Tag Archives: Sangga Buana

Kisah Mistis Sangga Buana [Episode Terakhir]

Oleh : Bayu Segara

Alhamdulillah, malam itu tidak ada gangguan. Sampai pagi, tidak ada satupun mahluk yang datang menemani saya. Cuman nyamuk dan semut aja yang menggigit badan bikin gatel.

Pagi cerah, matahari nakal mulai keluar dari sarangnya. Masak lagi, sarapan lagi dan nikmat lagi ….. Namun jujur, sepertinya itu adalah sarapan ternikmat yang pernah saya makan. Karena kalau biasanya sarapan bersama temen kemping, walau saya yang masak, biasanya ga berasa enak, karena merasa tidak ada perjuangannya.

Beres sarapan, badan seger, tapi belom mandi. Ah peduli amat, gak ada cewek ini, mau wangi ke… mau bau ke… sapa yang peduli. Beres-beres sebentar, berangkaaaat.

Seperti perjalanan sebelumnya, mendaki Gunung Sangga Buana, merupakan aktivitas yang sangat berat. Tiba di lereng gunung, menjelang dzuhur. Eh ketemu ama orang, duuh senengnya. Orang-orang tersebut adalah peziarah yang sudah duluan berada di atas.

Maksud dan tujuan mereka kembali ke lereng gunung adalah untuk mencari air untuk wudhu. Karena di atas gunung, tidak ada sumber air yang bisa diambil airnya. Selain wudhu, juga untuk mandi.

Saya pun mengikuti mereka ke arah sumber air, dengan maksud pengen mandi. Karena badan udah lengket dan wangi menyengat. Hingga tak ada satupun binatang hutan yang berani mendekat…. Hihi diri sendiri dihina.

Di perjalanan ketemu sama burung-burung yang lagi jalan-jalan. Ini mah bener-bener jalan, mungkin burung Puyuh.. tapi ngga tau juga burung apa itu, karena saya belum pernah dikasih tahu orang yang bagaimana burung puyuh tersebut.

Saya kejar-kejar, karena keliatan jinak. Kena?? Boro-boro, ternyata larinya kuenceng, kayaknya burung tersebut abis minum kratingdaeng apa torpedo hehe… gagal deh niat dapetin burung puyuh. Padahal lumayan tuh buat lauk, nanti di atas.

Tiba di sumber air, saya takjub. Karena melihat pohon-pohon yang sudah tua dan alami. Kalau anda nonton film Tarzan, ya seperti itulah gambarannya. Akar-akar pohon bergelantungan, yang bikin ngayal jadi si Tarzan.

Airnya jernih dan dingin, cuman ada lintahnya di bawah pancuran. Geli-geli gimana gituh ngelihat lintah, apalagih liat ada beberapa biji yang nempel di kaki. Kalo saya sih cuek aja, biarin aja lintah ngisep darah saya, gak bakal habis ini. Yang penting mandi….telanjang bebas hahaha…..eh jangan ngintip yah kamu pembaca.

Beres mandi, seger deh badan, berangkat lagi menuju tujuan akhir yaitu puncak gunung. Jarak dari pancuran ini ke puncak, kurang lebih menghabiskan waktu 1 jam. Lumayan kan! Lumayan capek. Makanya kalau nanti pembaca kesini, bawa botol/jerigen yang banyak buat persiapan.

Tiba di atas gunung sekitar jam 2 siang, walau tidak serame dulu, namun ada banyak orang datang berziarah. Cukup membuat hati tentram. Karena tidak terbayang bagaimana takutnya saya, kalau cuman sendirian di puncak gunung ini. Sumpah biar dibayarpun, ga mau saya tinggal di atas sendirian… kecuali… ya kecuali nih.. kalau bayarannya gede hahaha.

Malam tiba, suara-suara hutan yang sudah rame tambah rame saja. Hingga saya tidak perlu musik lagi, cukup mendengarkan simfoni alam yang tiada duanya. Tidak Mozart, tidak Bach, yang bisa menandinginya.

Saya tidur di musholla yang ada di gunung tersebut. Sedangkan peziarah lain, saya ga terlalu memperhatikan karena malam itu hujan turun. Mungkin mereka tidur di saung-saung yang ada kuburan di dalamnya, sambil meminta berkah sama penghuni kubur tersebut. Karena umumnya, peziarah yang datang ke seini adalah orang-orang musyrik.

Salah satu bukti dari kemusyrikan mereka adalah adanya rokok, uang recehan dan kelapa yang tergeletak di atas kuburan. Saya sendiri ga tahu buat apa mereka menyimpan barang-barang tersebut di atas kuburan. Pikir saya, ga ada kerjaan. Mendingan rokoknya diisep dan kelapanya diminum, kan mantep…

Hujan semakin lebat, puncak gunung gelap gulita. Terdengar geledek sambar menyambar sangat nyaring, hingga menambah suasana seram malam itu. Air hujan tampias masuk ke dalam musholla, karena musholla tidak mempunyai dinding kaca atau bambu. Hingga saya terpaksa, pindah-pindah terus hingga ke tengah-tengah musholla agar tidak kebasahan.

Sengsara, di sekeliling musholla basah. Hanya selonjoran badan saja yang tidak basah dan itupun mesti ngeringkelin badan. Maaa… dosa apa aku ini. Kesengsaraan ini ditambah dengan kejadian aneh yang saya lihat.

Saya lihat ada awan hitam deket saung kuburan terdekat datang menghampiri tempat saya tidur. Udah mah hujan, gelap, suara gledek yang bikin pekak telinga ditambah dengan kedatangan awan hitam yang bikin bulu kuduk merinding. Wadoooow…. Sial amat nih idup. Hiks hiks

Saya tutupin badan saya dengan sarung, ketika awan hitam tersebut semakin mendekat dan masuk ke mushollah. Segala macam do’a-do’a saya sebutkan, telinga saya tutup takut mendengar suara-suara ajaib.

Ah pokoknya mah, saat itu kalo bisa kabur, pengen deh kabur secepatnya. Ato kalo bisa terbang, pengen deh terbang.
Alhamdulillah, walo ada kejadian serem, namun saya selamat juga sampai pagi. Terbangun dengan posisi badan masih seperti malam. Hiks hiks saking takutnya. Saya bahagia sekali, melihat matahari. Terasa seakan saya baru saja terlahir ke dunia ini.

Siangnya, saya ngobrol dengan seorang bapak-bapak. Saya tidak tahu namanya siapa, yang penting ngobrol. Dia ini orang hebat, gimana ga hebat. Selama 40 hari dia tidak tidur. Dan saya percaya, karena melihat matanya merah dan begitu sangat kelelahan. Luarbiasa apa gemblung yah nih orang. Ah peduli amat.

Dia bercerita tentang pesugihan. Katanya di puncak sebelah sana, ada tempat pesugihan ke siluman monyet. Wadow, nih cerita bikin menarik aja. Lanjut pak. Dia bilang ada sodaranya yang punya sawah cuman berapa petak, tapi kalo panen selalu tidak masuk akal. Karena hasilnya jauh diluar daya nalar.

Selidik punya selidik ternyata di pantatnya ada ekor, yaitu ekor monyet. Dan setelah diinterogasi oleh si Bapak tersebut, ternyata sodaranya itu sudah menjadi pengikut siluman alias nyugih.

Namun si Bapak tidak melanjutkan kisah akhir dari cerita dia tersebut. Gimana akhir dari si pesugih tersebut ngga ketauan. Namun dia menceritakan tentang adanya orang-orang yang datang sebelum ini. Orang-orang tersebut, menggedor-gedor pohon, dan banyak batu akik yang luruh dari pohon tersebut.

Hiks hiks cerita yang sulit dipercaya, tapi dengerin aja deh. Setelah dia cerita tentang kisah tadi, saya nanya sama dia, ngapain disini selama 40 hari. Dia cerita kalau sedang berusaha mengambil keris. Dia pun menunjukkan gundukan batu-batu yang katanya tempat keris tersebut. Weleh…weleh… cuman buat dapet keris, harus nyiksa diri selama itu. Sadar pak.

*****

Malam itu datang, bintang-bintang terlihat jelas, gugusannya memanjang berserakan. Ada yang kerlap-kerlip seperti seorang wanita yang datang menggoga. Desau angin yang sejuk terasa nyaman di kulit. Saya duduk-duduk di atas bangku, di depan musholla.

Malam itu begitu romantis, walau penuh dengan keangkeran. Sebagai petualang sejati, tak perduli. Romantis dan seram adalah dua sisi kehidupan yang bagi orang seperti saya ini gak ada bedanya. Seram di tempat romantis atau romantis di tempat seram siapa peduli. Yang penting nikmatin….

Tiba-tiba dari arah bawah gunung, datang sinar berwarna merah terang sebesar buah rambutan terbang ke arah saya dan melintasi kepala. Saya terbengong. Apa yah yang barusan lewat? Kalo yang ini ngga bikin takut, tapi bikin penasaran. Gak seperti kejadian kemaren sama awan hitam. Saya menunggu ada lagi sinar seperti itu lewat, namun sayang, hingga saya berangkat tidur, tidak ada lagi peristiwa-peristiwa yang bikin penasaran lagi.

Besoknya, saya tanyakan kepada bapak yang kemaren. Karena arah terbang sinar itu mengarah ke tempat dia biasa nongkrong. Dan beliau jawab itu adalah keris. Hiks hiks percaya ga percaya… tapi itulah jawaban dia.

Ini baru 2 malam disini. Saya sudah mengalami pengalaman aneh, apalagih kalo lebih dari itu, kira-kira saya masih kuat ngga yah. Dan satu lagih cerita dari si Bapak, bahwa kalo kita lagi ‘kebetulan melihat’, kita bisa melihat ada batu hitam terbang keluar dari kuburan yang ada di dalam saung. Tapi hanya orang-orang tertentu katanya yang bisa lihat. Woooow….

Akhirnya saya pulang, walaupun masih betah. Betah-betah takut hehehe…..

Anda mau mencoba??

Iklan

Kisah Mistis Sangga Buana [1]

Oleh : Bayu Segara

Hari itu, dengan semangat tinggi saya berangkat menuju Sangga Buana, sendirian. Gila yah, ke gunung yang angker berangkat sendirian. Tapi itulah jiwa muda, jiwa yang terkadang menampilkan ego dulu, logika belakangan.

Sampai kaki gunung hari beranjak sore, saya urungkan niat untuk naik sore itu juga. Abisnya takut sih. Saya lihat ke sekeliling, mencari tempat untuk bermalam. Celingak celinguk, hingga akhirnya mata tertumbuk sama saung di tengah-tengah sawah. Nah ini dia tempat yang saya cari, batin saya.

Keadaan saung kosong, lumayan nyaman untuk bermalam. Selain ada bale-balenya, kebetulan juga ada panci untuk memasak. Rezeki nomplok nih. Beras yang saya bawa di ransel saya keluarkan bersama ikan asin sebagai lauk.

Mencari kayu bakar dan air untuk menanak nasi tidaklah susah, banyak ranting-ranting berserakan dan air mengalir dengan deras di selokan, tinggal ciduk. Beres mencari kayu bakar dan air, saya masak nasi dan membakar ikan asin. Hebat yah saya, udah mah cowok idaman, bisa masak pula hahaha…narsis.

Malam bergerak turun, menutupi lembah tempat saya bermalam. Bersamaan dengan itu, nasi dan ikan asin sudah matang. Wuiih wanginya ikan asin itu mak… yang bikin kelojotan cacing-cacing di perut. Tanpa babibu.. saya hajar hidangan mewah itu. Selamat makan….

Abis makan, perut kenyang. Kalo abis minum, perut kembung hehe.. ngerokok dong, biar tambah sip acaranya. Dan secangkir kopi tak lupa saya hidangkan biar lebih menggigit suasana saat itu. Pokoknya mah hidupnya kayak hidup sendirian, tapi nikmatnya kayak hidup berame-rame.

Tiba-tiba… jueger… jleger… suara tubrukan benda berkali-kali memenuhi lembah, gaungnya terpantul berulang-ulang. Breeeeng….bulu kuduk merinding… alamak… apa ini. Ternyata petualang hebat seperti saya, ini masih punya rasa takut… haha cemen tapi sombong.

Biasanya ketakutan yang berulang-ulang dan tidak ada jalan keluarnya, bisa menimbulkan keberanian. Itu pula yang terjadi dengan saya. Mati…mati deh pikir saya saat itu.

Saya ambil kayu yang masih menyala, berjaga-jaga kalau ada sesuatu mendatangi saung tempat saya berlindung. Namun tidak ada satu mahlukpun yang mendatangi, tapi suara tubrukan masih terus terdengar, bahkan begitu dekat.

Lama-lama saya penasaran. Dengan memberanikan diri, saya keluar membawa kayu yang masih menyala. Di luar saya celingak-celinguk ke arah sumber suara. Dan saya lihat ada pohon pisang yang sedang bergoyang-goyang, seperti sedang ditabrak untuk dirubuhkan.

Kayu bakar semakin erat saya pegang dan bersiap-siap dari segala kemungkinan. Tak lama kemudian suara pohon tumbang terdengar. Ternyata pohon pisang itu tumbang. Sepi…..setelahnya, tak ada lagi suara tumbukan. Saat itu adalah saat yang mencekam bagi saya. Perasaan takut terhadap mahluk yang menabrak pisang itu akan datang mendatangi.

Namun sampai lama, saya bersiap-siap tak ada satupun mahluk yang saya takuti datang. Kayaknya bagong [babi hutan] nih, pikir saya. Sialan…… Bikin takut aja. Bilang kek kalo gue bagong yang lagi cari makan hehe…

Bersambung ke Kisah Mistis Sangga Buana [Episode Terakhir]

Gunung Sangga Buana Yang Penuh Mistis

Dulu waktu saya tinggal di Karawang, saya mempunyai seorang teman. Dia teman kerja saya. Namanya Endang, aslinya orang Tasikmalaya, gak aslinya orang Utan hehe..
Persahabatan kami ini didasari oleh satu lingkungan pekerjaan dan satu kesamaan hobi. Hobi kami saat itu yaitu bicara filsafat dan melakukan perjalanan.

Suatu hari kami jalan-jalan ke Curug Cigentis yang terletak di Selatan Karawang. Curug Cigentis ini masuk ke wilayah Desa Loji, Kecamatan Pangkalan. Perjalanan ke tempat ini, jika ditempuh dengan motor kurang lebih 1 jam.

Jika anda tertarik untuk datang ke Curug Cigentis, bagi yang suka naik angkutan umum anda bisa berhenti di Karawang Barat seandainya angkutan umum tersebut lewat toll. Selepas pintu gerbang toll ada jembatan, kita turun dari jembatan tersebut karena biasanya bus antarkota berhenti disini.

Di bawah jembatan biasanya sudah menanti mobil elf yang akan membawa kita ke Loji-Pangkalan. Mengenai tarif, saya tidak bisa memberikan info lebih lanjut karena terakhir saya kesana sudah beberapa tahun lalu.

Pada waktu itu kami duduk-duduk di depan pintu loket. Karena untuk masuk ke Curug Cigentis, kita mesti bayar biaya retribusi. Kami bertemu dengan penjaga loket tersebut yang saya tidak tahu namanya, maklum dia bukan cewek sih…. Hehehe. Kami mengobrol dengan beliau karena tertarik dengan tongkatnya. Ajaib kali yah tongkatnya, hingga kami tertarik sama tongkatnya. Haha tambah ngaco nih cerita.

Memang ajaib tuh tongkat. Ini kami ketahui setelah kami mengobrol dengan beliau. Katanya ini tongkat bisa mengusir ular. Wow… kami yang anak muda ini merasa tertarik pengen memiliki. Memang pada saat itu yang ada di pikiran kami begitu, padahal kalo sekarang mah pasti saya mikir, buat apa punya tongkat pengusir ular, wong kita hidup di kota bukan di kampung. Maklumlah bang, anak muda kan pengennya eksis.

Lanjut ama cerita. Nah, si tongkat sakti ini konon katanya ngedapetinnya di Gunung Sangga Buana. Wuih, tambah menarik lagi bagi kami nih cerita. Kami terus bertanya bagaimana agar kami bisa kesana dan ke arah mana. Beliau dengan senang hati menunjukkan arahnya.

Kata beliau, jika kita berjalan ke Curug Cigentis, maka di Kampung terakhir menuju kesini ada dua jalan. Yang ke kiri jalan menuju Curug Cigentis, sedangkan jika ke kanan, maka kita akan menemukan jalan menuju SanggaBuana bahkan ke Cianjur. Akhir dari obrolan itu, saya dan Endang berkomitmen untuk melakukan perjalanan ke sana di waktu mendatang.

Dan Alhamdulillah, akhirnya saat yang dinanti tiba juga. Setelah persiapan dengan berbagai bekal kami berangkat juga. Berbunga-bunga rasanya karena bakal jalan-jalan dan menemukan pengalaman baru.

Singkat cerita kami tiba di Desa Loji, sesuai petunjuk si Bapak penjaga itu, di dusun terakhir yang kami temui kami mengambil jalur kanan. Ternyata jalur ini adalah jalur sawah, pantesan kami kemaren tidak melihat jalur ini.

Setelah sawah habis, kita akan menemukan bebukitan. Setelah bebukitan dilewati baru kita menemukan pegunungan. Rute ini memaksa kami sering melakukan banyak istirahat karena kami yang jarang olehraga ini sering kecapean. Maklumlah…biasa olahraga tangan di kamar mandi sih…hahaha… ssst jangan bilang-bilang sapa-sapa.

Ada kejadian unik ketika kami selepas mendaki bukit pesawahan. Saat itu kami yang kecapean, duduk-duduk sambil beristirahat dan tidak lupa photo-photo sambil makan bekal. Tiba-tiba datang rombongan yang terdiri dari seorang kakek tua, seorang wanita berusia enam belas tahunan dan seorang lagi saya lupa cewek cowoknya dan tua atau mudanya.

Waktu itu kami sedang photo-photo, tiba-tiba si kakek menghampiri dan minta photo bareng. Kita melongo dan mata kami saling pandang sambil mengulum senyum. Aih ada-ada saja nih si Kakek, ternyata dia pengen numpang eksis doang hahaha. Karena setelah photo bareng, dia dan gerombolannya langsung ngeloyor pergi..

Kakek .. kakek… eh kakek aku lupa loh ngga nanyain nama cucu kakek…hihi

Setelah si kakek dan gerombolannya menghilang, kami mendapatkan bahan omongan baru. Yaitu tentang keluguan dari si kakek yang minta photo bareng dan tentang kecepatan serta kekuatan mereka dalam melakukan perjalanan. Bayangkan, untuk mendaki kurang lebih 100 meter kami begitu kesulitan dan memerlukan waktu yang lama, tapi bagi mereka hanya dalam hitungan sekejap saja. Dan tahu-tahu sudah tidak terlihat oleh mata. Luar biasa….

Dan tau ngga, ternyata setelah kami mencapai puncak Gunung SanggaBuana, mereka ini tidak ada. Padahal jelas-jelas kami melihat mereka berjalan ke arah kaki Gunung Sanggabuana. Alah ma… jangan-jangan….tatuuuuut.

Setelah dirasa cukup beristirahat akhirnya kami melanjutkan perjalanan. Tiba di kaki gunung, mulai terasa seram. Di kaki gunung kami menemukan kuburan tua. Entah kuburan siapa. Saat itu kami tidak berpikiran apa-apa, yang ada adalah rasa heran, kok ada kuburan di sini dan sudah tua sekali kuburannya.

Ternyata perjalanan kami tambah berat ketika kami mulai mendaki gunung tersebut. Kami hanya bisa mengangkat kaki untuk sepuluh langkah, sisanya kami berhenti. Jalan setapaknya rapih, terdiri dari undakan bebatuan. Saya gak habis pikir, kok bisa naek ke atas gunung tapi ada undakan yang begitu rapih sedangkan hutannya masih begituh angker. Sampai sekarang, pikiran tersebut belum bisa saya temukan jawabannya.

Belum habis pertanyaan tersebut, ada pertanyaan baru lagi. Pertanyaan baru ini timbul setelah melihat rombongan orang datang menyusul kami. Salah satu dari mereka ada yang memanggul barang bawaan. Yang memanggul barang bawaan ini adalah orang upahan, porter bahasa kerennya. Oalaaaah Pak, ini sayah begituh terengah-engah dan capeknya setengah mati untuk mendaki gunung ini, lah ini Bapak enak-enakan memanggul barang, apa sih rahasianya. Dan saya tidak dapat menemukan jawabannya sampai sekarang, karena saya ngga bertanya sama dia hehe dudul.

Siksaan dating ketika hujan turun. Dimana dalam kondisi tanah kering kami kepayahan menaklukan medan, ini ditambah dengan hujan, luar biasa derita yang kami alami saat itu. Hehe lebay mode on.

Setelah delapan jam kami berjuang dengan memaksa kaki dan menguras tenaga akhirnya kami sampai juga di atas gunung. Segala penat letih dan sengsara seakan hilang begitu kami menginjak daratan puncak. Haha… daratan… kesannya abis dari laut. Namun begitulah bayangannya, ibarat lama terombang-ambing dilautan eh nemuin daratan. Gimana gak seneng coba.

Cuman kami terkejut, karena ternyata di atas puncak gunung banyak orang. Wuiiih… kami terbengong-bengong.. kok bisa?… Malah ada yang jualan kopi!! Ah peduli setan coy, liat kopi yang masih mengepul mulut ini langsung goyah, hidung langsung limbung. Dideketin lah tuh tukang kopi. Bang atu….seru saya.

Kopi yang saya pegang itu masih panas, namun karena habis kedinginan langsung saya seruput saja tuh kopi. Ajaib!! Kopinya tidak terasa panas menyengat, tapi panas biasa, yaitu panas yang bisa kita minum… ada-ada aja. Apa karena ilmu saya sudah tinggi sehingga air kopi panas ini tidak begitu panas di mulut. Hehe

Ternyata setelah kejadian itu baru saya tahu teorinya. Teorinya adalah titik didih air di dataran rendah dan dataran tinggi itu berbeda. Di puncak gunung, tekanannya lebih rendah dari normal (1 atm). Jadi, titik didih air pun jadi lebih rendah. Contohnya, pada ketinggian 10.000 kaki, titik didih menjadi 90 C. Itulah kenapa air lebih cepat mendidih di puncak gunung daripada di dataran rendah.

Setelah ngupi, saya melihat-lihat sekeliling. Terkaget-kaget saya mendapati kenyataan di sekeliling puncak gunung ini. Saya tidak bisa menerima kenyataan ini. Sungguh… hehe. Ya gimana ga bisa menerima kenyataan, melihat banyak kuburan di atas gunung!!!

Coba pake logika, di atas gunung tidak ada perkampungan tapi kenapa ada banyak kuburan. Gimana caranya?? Jika ini kuburan adalah kuburan penduduk di sekeliling gunung, bagaimana membawa kerandanya dan apakah memang mau bagi pembawa mayit melintasi terjalnya jalan untuk membawa keranda ke atas puncak gunung yang begitu tinggi. Ah pikirin deh sendiri… abang sudah pusing nih.

Hebatnya lagi kuburan ini adalah bukan kuburan orang lokal setelah saya teliti. Orang-orang yang dikubur disini adalah orang Cirebon. Ini menurut perkiraan saya Karena melihat samara-samar kata-kata cirebon di batu nisan salah satu kuburan. Tambah luar biasa lagi…

Menurut desas-desus dari orang-orang yang saya tanyakan mengenai kenyataan yang ajaib ini ada satu cerita yang turun temurun. Katanya dulu, banyak orang berterbangan membawa keranda ke arah Gunung Sangga Buana. Benar tidak cerita ini Wallahualam, tapi kalau melihat kenyataan, ingin rasanya saya percaya.

Banyaknya orang yang ada di atas puncak gunung ini tak lain karena mereka sedang ziarah karena kebetulan waktu itu adalah bulan mulud. Dimana bulan mulud adalah bulannya para peziarah. Pantesan…

Namun sangat disayangkan, banyak peziarah yang musyrik. Mereka meminta-minta ke kuburan. Disituh ada beberapa kuburan yang diberi saung, satu yang saya perhatikan adalah kuburan Eyang Haji Ganda Malela. Nah kemusyrikan mereka macem-macem. Ada yang minta kaya, ada yang minta suara bagus dan lain sebagainya. Ada yang meyakini, jika ingin kaya, maka kita harus meminta kekuburan yang ini. Jika ingin yang lain minta ke kuburan yang itu. Astaghfirullah. Manusia… manusia.

Kemusyrikan ini didukung oleh berdirinya mushalla yang katanya dibangun oleh seseorang yang sudah berhasil karena mengunjungi gunung tersebut. Gak tahu gimana ceritanya… tapi itulah desas desus yang saya dengar.

Gunung Sangga Buana ini gunung yang indah, begitu kokoh mengapit tiga kota. Ke timur adalah kota Purwakarta, Ke selatan adalah kota Cianjur dan ke barat adalah kota Karawang. Jatiluhur bisa dilihat dari sini secara jelas, dimana menambah keindahan gunung ini.

Keunikan saya temui dari gunung ini adalah Elang Jawa. Kita dapat melihat secara dekat Elang Jawa bersarang di atas pepohonan di atas Gunung Sangga Buana ini. Dan seumur hidup baru sekali saya melihat elang yang begitu besar dan di habitat alaminya.

Gunung Sangga Buana. Gunung yang angker, alami dan penuh mistis.
[lain kali saya akan cerita tentang kemistisan lainnya]