Monthly Archives: Juli 2013

Terkait FPI, Bolehkah Ormas Merazia? Ini Jawabannya.

Biasanya dibulan ramadhan, FPI selalu menjadi sorotan masyarakat. Entah itu karena ketidaksetujuan atau keberpihakkan dari masing-masing pribadi terhadap aksi yang dilancarkan oleh FPI atau hanya ingin tahu apa saja yang dilakukan dan dimana mereka akan bergerak. Dibulan ini biasanya FPI gencar turun ke jalan mencoba untuk merazia atau membubarkan secara paksa hal-hal yang dianggap kemaksiatan.

Bagi orang yang katanya mengerti hukum, FPI salah, sudah tidak dapat diganggu gugat. Biarkan hukum yang mengatasi permasalahan tersebut!

Sedangkan untuk yang tidak percaya dengan hukum, orang-orang yang gemas dengan lemahnya hukum atau fihak yang mengedepankan; aksi nomor satu tidak hanya omong saja atau orang amar ma’ruf nahi munkar, pastinya aksi FPI adalah benar dan didukung.

Kebetulan di bulan ini ada terjadi insiden yang melibatkan FPI sehingga menimbulkan korban jiwa, hal ini membuat orang-orang yang tidak suka dengan FPI meradang. Bubarkan FPI katanya. Bagi orang yang mendukung FPI, hukum orang FPI yang melanggar bukan bubarkan FPInya. Akhirnya banyak debat diadakan dengan topik menyangkut FPI; topiknya adalah apakah ormas boleh merazia?

Begini saya kasih analogi menjawab pertanyaan ini:

Ada pencopet atau penjahat yang beraksi dan meresahkan di lingkungan kita.

Bagi yang mengerti hukum (pembenci FPI) pasti dibiarkan, mereka akan berkilah itu urusan hukum, biarkan polisi yang mengurusnya.

Tapi bagi pihak yang kedua yaitu yang proaktif (pendukung FPI), mereka pasti menangkap dan membawa penjahat itu ke pihak berwenang.

Sudah mengerti dengan analogi saya bukan?

Atau saya beri analogi lagi:

Seorang pemikir jika ditawari air teh atau kopi, mereka akan menimbang baik-buruknya terlebih dahulu, lebih berguna yang mana dan banyak pemikiran lagi sehingga proses air masuk ke tenggorokannya bisa lama waktunya. Tapi bagi seorang yang berpikir sederhana, apa yang dipikirnya saat itu maka itulah yang diputuskan sehingga cepat air minum itu masuk ke tenggorokannya baik teh ataupun kopi.

Sudah mengerti kemana arah pembicaraan ini bukan? Mengerti atau tidak mari kita lanjut.

Kemaksiatan adalah musuh bersama, masyarakat dan polisi. Tidak hanya tugas polisi saja. Sungguh rumit dan tidak cerdas jika semua hal kemaksiatan diserahkan kepada polisi.

Apakah mungkin polisi mempunyai personil dan dana yang mencukupi untuk selalu bergerak menindas kemaksiatan setiap harinya? Pasti ada prioritas utama mereka dalam bertindak sehari-harinya, tidak akan mungkin semua hal mereka sanggup atasi. Atau apakah kita bisa menjamin bahwa polisi bersih dari kolusi dengan pihak yang melakukan maksiat? Tidak bukan. Oleh karena itu masyarakat pun mesti bergerak dan proaktif tidak hanya menyerahkan semuanya kepada hukum!

Sekarang FPI proaktif, kenapa mereka yang harus dibubarkan hanya karena kesalahan mereka dalam caranya untuk membantu masyarakat dan polisi untuk memerangi maksiat?

Seharusnya, bukankah mereka itu perlu dibina dan diarahkan serta dirangkul agar FPI atau ormas-ormas yang proaktif tidak melanggar hukum sehingga FPI berdiri dengan cerdas dan masyarakat menjadi senang serta tenang?

Jika semua orang berbicara serahkan urusan ini pada polisi; kami juga beragama dan tidak menyukai kemaksiatan tanpa aksi nyata sedikitpun; atau biar kami berjuang di dewan rakyat untuk urusan ini dan perkataan-perkataan lainnya yang belum tentu ada realisasinya, sungguh kasihan polisi di negeri ini, mereka menjadi superhero padahal superhero pun tidaklah super. Batman, Superman atau Spiderman selalu beraksi di negeri orang sana tidak pernah mampir ke negeri ini, pastikan kita mengerti hal itu!

Baiklah, misalnya FPI atau ormas yang proaktif ini harus dibubarkan dengan pertimbangan a sampai z, pertanyaanya adalah ; apakah rezim pemerintahan mau tegas untuk memberantas kemaksiatan dan menjamin keinginan masyarakat muslim untuk melaksanakan kenyamanan beragamanya? Mesti diingat, sampai sekarang masyarakat muslim tidak pernah dapat menggunakan haknya untuk menggunakan hukum islamnya di negeri ini, mereka masih menggunakan hukum non muslim dan itu sudah berjalan sejak dari zaman kemerdekaan! (ingin sekali saya bertanya kepada orang-orang yang berkata “kami mengerti hukum biar berjuang di dewan”, mana buktinya ucapan itu?)

Misalnya jawaban untuk hal tersebut; pemerintahan saat ini belum bisa tegas dan sanggup mengayomi haknya warga muslim, maka suatu kesalahan besar bagi pemerintah untuk membubarkan atau mengebiri dan membatasi gerakan ormas-ormas proaktif seperti FPI ini!

Terakhir, bolehkah ormas merazia? Jawabannya; seperti masyarakat yang diperbolehkan untuk proaktif siskamling, maka razia ormas tegas saya katakan BOLEH. Tegasnya saya seperti tegasnya Ratna Sarumpaet yang minta FPI dibubarkan. Bolehkah ormas melakukan anarkis, TIDAK. Haruskah anggota ormas dihukum jika melakukan kesalahan HARUS.

Iklan

Mak Erot dan Peran Perubahan Anak

Ditulis oleh : Bayu Segara

Ada pepatah yang mengatakan bahwa tidak ada bujangan yang kaya dalam hidup ini. Sebuah pepatah yang menarik. Walau dalam kenyataan, banyak bujangan yang kaya. Memang, pepatah ini tidak sepenuhnya benar. Tetapi, bukanlah tepat atau tidak tepat, benar atau tidak benarnya pepatah ini yang mesti kita kaji karena ternyata ada banyak pepatah orang tua zaman dulu yang juga tidak sesuai dengan kenyataan. Namun anehnya, pepatah itu selalu turun temurun dan diwariskan dari generasi ke generasi walaupun mereka mengetahui ketidakbenaran atau ketidaktepatan pepatah itu.

Lalu apa yang mesti kita kaji dari pepatah tersebut? Sebuah pesan. Ya, sebuah pesan, semua pepatah orang tua zaman dulu selalu mengandung pesan. Misalnya ada pepatah yang mengatakan; jangan duduk di pintu nanti susah jodoh. Pesan dari pepatah ini adalah larangan agar tidak menghalangi jalan. Pepatah ini diucapkan oleh orangtua zaman dahulu dikarenakan mereka mengerti sisi psikologi manusia. Seorang manusia biasanya akan merasa takut dan menurut jika mereka ditakut-takuti dengan hukuman yang menurut mereka begitu mengerikan. Hal inilah yang dimanfaatkan oleh orangtua zaman dulu untuk mengatur anak-anak mereka agar mau menuruti perintahnya tanpa harus ada bantahan dan perlawanan.

Pesan apakah yang ingin disampaikan oleh orangtua pada pepatah tidak ada bujangan yang kaya? Sebuah pesan untuk membangkitkan semangat seorang pria. Jika ingin kaya, cepatlah menikah itu inti pesannya. Adakah kebenaran dari ketidaktepatannya seluruh pesan ini?

Jika anda mengamati ke sekeliling anda secara seksama, pasti anda akan menyetujui pepatah tersebut sembilan puluh sembilan persen benar adanya. Rumah-rumah orang kaya biasanya selalu terisi oleh orang-orang yang sudah menikah. Satu persen penolakannya, karena anda tahu ada juga yang bujangan kaya.

Sebagai gambaran, penulis ceritakan salah satu kisah tetangga dekat rumah waktu dulu penulis menetap di Malang sana. Sebut saja namanya mas Karyo. Dahulu ia hanyalah seorang tukang masak biasa di sebuah hotel. Ia seorang pekerja keras dan sangat menyukai sekali pekerjaannya. Bagi dia masak adalah jiwanya, hingga tidak perduli harus kerja sampai larut malam walau tanpa apresiasi yang baik dari manajemen, karirnya disitu-situ saja, mandek. Namun, nasib manusia tidak ada yang tahu, akhirnya ia keluar dari pekerjaan. Entah apa penyebabnya yang pasti.
Setelah keluar dari pekerjaan, ia terpuruk. Ketika sudah di titik nadir keterpurukkannya ia pulang kampung membawa isterinya ke Ngawi sana. “Saya bangkrut,” ucap ia pada isterinya. Padahal ketika itu isterinya sedang mengandung anak pertama buah cinta mereka.

Setiap pria yang bertanggungjawab biasanya akan selalu berusaha agar anak dan isterinya tidak menderita. Begitu juga dengan mas Karyo, dalam keterpurukannya ia tetap berusaha. Setelah melalui proses yang cukup lama akhirnya ia bisa menggapai kesuksesan. Sekarang mas Karyo mempunyai rumah yang bagus, mobil idaman tersimpan di garasi dan cabang usaha dagangnya tersebar di mall-mall besar Malang sana. Apa yang menarik dari seorang mas Karyo ini bagi penulis adalah ucapannya ketika membawa anaknya mancing bareng kami di sungai sekitar perumahan, dia berkata “anak yang membawa keberuntungan,” ucap ia sambil mengelus rambut anaknya.

Peran Perubahan Internal.

Anak. Ya, anak adalah sisi lain dari semangat orangtua dalam bekerja atau mengumpulkan harta dan kekayaan sehari-harinya. Kita sering memandang anak adalah sebagai obyek bukan sebagai subyek. Sering kita dengar kata-kata “buat beli susu anak saya” atau “nanti anak dan isteri saya makan apa” terlontar dari mulut seorang ayah. Tetapi jarang sekali kita mendengar “saya kaya atau sukses gara-gara anak saya”. Padahal orangtua bekerja begitu keras memeras keringat dan membanting tulang karena digerakkan oleh anak, maka oleh karena itu anak adalah subyek bukan lagi obyek dalam hal ini seperti yang dikatakan secara tidak sadar oleh mas Karyo. Anaknyalah yang menggerakkan mas Karyo untuk bekerja dan berusaha dua kali lipat dari biasanya sehingga menjadi sukses. Maka tepatlah pepatah yang mengatakan tidak ada bujangan yang kaya, karena ternyata anak adalah salah satu pion pemicu seorang pria menjadi kaya.

Peran perubahan yang dilakukan anak begitu besar dalam keluarga. Anak bisa menjadi membawa perubahan positif maupun negatif tergantung dari kecerdasan emosi orangtuanya. Contoh di atas adalah perubahan positif, tentunya untuk mencari contoh negatif kita bisa memberikannya namun dalam tulisan ini kita mengabaikan hal tersebut.

Akan kita menemukan seorang suami yang dahulunya senang berkeluyuran hingga isterinya sering marah-marah karena dinilai keterlaluan namun anehnya ketika sudah mempunyai anak kesukaan suami itu berubah, jadi senang di rumah. Atau akan kita dengar seorang pria berkata “saya kangen sama anak, kamu tidak akan mengerti sampai kamu menjadi ayah”. Banyak contoh lain yang menjelaskan bahwa begitu banyak perubahan-perubahan dalam keluarga dikarenakan hadirnya seorang anak. Oleh karena itu kalau mau jujur sebenarnya kita tidak perlu mencari peran perubahan anak diluar sana, karena peran anak sudah begitu besar dalam keluarga itu sendiri.

Peran Perubahan Eksternal.

Di atas kita membicarakan peran perubahan anak internal keluarga sekarang mari kita bicara peran perubahan eksternalnya sehingga bahasan ini menjadi lengkap.

Seperti peran internal yang memakai contoh-contoh, peran eksternalpun penulis berikan serupa. Contoh pertama; untuk anda yang tinggal di pedesaan, pernahkah anda mengalami bahwa anak anda berubah bahasanya sejak kedatangan anak kecil dari Jakarta atau anak-anak kota besar yang sehari-harinya memakai bahasa indonesia dalam obrolannya berkunjung ke tempat anda. Kebanyakan pasti mengalami. Anak anda jadi ikut-ikutan memakai bahasa indonesia walau campur-campur dengan bahasa daerahnya dikarenakan bergaul dengan anak kota tersebut.

Atau contoh lain; pernahkah kita sadari bahwa banyak anak kecil, wanita, bahkan lelaki dewasa tergerak minatnya untuk memainkan gitar seperti yang dilakukan oleh seorang Sungha Jung. Siapa Sungha Jung? Dia adalah anak yang sudah pandai memainkan gitar sejak usianya masih belia, jika anda penasaran dan belum mengetahui sosoknya silahkan ketik sungha jung di kolom pencarian Youtube.

Atau pernahkah anda menyadari bahwa tiba-tiba tukang warung di sudut sana menjual layangan bulan ini dikarenakan anak kecil ramai-ramai mencari dan memainkan layangan?

Kita semua pasti sadar dengan contoh-contoh di atas bahwa seorang anak mempunyai peran perubahan untuk sekitarnya, yang kita tidak sadar adalah bahwa peran anak itu ternyata bisa sebagai subyek bukan hanya obyek seperti yang penulis jelaskan di atas. Sehingga, tanpa kita sadari, kita telah mendidik anak-anak kita sebagai sebuah obyek. Padahal anak juga berperan sangat besar menggerakkan roda ekonomi, sosial dan budaya yang sangat penting disamping orang dewasa.

Jika sudah menyadari hal itu, mari kita mendukung dan memberi semangat kepada anak-anak kita untuk berperan sesuai dengan minat dan bakatnya, jangan kita menyetir mereka sesuai dengan minat kita. Jadilah rambu-rambu jalan bagi anak kita sebagai sopir hidupnya bukan kita yang jadi sopir hidupnya. Biarkan ia tumbuh dengan baik dan nyaman dengan bakatnya sehingga mereka menjadi seorang subyek yang baik. Contohlah seorang Mak Erot yang mengerti keinginan pasiennya untuk melakukan perubahan, ia tidak begitu dominan dalam peran perubahan, ia hanya memberikan jalan dan rambu-rambu agar peran perubahan yang dinginkan oleh pasiennya berhasil.

Anak dari lahirnya sudah punya peran perubahan yang sangat penting, jangan kita memberikan paksaan mengacu pada patron hidup kita karena mereka sudah mempunyai patron hidup masing-masing, biarkan tumbuh dan kembangnya secara alami karena ternyata Tuhan telah memberikan sesuatu sesuai dengan takarannya dan Dia tidak mungkin salah.