesemsem. Memang penulis ini pede abisss hahaha.

Tiba di kuburan, ow ow ow, gak salah emang, dia bener-bener cantik. Saat itu perasaan lumayan grogi. Namun gengsi dong disamain sama cewek yang histeris sambil nangis-nangis dengan tangan melambai-lambai mencoba meraih ketika lihat Ariel Noah, saya pura-pura biasa saja. Padahal kalo liat Ariel, eke juga pengen megaaang ciin, cucok abis, muna dikitlah hehe.

Tiba di hadapannya, saya tersenyum sambil mengulurkan tangan mengajak salaman.
“Hai, apakabar, sehat kan?” sapa saya.

“Pastinya dunk. Kalo ga sehat, gimana mau godain manusia coba, benerkan?” jawabnya sambil menerima uluran tangan saya. Dingin ternyata, kirain hangat, ilfil jadinya.

“Bener-bener. Kalo ga selalu sehat, mana bisa godain manusia selamanya, hiks hiks. Siap wawancaranya?”

“Siap, mulai darimana nih?” sahut setan itu percaya diri.

“Baiklah. Kita mulai dari wajah, kenapa wajah anda bisa cantik?”

“Wajah saya bisa cantik dikarenakan perawatan dong. Cewek yang selalu saya goda dia senangnya beli produk perawatan kecantikan. Lihat iklan ini atau iklan itu, saya bisikin “beli, bagus tau” padahal di meja riasnya sudah banyak alat kecantikan yang tidak terpakai. Hingga akhirnya ia tergoda untuk membelinya, tau tidak cerita selanjutnya?” tanyanya sambil menatap saya dengan seulas senyum di bibirnya.

“Tidak, gimana tuh cerita selanjutnya?” jawab saya sambil balik bertanya.

“Karena tidak terpakai, maka sayalah yang memakainya. Mubazir dong, kalau ga dipake, udah beli mahal-mahal mending dimanfaatin. Bener nggak?”

“Bener-bener.”

“Apalagi pertanyaan selanjutnya?”

“Mengenai tubuh anda yang langsing, gimana ceritanya?”

“Cewek yang saya goda itu kalau belanja di pasar atau di pusat perbelanjaan senangnya ngiter. Satu toko ke toko yang lain ia singgahi mencari harga yang pas menurut kantongnya. Misal udah beres cari-carinya, tau-tau harga yang pas itu letaknya di tengah-tengah, pasti ia balik lagi. Walau saya bingung, gak pegel gituh kakinya, terpaksa saya ikuti dengan ngedumel. Cukup memakan tenaga bukan, hingga membuat saya berkeringat. Dan yang parahnya kalau makan, dia makannya sedikit, diet ketat katanya. Oleh karena hal tersebut, saya jadi langsing seperti anda lihat saat ini.”

“Wow, menarik juga.”

“Pastinya dong, ada lagi?”

“Ada. Anda ini kan cantik dan langsing, kenapa masih jomblo?”

“Hhh… ini dia masalahnya. Selera saya sama setan cowok yang langsing, tidak pada yang gendut. Namun yang ada sekarang ini, setan cowok banyak yang gendut-gendut hingga membuat saya malas berurusan dengan cowok,” keluhnya sambil menghembuskan nafas seakan ingin melepas beban.

“Loh, emangnya kenapa setan cowok pada gemuk-gemuk?” tanya saya penasaran.

“Begini. Cowok kan jarang tuh belanja-belanja. Mereka biasanya hanya berurusan dengan perut atau urusan di bawahnya, anda pasti tahulah yang bawah perut itu apa, gak usah dijelasin juga pasti udah faham,” selorohnya sambil melihat ke arah celana saya, membuat saya tertawa kecil.
“Urusan dengan penampilan menjadi urutan yang ke berapa gituh. Makanya ketika mereka mendampingi manusia, secara otomatis urusan perut merekalah yang selalu terisi. Kalau urusan perut terisi terus, maka tak heran setan cowok gemuk-gemuk,” lanjutnya.

“Oh, kalau setan cowok yang kurus gimana ceritanya?”

“Nah ini yang suka kasihan sama mereka,” ucap dia dengan wajah menampakkan rasa iba.

“Kenapa memang kasihan?” kejar saya.

“Solidaritas sesama setan dong ah hiks hiks.”

“Wakakak kirain manusia doang yang punya solidaritas.”

“Hush, kalau urusan solidaritas, bangsa kami unggul jauh dong. Kalian disuruh ke masjid untuk sholat berjamaah, yang dateng berapa coba, apalagi kalo sholat subuh, kakek-kakek doaaaaang yang nongol, mana kita takuuuttt. Mereka kalah jumlah. Tapi kalau nonton bola atau konser musik, anjrit saya paling suka sama mereka, bayarpun mereka bela-belain. Tak perduli hujan atau panas, luar biasa sekali semangat mereka.”

“Haha… emang mantab bangsa anda ini bisa menggiring bangsa kami mengikuti kemauan bangsa anda.”

“Itulah, semua terjadi karena solidaritas. Kami ramai-ramai menggoda bangsa anda. Jika satu ide bangsa kami ditolak, maka yang lain membisikkan ide lain. Dari kepala, dada, perut kami hembus-hembuskan godaan kami hingga berhasil.”

“Wew mantab kerjasamanya, terus mengenai setan cowok yang kurus?”

“Oh iyah lupa, kita malah membahas masalah solidaritas. Kalau setan kurus, biasanya dia mendapatkan korbannya manusia yang alim. Si alim ini kalau mau apa-apa selalu ngadu.”

“Ngadu sama siapa?”

“Ya sama Tuhan kitalah.”

“Kita? bukannya tuhan itu untuk manusia saja.”

“Hiks hiks emang yang diciptakan oleh Tuhan situ doang. Kita jugalah, emang brojol sendiri gituh. Malahan kita lebih tahu tentang Tuhan dibanding kalian, karena kami dulu sangat dekat dengan-Nya.”

“Jadi, setan kurus itu jarang dapat makan karena orang alim selalu mengadu kepada Tuhan.”

“Begitulah, mana bisa gemuk coba. Dan kamu pasti tahu, orang alim di dunia ini sedikit jumlahnya. Tentunya hal ini berbanding lurus dengan keberadaan setan kurus. Makanya sampai saat ini saya jomblo terus hiks hiks.” ucapnya sambil nyengir kuda.

“Wew baru tahu saya, begitu toh ceritanya.”

“Yup, ada lagi yang mo ditanyakan?”

“Tidak, cukup sekian saja wawancaranya.”

“Baiklah kalau begitu, saya boleh titip pesan tidak?”

“Apa itu?”

“Kalau pembaca tulisan anda orang alim, bilang sama dia “i love you full”, tapi kalau sebaliknya, bilangin “dasar semprul, bisa-bisa masa jomblo saya tambah panjang tau” hiks hiks hiks.”

“Wek wek wek.. baik-baik nanti saya sampaikan.”

“Makasih yah.”

“Sama-sama.”

Akhirnya kamipun berpisah.
Nah gimana pembaca, anda berada di posisi mana tuh untuk jawaban dari pesan si setan tersebut hiks hiks.

Gambar

Rangining & Asoy

image

Mo beli? Sebungkus isi 15 buah masing-masing.

Harganya 5000 masing-masing perbungkus.

Minat, hubungi 089-889-00-393 🙂

Learn to Handle Customer from Shemale & Hooker

Written by : Bayu Segara

Customers are not the enemy. The customer is king. This is the main slogan to be remembered by a customer care. This slogan should not be forgotten, because sometimes when dealing with a customer care, customers often carried away fails to put in place.

Often a customer care attitude of antipathy will advance when dealing with customers. It makes reactive when receives a complaint, instead of being proactive. Why it could happen; yes it looked customers as the enemy.

However, even customer is a king, apparently in interacting with them we do not have to put him as king. Look really contradictory? Yes indeed contradictory, but let’s discuss them further in order to clear.

Common Man and the customer is not king.

We have a lot of friends right? Surely they have different properties. The Ucrit his taciturn and thinkers, the person pretending Usro boss, the AA guy “come along, it’s up to you good”, the Selsa always say “later, i told to my house”.

With the Ucrit we cautious fear to offend him. With the Usro we have to pretend to be his subordinates. With the AA, take it not too dizzy like the song Haji Rhoma. With the Selsa, must woo-little persuasion.

Well, so did the customers. Customers have the property that there is a discreet but terminator :), there are acting like generals always want to be respected and obeyed, no luggage is always jolly jock language “easy going” and those that type of family.

Departing from this, apparently in dealing with customers can not be beaten flat. Not all customers must be treated as a king, whereby we must speak officially, protocol, bow and grovel.

So, have schools instead, the intent of the customer is a human and not a king. This is what is meant. So, if the customer care interact with customers hitting the average way of handling, it is a big mistake. Customers do not need to be treated as a king, treat appropriate type.

Handling.

Many of us encounter, when you call or meet in person with a customer care there is a distance given by their attitudes in interaction. As if they were saying “you people, I do not know you, if you’ve sorted out quickly away as far as possible”.

How does it try? Do not we have to maintain good relationships with customers so that they do not run away and switch to another brand? But the attitude of the customer care does not reflect this. So naturally, a lot of customers who scurried to the other brands if the customer care behave like this, even worse there are angry at the customers!

Then should do?

First Impressions So Seductive.

If you go back home and visit to a relative’s house, how do they feel? “Aeh aeh no guests, good health, when it comes, let’s go-go, this sorry mess again, what you want tea drinking what coffee … blah blah”. Warm is not it?

How you feel. Certainly convenient once. Even so with our customers. We have to provide warmth but not the warmth in quotes of course :). If we have given the impression of a warm, the term “first impression so tempting”, then the future so much easier affair. Believe me.

Another story if customer care stiff. The customer want to angry when I’m upset, that was not like a fuss so want. It’s the little things that do not matter so disputed. Luggage wanted to meet directly with company officials.

So, be careful with the first impression we give to the customer.

Treat Customers As per type.

Ucrit is the representation of the type of intellectual thinker. A customer should be served with this type of thinking as well. We should not be wrong. Hence the name of data, chronological and arguments must complete all. Can be long affairs that customers see this as an argument if the data and we are weak.

Usro is the representation of a customer who “bossi”. Customers who like this when it comes wished respected, if necessary, all the people bowed-bowed. Such customer-facing customer care arranged for not a lot of talk. If it is still within reasonable limits, the customer desires fulfilled quickly. If not, then the rejection should be a way that we need to be wise when such fears.

The AA is a representation of casual customers. Customers who like the easy anyway. Free chat with them alone. Because the customer usually is not as complicated as other customers. For them, the principle is “important right”. Customers like these even come just to chat just about to complain even though they come in the products they buy.

Selsa is a representation of the customer who likes to budge. Customers like this though disappointed, but if you get a good explanation of the explanation is simple though will quickly heal their disappointment. Moreover, if the bonus is given as solace disappointment, they usually will be a loyal customer.

Well, understood?

Oh, be careful with the customer whose name terrorists. What is a customer terrorists? He was a disappointed customer who then boasted everywhere, be in social media, print media and others are so. Die a thousand if found growing customers like this. The disappointed one, who know or can read thousands. Not dangerous?

Therefore, to avoid customer whose name terrorists, not hurt we learn to transvestites and prostitutes. Shemale with the slogan “got teeth, money back.” While hooker with the slogan “You are satisfied, I limp”. Slogan which indicates that customer satisfaction is the number one way or another. Do not you think?

Romansa Diakhir Ramadhan

Ditulis oleh : Bayu Segara

Sepi… Entah pada kemana semua orang. Ingin aku berkata seperti itu. Namun, tidak bisa. Karena aku tahu, orang-orang yang menjadi tetangga kos sedang pulang kampung. Mereka hendak merayakan lebaran di kampungnya masing-masing.

Ingin kukatakan entah, seolah-olah bahwa aku tidak tahu keberadaan mereka. Berharap bahwa mereka tiba-tiba ada, menyapa, dan menemani kesendirianku saat ini. Namun, ini hanyalah khayalan, hal itu tak mungkin. Kini mereka puluhan bahkan ratusan kilo keberadaannya.

Jam menunjukkan pukul satu pagi. Hening. Tak ada suara tangisan anak kecil yang biasanya sesekali terdengar dari tetangga rumah. Suasana yang membuat hati ini semakin pedih.

Masih kuingat wajah mereka kemarin. Si muka-muka bahagia. Hendak pulang kampung bertemu sanak saudara katanya. Kerinduan di dada seakan membayang di wajah mereka. Tak ada kulihat kerisauan, ketakutan atau kekhawatiran bahwa mereka hendak melakukan perjalanan jauh. Yang kulihat hanyalah harapan dan tawa kebahagiaan.

Sialan kaliaaaan… Tidakkah kalian ingin berganti peran denganku. Biarlah aku yang pulang. Biarlah kan kutempuh perjalanan jauh itu meski ribuan kilometer adanya agar bisa bertemu ibu, bapak dan saudara-saudaraku. Biarlah letih, penat dan lelah mendera tubuh ini, tak akan ada sebersit dalam pikiran bahwa perjalanan itu akan melelahkan. Hanyalah keinginan itu yang selalu datang menjelang berakhirnya ramadhan.

Setengah dua pagi. Bintang-bintang tidak ada di langit sana apalagi rembulan yang sudah tua. Hanya asap yang menutup langit memantulkan gemerlap kota menembus penglihatan mata ini. Bosan. Melihat televisi sebentar, keluar kamar, beberapa kali kulakukan hal itu. Huh…

Akhirnya sesuatu merasuk pikiranku. Televisi cepat-cepat kumatikan. Jaket, helm dan sepatu tak lama sudah menempel di tubuh ini. Lampu kamar kumatikan, pintu kukunci dengan rapih. Lima menit kemudian tubuh ini sudah menyusur jalanan dengan motorku.

Lengang. Hanya sesekali kulihat ada kendaraan melintas. Lewat Ahmad Yani kubelokkan laju motor ke kanan menuju Matraman. Sepi juga. Hanya di pasar dekat fly over terlihat keramaian. Hmmm… Walau aku kesepian, tak suka jika mesti bergabung dengan keramaian ini. Hanya uang atau hanya barang yang ada diantara mata-mata mereka. Tak ada pandangan kasih yang tulus yang kubutuhkan saat ini.

Melewati Menteng yang redup kini Kuningan yang kosong berada di depan mataku setelah lewat Cikini. Hahaha ini dia….batinku. Kutarik gas sekuatnya, tak lama kemudian motorku melesat membelah angin dalam kecepatan tinggi. Tak ada rasa takut terbersit yang jika hari-hari biasa menyelimuti pikiran melihat kendaraan yang padat.

Tak menunggu waktu lama, Kuningan telah berakhir. Kubelokkan motor ini menuju Sudirman. Seperti tadi, motor kuajak berlari terburu-buru. Spidometer menunjukkan angka di atas seratus duapuluh. Tak perduli, tangan ini terus menahan gas.

Motor hanya berkurang kecepatannya ketika masuk Menteng namun ketika menjelang Senen kembali lagi tuas gas tertahan di kecepatan tinggi. Belok kiri menuju Kemayoran. Lebih parah lagi ketika tiba di jalan bekas bandara yang lebar, tidak ada sedikitpun gas tersisa. Yang tersisa hanyalah siuran angin dan asap knalpot di belakang.

Masuk Ancol. Tak lama kemudian tubuh ini sudah berhadapan dengan laut. Rokok mengepul di mulut ini mencoba mengusir udara dingin yang datang silih berganti.

Kulihat dikejauhan kerlap-kerlip cahaya lampu yang menerangi laut sambil menerawang. Angin laut dan deburan ombak seakan mendorong lamunan.

Yani, Reni, Mayang, Putri dan wanita-wanita yang pernah ada di sekelilingku datang merasuki pikiran. Mereka seakan sedang membuka buku catatan hidup ini.

“Aku cinta pertamamu, masih ingat kan?”

“Maafkan aku meninggalkanmu.”

“Engkau hanya pelampiasan dendamku, maaf.”

“Aku butuh kepastian dan itu tidak kudapatkan darimu.”

Seakan mereka mengajak berbicara. Aah… Kenapa tak ada satupun diantara mereka yang abadi dalam kehidupanku. Selalu ada kisah yang berujung pada kesendirian diri saat ini.

Mereka memang indah dan cantik. Namun tak ada satupun yang membuatku bisa menahan agar mereka tidak lepas dari pelukan. Ada yang kurang dari mereka. Ketulusan dan kelembutan untuk jiwaku yang keras ini.

Usiaku beranjak matang, sudah saatnya mengarungi bahtera pernikahan. Namun tak berdaya hati ini untuk menerima pasrah terhadap pilihan yang ada. Aku tetap menginginkan dia.

Mungkin kekosongan jiwa ini yang memaksa. Terlahir di panti asuhan, tepatnya terbuang di sana. Tak mengenal rupa ibu dan bapak dari kecil. Yang kukenal lekat-lekat hanyalah ibu panti asuhan dan teman-teman senasibku. Hingga ada sebagian hati ini yang sepertinya sakit dan minta untuk disembuhkan. Obatnya adalah seorang wanita lembut dan keibuan disamping kecantikannya.

Aargh….. kapan? Kapan dia hadir. Dimana dan siapa? Masih lamakah aku menunggu?

Andai saja dia hadir lebih awal mungkin saat ini aku tak berada di sini. Pasti aku sedang tertidur bahagia di samping ia dalam rumah orang tuanya. Mungkin mudik mungkin tidak, tak masalah bagiku.

Lama bayang-bayang dan lamunan itu datang silih berganti hingga sayup-sayup suara orang membangunkan sahur terdengar dikejauhan.

Hmmm… Biarlah, disesali atau tidak aku tetap ada di sini. Aku hanya harus melebur kesakitan ini. Ya, mungkin aku harus kesana, gumam batinku.

Tak butuh waktu lama, motor kembali membelah jalanan, masih dengan kecepatan tinggi. Kira-kira setengah jam aku berhenti di sebuah pasar.

Semua makanan dan minuman yang terbersit enak di pikiran sudah terikat rapih di jok. Banyak sekali uang yang harus kukeluarkan sesuai dengan jumlah barang yang ada. Aku seperti orang yang sedang gila belanja. Biarlah… Sebentar lagi juga pengeluaranku akan balik lagi, lihat saja nanti.

Kuketuk pintu usang itu.
“Assalamualaikum,” ucapku.
“Waalaikum salam,” terdengar sahutan ramai dari dalam. Tak lama kemudian pintu terbuka. Satu wajah yang sangat kukenal kini berdiri di hadapanku.

“Aeeh… Randiiii… Apakabar anakku, ayo masuk-masuk. Kemana saja, kok tidak pernah datang sih, ibu kangen sama kamu,” cerocos ibu panti asuhan setengah berteriak sambil memegang tangan dan bahuku dengan hangat.

“Waduh ibu borongan ngomongnya, aku sampe bingung mau jawab yang mana dulu,” sahutku sambil masuk ke dalam diiringi ibu panti asuhan.

“Hehe… Sudah tidak usah dijawab, yang penting ibu senang kamu di sini. Kehadiran kamu yang terlihat sehat mengunjungi kita adalah tambahan kebahagiaan di sini. Ayo kita sahur bareng.”

Tiba di dalam, nampak anak-anak panti asuhan sudah berkumpul melingkari ruangan menghadap makanan yang menunya sederhana.

“Sebentar bu, saya lupa bawa sesuatu di motor,” pamitku. Tanpa menunggu jawaban aku bergegas keluar mengambil belanjaan di atas motor.

“Ini makanan serta kue untuk ibu dan anak-anak lebaran nanti,” ucapku sambil menurunkan barang di lantai.

“Horee… ” terdengar anak-anak berteriak kegirangan. Ada salah satu luka dalam hati yang langsung sembuh mendengar teriakan mereka ini.

“Aduh terimakasih anakku. Bilang apa anak-anak sama ka Randi?” ucap ibu panti sambil berpaling kepada anak-anak.

“Terimakasih ka Randiiii…..” jawab mereka berbarengan.

“Sama-sama,” balasku sambil tersenyum.

Hari itu aku tidak pulang ke kosan sampai maghrib tiba. Sibuk sekali aku membantu persiapan panti menyambut lebaran. Pulang ke kosan hanya sebentar mengambil pakaian setelah isya.

“Anakku, apakah kamu tidak berlebihan mengeluarkan uang yang begitu banyak untuk mereka,” tanya ibu panti ketika lebaran datang, saat itu pukul sepuluh malam. Kami ngobrol di ruang tamu ditemani satu orang pengurus sambil menonton televisi.

“Tidak bu, saya sangat senang dan ikhlas mengeluarkannya,” sahutku.

“Tapi, tidak seharusnya kamu begitu. Ibu ingin kamu juga bahagia. Suatu saat kamu akan menikah dan butuh biaya. Setidaknya setengah dari uang hari raya disisihkan untuk keperluan itu.”

“Ibu, tidak usah khawatir tentang hal itu, sayapun sudah memikirkannya. Dan perlu ibu tahu, uang itu kan uang hari raya, bukan uang pernikahan. Jadi ya mesti dihabiskan untuk hari raya… hehe,” candaku mencoba menepis kekhawatiran ibu panti.

“Hehe… Kamu bisa saja. Ya sudah kalau kamu sudah memikirkan hal itu, ibu hanya khawatir.”

Ibu panti tidak tahu bahwa aku tidak memikirkan biaya pernikahan itu, yang kupikirkan saat ini hanyalah bagaimana agar anak-anak yang sama nasibnya denganku tidak bersedih di saat lebaran ini.

Biarlah mereka lupa dengan keinginan bertemu dengan orangtuanya yang memang tidak ada. Biarlah baju baru yang kubelikan di pasar itu menutupi hati mereka untuk ingin mencium tangan ibu bapaknya sambil minta maaf. Biarlah tudung cantik itu menutupi mata gadis-gadis kecil panti dari air mata yang mengalir demi melihat anak-anak lain di luar panti yang berlari-lari bahagia bersama kakak dan adiknya yang mereka tidak punyai.

Dan biarlah uang itu keluar dari dompetku membawa luka yang tertutupi oleh kebahagiaan anak-anak panti yang mencium, memeluk dan bergelayut di tubuhku

Gilanya Pemancing – Kisah Mancing di Laut

Ditulis oleh : Bayu Segara

Bagang lagi… Bagang lagi… Tiap minggu acara mancingnya. Beberapa kali ngajak ke tengah laut nyewa perahu tak ada yang mau. Baik itu gerombolan kolam atau gerombolan muara. Faktor biaya yang membuat mereka enggan.

Hingga suatu hari peruntungan berubah. Minggu itu nongkrong di bagang Tanjung Kait bareng satu orang keturunan china. Kita ketemu dia di atas bagang. Namanya Sofyan. Ketawa juga denger nama dia itu, kok namanya kayak kebanyakan suku laen di sini. Udah gitu, kulitnya agak item pula :). China benteng kayaknya.

Nih orang kuncennya bagang. Kalo ke sini, peralatan mancingnya banyak banget yang dibawa. Macam-macam ikan dia tahu, teknik mancing faham. Seorang yang bisa dijadikan guru dalam hal urusan mancing.

Ngobrol ma dia asyik banget. Dia banyak cerita tentang dunia mancing yang bikin saya tambah luas pengetahuan. Nah, pada kesempatan itu saya minta diajak mancing ke tengah kalo kebetulan dia turun. Dia bilang oke.

Gak pake nunggu waktu lama. Seminggu kemudian kalo ga salah ditelpon ma dia, ngajak ke tengah. Tanpa ba bi bu saya bilang siaaap.

Rumah ko Sofyan di Cimone, sedang saya di Balaraja. Maka ketika berangkat ke Tanjung Pasir saya nyamper dia. Ternyata kalo mancing ma dia ribeet banget. Bawa kotak stereofoam di belakang motor, di depan tas berisi alat pancing menuh-menuhin tempat.

Nyamper ke rumah temannya yang mo ikut mancing juga. Dari sana pake mobil ke Tanjung Pasirnya. Sebelum lewat bandara mampir dulu di pabrik es beli es balok.

Menjelang Tanjung Pasir beli udang terlebih dahulu yang berjejer di sepanjang jalan. Harganya sangat mahal, bisa tembus lima puluh ribu perkilonya kalo lagi langka udangnya. Kalo beli di tambaknya cuman dua puluh ribu. Cukup jauh bukan?

Tiba di Tanjung Pasir jam empat subuh. Nyamper nelayannya yang masih molor. Sebel sama kelakuan nelayan. Selama mancing di sini, jarang yang udah pada nunggu kita. Banyakannya mesti dibangunin, disamper sama ditelepon… Hadooh padahal yang butuh banget itu mereka. Kalo sebelum deal, mereka itu suka nelpon untuk nanya mancing apa nggak, eh pas udah deal gitu deh kelakuannya. Semprul.

Saat itu tujuan mancing sekitaran pula Untung Jawa, pulau Dapur dan pulau Rambut.

Berangkat mancing jam limaan setelah beli udang rebon. Gileeee itu suara mesin kapal bikin telinga pekak. Geterannya bikin badan kayak kesemutan. Pokoknya mah bikin tersiksa. Jangan harap bisa tidur nyenyak deh, apalagi bagi yang baru pertama kali mancing. Begini ternyata mancing di tengah laut.

Sebelum ke lokasi tujuan, kita nyari ikan umpan terlebih dahulu. Selar dan ikan Tembang adalah ikan umpan yang banyak tersedia di pulau Seribu. Setelah dapet baru kita mancing ke lokasi favorit nelayan.

Tiba di sana kami semua nurunin pancing. Umpannya udang idup dan ikan selar ato tembang. Kesampaean juga saya mancing di tengah.

Kurisi, kerapu, ekor kuning, talang-talang mulai mendarat di kapal. Perolehan yang sangat mengecewakan bagi pemancing kawakan. Namun bagi pemula semacam saya tidak masalah.

Namun yang bikin bete adalah nelayannya. Dia hanya maunya nongkrong lama di satu spot, gak mau pindah-pindah walo sepi ikan. Nah ini juga yang kita sebel dari nelayan Tanjung Pasir, pengennya hemat solar tapi bayaran pengen full, tapi gak mau ngasih servis yang bagus sama pemancing.

Siang hari kita makan ikan yang didapet dari mancing. Uenaak ternyata ikan laut yang baru diangkat. Beda sama yang sudah nyampe pasar, apalagi yang udah dikasih es biar awet jauh banget bedanya.

Abis istirahat, mulai lagi mancing. Beberapa kali pindah lokasi, perolehan ikan masih tidak bagus. Kita mulai gerah. Gak apa-apalah kalo ga dapet ikan bagus asal nelayannya rajin cari lokasi. Ini mah diem aja, kalo dibilangin pura-pura gak denger, kalo disentak baru nyahut. Nama nelayan ini sudah tercatat di daftar hitam saya 🙂

Sore hari akhirnya pulang. Badan perih-perih kebakar matahari, muka kumal dan kusyut. Mata agak merah dan rambut yang acak-acakan adalah pemandangan biasa sehabis pulang mancing. Yang ngebedainnya cuman nyengir apa kagak. Kalo nyengir, berarti dapet ikan bagus, kalo nggak, udah tahu kan apa alesannya.

Turun dari kapal, daratan kok goyang-goyang. Bingung saya. Tanya ama temen, mereka gak ngerasain goyang-goyang. Wew, saya cengar-cengir aja, kok bisa yah kayak begini.

Di atas dermaga kita bagi-bagi ikan hasil tangkapan. Beres itu cabut pulang. Nyampe rumah, ikan dibagiin ma tetangga.

Banyak cerita tentang mancing di tengah yang pernah saya jalanin, moga aja lagi mood untuk nulisnya yah.

Cerita sebelumnya : Gilanya Pemancing – Mancing di Bagang.

Kegilaan pemancing episode kali ini:
Subuh-subuh biasanya molor sekarang lagi jalan ke tengah laut.
Duit dua ratus sampe lebih tidak sayang dikeluarkan buat mancing.
Kulit ampe item cuek aja, padahal dulu mah pengennya putih biar cewek-cewek pada n.a.k.s.i.r wkwkwk

089-889-00-393 adalah nomor saya kalo ada yang mo ngajak mancing gratis di laut Garut 🙂