Tag Archives: kaki

Kisah Si Naga – Melawan Jago Tua

Ditulis oleh Bayu Segara

Suara ayam jago yang berkokok dari mulai waktu subuh ngebangunin orang untuk shalat hingga sore hari terdengar nikmat. Beda dengan mendengar suara knalpot motor yang berisik, bikin esmosi aja. Esmosi sama pemilik motor, kok tidak mempergunakan akal dan pikirannya dengan baik. Kan mengganggu kenyamanan orang lain! Esmosi juga sama pak pulisi, kok yang kayak begini terlihat dibiarkan saja. Coba kayak orang barat sana, merasa terganggu lapor polisi. Beres urusan. Tapi di kita kan beda, tenggang rasanya tinggi walo hal itulah yang bikin makan ati.

Si Naga biasanya berkokok sendirian setelah jagoan kampung milik saya almarhum, karena dijual. Tapi kini dia punya teman yaitu si Kawur. Mereka bergantian memamerkan pesona suara. Selain untuk membangunkan orang di waktu subuh, juga demi memikat betina di siang hari. Masing-masing punya suara khas tersendiri. Si Naga agak melengking namun sedikit serak sedang si Kawur besar suaranya dan terdengar bulet. Asyik dengerinnya jika mereka berdua berkokok saling bersahutan.

Dua jagoan ini gak boleh deketan. Sekali deketan, jebret… berantem. Susah memang kalo miara preman. Makanya setiap hari posisi bermain mereka beda. Si Naga di belakang, sedang si Kawur di samping rumah. Mereka terhalang oleh pagar. Kalo misalnya mereka dikandangin, repot juga. Si Naga sedang bercinta dengan betina demi menghasilkan keturunan. Sedang si Kawur lagi dibentuk tubuh dan kakinya agar kuat. Jadinya mereka diumbar saja.

Dan dipagi ini, si Kawur sedang berada di samping halaman sehabis mandi. Saya biarkan berkeliaran agar kakinya kuat setelah sekian lama dikurung oleh pemiliknya hingga membuat kaki dia lemah dan tidak bertenaga.

“Boss ada tamu tuh,” ucap si Kawur sambil melihat ke jalan. Saya nengok ke arah jalan, benar saja datang tetangga sebelah sambil mengempit ayam bangkok di ketiaknya.

“Waduh… Mana si Kawur belum bener nih,” keluh saya. Memang saat itu si Kawur hanya baru sembuh dari cacingan. Sedang luka bekas pertempuran belum kering dan tubuh belum ideal. “Tolak aja deh kalo dia ngajak latihan,” batin saya.

Namun, ternyata hati bilang nolak. Tapi mulut susah untuk ngungkapinnya.

“Ayam siapa nih?” tanya tetangga.

“Orang atas. Saya pelihara, lagi sakit,” sahut saya.

“Bagus nih. Badannya mah tinggi. Gawenya bagus nggak. Percuma kalo melihara, maennya jelek.”

“Kalo menurut saya sih bagus. Cuman sekarang lagi gak sehat. Kemaren tarung ama ayam saya, ngalung dan nyayap mulu, sayang lagi gak fit jadinya gak ketauan gawe sebenernya. Makanya saya coba piara biar sehat. Ntar kalo jelek, tinggal pulangin aja.”

“Hmm… Penasaran saya. Yuk kita latihan sebentar, beberapa gebrakan aja, pengen tahu gawenya gimana,” ajak dia.

“Haduuh penyakit. Dibilangin lagi sakit, masih ngeyel,” batin saya. Makanya di atas tadi saya bilang, hati mah nolak tapi mulut susah ngungkapinnya.

“Okelah,” angguk saya sedikit terpaksa.

“Bentar beli tensoplast dulu buat ngebalut tajinya biar nggak nyolok,” ucap dia.

“Sip.”

Ayam tetangga ini badannya besar. Cuman agak pendek. Lihat posturnya seimbanglah sama si Kawur dan si Naga. Bulu ekor agak gundul. Kaki ke bawah membesar. Ada benjolan dimasing-masing kaki belakang dekat jari. Taji panjangnya sebuku jari. Ngeri saya.

Tak lama kemudian sang tetangga datang. Urus-urus sebentar, beres deh tuh taji dibungkus. Aman. Kini, si Kawur dan si jago tua sudah siap menanti lonceng berbunyi tanda pertempuran boleh dimulai.

Saat itu penonton lumayan banyak karena kebetulan pas hari libur. Asyiik…. Ada tontonan gratis. Mungkin itu yang ada di pikiran mereka.

Setelah semuanya siap, mulailah pertempuran terjadi. Seperti biasa, diawal-awal terjadi jual beli pukulan. Masing-masing mencoba memahami tenaga serta kelebihan lawan dan mencari celah kekurangan musuh. Si jago tua, pukulannya berantai. Hal itu pernah dikatakan oleh si pemiliknya. Dia bilang, nih jago mau dijadikan pamacek karena senang lihat pukulannya yang berkali-kali. Sedang si Kawur hanya pukul satu saja. Kelihatannya, pukulan dobel lebih menjanjikan. Tapi kita lihat saja nanti.

Si Kawur mulai mengandalkan jurus andalannya yaitu ngalung. Lep… Kepala musuh dijepitnya, namun sang musuh emoh dikunci. Dia meliuk-liukkan kepalanya demi melepas jepitan. Namun, sesekali ketika si Jago tua terkunci secepat kilat si Kawur melancarkan pukulan. Lumayan, kini si Kawur terlihat ada kemajuan walau belum seperti yang diharapkan.

Sayang, teknik yang bagus tidak diiringi oleh stamina yang prima membuat si Kawur terlihat terdesak walaupun dia yang mengontrol pertandingan. Tunggu, beberapa hari lagi, kita lihat bagaimana kemajuan si Kawur kalau sudah sehat benar, batin saya.

Pertandingan tak lama dihentikan. Si Kawur masih bersemangat. Dia mencoba untuk lepas dari pegangan dan menyeruduk musuh. Sabar yah Kawur, nanti ada saatnya. Cek fisik, ada luka baret di muka si Kawur. Haduh, nasibmu nak. Gak apa, biar kebal. Dua hari juga sembuh.

“Coba ama si Naga yah, jadi penasaran nih,” ajak saya sambil mengangkut si Kawur ke kandang.

“Ayok,” sahut tetangga.

Selang beberapa waktu, kini si Naga dan si Jago tua sudah saling berhadapan. Bel berbunyi, serentak mereka melepaskan pukulan masing-masing. Si Jago tua boleh punya kelebihan pukulan dobel. Tapi si Naga pun tak mau kalah. Dia punya pukulan berantai. Terjadilah jual beli pukulan. Seimbang.

Tapi… Ini si Naga. Sisiknya Naga Banda. Sisik yang terkenal punya pukulan membuat musuh lari karena kesakitan. Dalam beberapa kali pukulan, terlihat si Jago tua mulai merasakannya. Dia masuk ke kolong, namun hanya diam saja tidak mendongkrak.

“Licik dia mah ayamnya, seneng ngumpet di kolong,” ucap sang pemilik seperti bangga dengan ayam miliknya. Tak salah memang, semua pemilik ayam adu pasti akan membanggakan teknik milik ayamnya. Begitu pula dengan saya.

“Iyah,” sahut saya. Di batin sih ketawa. Tuh ayam, licik apa memang lagi ngerasain kesakitan.

Beberapa kali terjadi jual beli pukulan lagi. Mereka masing-masing mempunyai gaya main yang sama. Kepala saling berhadapan sambil nunduk, mata mengawasi gerakan musuh. Dirasa pas, naik melancarkan pukulan. Bisa sekali… ya sekali, bisa dua kali… ya lanjutkan. Mumpung ada kesempatan. Tenang rasanya melihat hal ini. Saya yakin menang.

Dan waktu yang ditunggu-tunggupun kini tiba. Si Jago tua berlari setelah jual beli pukulan dan sepertinya menerima sebuah uppercut di kaki yang sangat telak. Si Naga memburu sambil melontarkan pukulan terakhir karena kini si Jago tua sudah dipegang sama pemiliknya.

“Waah kalah yah,” teriak penonton.

Cek fisik. Ternyata si Jago tua robek di belakang kakinya. Luka lumayan lebar mengeluarkan darah. Yang terkena hajaran adalah benjolan seperti sebuah bubul di atas jari yang sejajar taji.

“Kalah yah,” ulang salah satu penonton.

“Kecapean. Kan bertanding sama dua musuh,” jawab si pemilik Jago tua seperti tidak mau mengakui kekalahan. Kecapean gimana pikir saya, orang bertanding cuman beberapa menit. Kalau dihitung waktu tidak ada satu babak. Tapi saya sih cuek. Apa kata elu deh, yang penting judulnya tuh ayam KO hehehe.

Cek fisik si Naga. Mulus, tidak ada luka-luka atau biru-biru. Bagus kamu Naga. Gituh donk kalau maen, jangan ninggalin luka yang bikin hati ketar-ketir. Setelah dirasa cukup, saya elapin tubuh si Naga sama si Kawur dengan air hangat. Khusus untuk si Kawur, ada kecupan hangat dari obat merah biar lukanya kering dan cepat sembuh.

Ada kebanggaan tersendiri ketika si Naga telah memenangkan pertempuran dengan jago yang lebih tua umurnya dan bahkan telah memenangkan pertarungan di arena. Keren kamu Naga!

Sexian, cerita ngaco tentang ayam bangkok 🙂 Salam hangat.

Baca juga kisah sebelumnya “Kisah Si Naga Lawan Katuncar Mawur” dan “Kisah Si Naga Episode Awal”. Serta nantikan juga kisah lanjutan dari si Naga ini diepisode yang akan datang.

Sisik Katuranggan Ayam Bangkok Antara Mitos & Realitas

Ditulis oleh Bayu Segara

Sisik adalah salah satu bagian seni dari ayam adu yang banyak diperhatikan oleh penggemarnya. Sisik bagus, rapih atau serem mempunyai keunikan masing-masing di hati sang pemilik. Nah, karena sisik ini pula, ada yang namanya istilah katuranggan sebagai bentuk dari seni pengamatan terhadap berbagai sisik yang ada.

Katuranggan, banyak yang bilang hanyalah sebuah mitos namun tidak sedikit yang mempercayainya. Banyak terjadi perdebatan tentang realita sebenernya dari kebenaran teori katuranggan ini. Sebagai contoh, sisik Naga Banda pukulannya menyakitkan hingga membuat musuh berlari. Bagi yang mempunyai ayam ini serta melihat bukti hasil pukulannya membuat musuh lari maka dia akan percaya. Namun bagi yang tidak percaya, pasti ada sanggahan. Misalnya karena tulangan si Naga Banda yang baik atau karena musuhnya tidak terawat atau apalah alasan lainnya. Tak apa, yang namanya percaya atau tidak percaya itu biasa.

Namun sebagai jalan tengah, mari kita berasumsi-asumsi. Karena yang mempercayai dan tidak mempercayai katuranggan itupun berasumsi. Karena kalau bilang percaya atau tidak percaya, masing-masing punya pola pikir yang berbeda. Punya alasan pembenaran yang beda pula. Dengan berasumsi, setidaknya ada gambaran realita dari si katuranggan ini.

Asumsi satu.
Sisik batu rante, ada seorang blogger (http://ayam-bangkok-com.blogspot.com/2013/06/ayam-tarung-sisik-buaya-lawan-ayam-tunggal-telur-satu.html?m=1) yang mengasumsikan seorang petinju tanpa sarung tangan sedangkan sisik lain pake sarung tangan. Sakitan mana pukulannya?
Jawaban:
Asumsinya adalah pukulan yang tidak memakai sarung tangan lebih sakit daripada yang memakai sarung tangan. Abaikan besarnya tenaga, karena kita bicara tentang tangan terbuka dan tangan tertutup sarung. Sudah itu saja. Kalau berasumsi bahwa tenaga diperhitungkan, maka asumsi satu ini bisa jadi asumsi satu, dua dan seterusnya.

Asumsi dua.
Apakah ketika kita mau membeli ayam adu, kita beli secara serampangan saja. Yang penting kelihatan berkualitas dan tahu silsilahnya tanpa cek fisik?
Jawaban:
Bagi kebanyakan penggemar ayam adu asumsinya adalah tidak. Pasti lihat keseimbangan kaki, badan, jumlah jari pecah sama atau tidak dan lain sebagainya yang dianggap sebagai ayam baik. Abaikan pembelinya adalah seorang amatir.

Asumsi tiga.
Jika anda disuruh memilih sisik ayam katuranggan dengan sisik ayam biasa yang masing-masing penampilannya bagus dan mempunyai trah juara, kira-kira mau pilih yang mana?
Jawaban:
Asumsinya adalah sebagian besar pasti memilih yang memiliki katuranggan. Sebab sisik katuranggan adalah sisik seni ataupun sisik yang langka.

Asumsi empat.
Apakah kita merasa ragu ketika mengadukan ayam kita yang tanpa taji atau taji tumpul dengan ayam musuh yang punya taji panjang dan runcing?
Jawaban:
Asumsinya adalah ragu. Karena kita berpikir bahwa nanti ayam kita cepat sobek, sedang ayam musuh lama sobeknya.

Asumsi lima.
Apakah kita ragu mengadukan ayam muda dengan yang tua?
Jawaban:
Asumsinya adalah ragu. Beda pengalaman dan kekebalan sepertinya berpengaruh.

Mungkin begitulah asumsi-asumsinya. Nah bagi yang percaya atau tidak percaya dengan sisik katuranggan ada sebuah pertanyaan.

Banyakan setuju atau tidak dengan asumsi tersebut?

Bagi yang percaya katuranggan, jika jawabannya iya, kita memang percaya 100% tentang katuranggan.

Bagi yang tidak percaya, namun kita banyak membenarkan asumsi di atas. Oalaaah… Ternyata sebenarnya kita mempercayai katuranggan tanpa menyadarinya!

Sekian bahasan tentang sisik katuranggan. Misalnya pembaca tidak setuju, jangan diambil hati yaa.. wong namanya juga asumsi-asumsi hehehe…