Monthly Archives: November 2010

Bagaimana Cara Melupakan Mantan Pacar

Ada beberapa wanita yang curhat sama saya, mengenai gimana menghadapi kenyataan cowoknya yang memutuskan dia. Inilah triks-triks yang saya bagi:

Pertama, Carilah keburukannya, jangan cari kebaikannya. Karena kalau kita kenangkan kebaikannya, maka hati kita akan berasa sakit.

Kedua, Anggap dia bukan jodoh kita. Kalau dia memang jodoh kita, suatu saat dia akan kembali atau tak mungkin dia akan memutuskan kita.

Ketiga, Carilah pacar baru. Sebenernya ini obat yang paling mujarab. Emang sih katanya cewek susah untuk dapat menerima cinta lain dalam waktu yang cepat. Tapi ini harus dipaksakan. Ibaratnya, jika kita kehilangan kucing, maka carilah kucing pengganti.

Sebenernya lucu yang namanya cinta. Hari ini bilang sayang, esok hari ketika ada berantem atau diputusin bisa berubah kata cinta menjadi benci. Jadi sebenernya rahasia dari cinta ini apa sih.

Sebenernya rahasia dari cinta ini adalah:

—–Zona nyaman.
Ketika seseorang sudah merasakan nyaman dengan suatu keadaan kemudian dia menghadapi keadaan baru maka secara otomatis perasaan akan merasakan penolakan untuk keluar dari zona nyaman tersebut. Kita terbiasa disayang oleh pacar kita, suatu saat kita ditinggalkan. Maka ketika zona nyaman kita [terbiasa disayang] itu hilang, maka secara alami, perasaan kita akan menolaknya. Jika perasaan sudah menolak, maka akal dan pikiran akan tidak berpikir sehat lagi.

Pasti anda yang pernah bercinta lebih dari sekali akan merasakan atau mentertawakan keaadaan ini. Dulu ketika anda diputuskan oleh pacar, anda menangis atau mengiba-iba ingin balikan atau jangan diputuskan. Namun ketika seiring waktu anda terpaksa keluar dari zona nyaman dan menemukan pasangan baru, maka akan anda tertawai kisah anda yang menghiba-hiba kepada pasangan anda. Ngapain saya ngelakuin itu kayak ngga ada cowok/cewek lain??

—–Kebodohan
Yang dimaksud kebodohan adalah karena kita merasa seolah-olah, jika kita ditinggalkan oleh pasangan, maka kita tidak akan mendapatkan penggantinya. Seolah kita ini hidup dalam waktu sehari saja. Baru kita sadari ketika lama kita ditinggalkan dan kemudian mendapatkan pasangan baru.

—–Menentang takdir
Sebenernya yang namanya jodoh itu Tuhan sudah mengatur. Artinya kita sudah punya belahan jiwa masing-masing. Namun karena kita tidak sabar atau ingin seperti orang lain yang punya pacar, maka kita mencari atau mendapatkan seorang pacar yang sebenernya bukan jodoh kita. Maka disinilah permasalahannya. Terkadang di mata kita baik, tapi di mata Tuhan tidak. Karena alasan itu kita akan selalu sakit jika ditinggalkan oleh kekasih kita.

Jadi kalo pacaran itu santai aja dan jangan mendalami sampai 100%. Jika suatu saat nanti kita ditinggalkan oleh kekasih kita, maka kita sudah siap menerima kenyataan. Atau kalau mau mantep, cari lebih dari satu pacar, biar ketika diputuskan masih ada cadangannya hahaha

Adab Sopan Santun Zaman Dulu [Khususnya Adat Sunda].

Saya buatkan beberapa contoh dari adat sopan santun orang-orang zaman dahulu khususnya adat sunda. Tulisan ini dibuat menurut pengetahuan dan pengalaman saja yang mana mungkin banyak yang belum tertampung dalam Adab sopan santun tersebut, jika saudara bisa memberi masukan maka dengan senang hati saya akan menambahkan atau mengkoreksi jika ada kesalahan.

Sopan santun yang Sunda punya diantaranya adalah sebagai berikut:
—Jika lewat di depan rumah seseorang, dan kebetulan orangnya ada di beranda rumah atau kelihatan, seseorang yang lewat harus mengucapkan “punten/permisi”.
—Jika lewat di depan orang yang jauh lebih tua dan jaraknya dekat, misalnya dalam suatu pertemuan atau riungan, maka diharuskan untuk membungkukan badan dengan tangan kanan lebih rendah daripada tangan kiri seolah-olah tangan kanan sedang memungut sesuatu sambil mengucapkan “punten/permisi”.
—Ketika makan, tidak boleh ada suara dari mulut ketika mengunyah.
—Tidak kentut di depan orang yang lebih tua atau di depan orang, apalagi seorang gadis/wanita, sangat dipantang.
—Memanggil orang yang lebih tua dengan sebutan:

  1. Untuk lelaki yang kira-kira dipandang masih pemuda, dengan kata “Aa/Akang [Abang]” untuk wanita “Teteh/Ceceu [Kakak]”
  2. Untuk lelaki yang sudah tua, bisa dengan kata-kata “Mang [Paman] dan Bapak, untuk wanita “Bi atau Ibu”

—Diharamkan memanggil yang lebih tua dengan namanya!!
—Jika menunjukan sesuatu, diusahakan tidak mengacungkan telunjuk tetapi memakai jempol dengan jari-jari lain dirangkapkan dan ketika menunjukkan arah badan harus agak membungkuk
—Ketika duduk duduk dengan orang tua dalam suatu jamuan atau riungan, ketika duduk di lantai, lelaki harus bersila sedangkan wanita harus ‘emok/bersimpuh’
—Ketika dalam riungan dan disuguhkan makanan, orang paling tua lah yang pertama mendapat kesempatan untuk mengambil makanan, jadi dipantang seorang muda melakukannya duluan
—Ketika berbicara dengan orang tua, kita harus menggunakan bahasa halus
—Tidak boleh sembarangan meludah
—Kalau berbicara dengan orang tua, tidak boleh memandang mata dan usahakan untuk mendengarkan dulu.
—Tidak boleh berkacak pinggang di depan orang yang lebih tua
—Jika orang tua sedang berkumpul apalagi kedatangan tamu, anak kecil tidak boleh nimbrung
—Tidak boleh mendorong kepala seseorang
—Diusahakan menyapa orang yang lewat depan rumah kita [orang-orang yang sopan santunnya tinggi selain menyapa juga menawarkan untuk singgah dan minuman]

Saya selalu teringat kata-kata berikut “Neng/Ujang/Ceu/Mang, barade kamana, linggih heula, cai-cai mah aya” yang artinya “mau pada kemana, mampir dulu, kalo cuman air sih ada”.

—Jika kita membicarakan sesuatu yang halnya bersifat resmi harus “malapah gedang” artinya tidak langsung ke inti obrolan.. tapi mesti ada basa-basi terlebih dahulu
—Untuk tatakrama pemanggilan dalam keluarga, semua mengikuti hirarki, tidak mengikuti siapa yang lebih tua. Contohnya : Jika Abi dan Abu bersaudara, dimana Abi adalah kakaknya Abu maka semua keturunanya pun akan mengikuti hirarki ini. Jadi ketika anak Abu lebih tua dari Anak Abi, maka yang menghormat adalah anak Abi dengan memanggil “Aa/teteh” bukan sebaliknya.
—Adalah tidak sopan, ketika kita lagi makan di rumah dan kebetulan ada seseorang yang lewat dan melihat kita makan sedangkan kita tidak menawarkan makanan tersebut.
—Tamu harus diberi suguhan minimal air [namun di kampung saya orang tua zaman dulu sadis pada anaknya demi menjamu tamu [lebai], hingga jika ada kue, penganan atau buah-buahan maka yang ada dipikiran mereka “buat tamu”, hingga jika kita ngambil tanpa persetujuan orang tua walaupun makanan itu terpampang jelas di lemari kita akan dimarahin habis-habisan….] hehehehe

Aku rindu kalian orang tua zaman dulu, karena ketika kami bertamu, maka pulangnya seolah-olah kami ini raja dimana kami sebelumnya dijamu dan pulangnya dibekalin makanan/ongkos.

Dan saya juga teringat, demi menjamu tamu, nenek saya rela menghutang ke warung untuk membeli makanan atau minuman!!!! Super/mantep/gila/hebat/luar biasa………..

Aku rindu kalian, anak-anak kampung yang bersopan santun, dimana aku tersenyum ketika kalian memanggilku “Aa/Kang kapan dari kota??”

Aku rindu sama kalian yang jika aku datang ke rumah kalian, kalian bertanya “Sudah makan apa belum?? Apalagih yang bilang “Ada nasi sama ikan, makan yuk” … gila … indah sekali!!

Ban Motorku Kempes Lagi

Dodol, kata makian terlempar dari mulut gue ketika mendapati Ban motor kempes. Ini sudah keempat kalinya gue mengalami ban kempes, siapa yang tidak mendongkol.

Dosa apakah hingga harus mengalami musibah ini 4 kali dalam sebulan. Tiga kali ganti ban dalam dan 1 kali menambal.

Gue bingung, apakah yang ada dipikiran penebar paku. Uang? Apa tidak ada cara halal lain sehingga mereka mengambil langkah menyimpang yang satu ini?? Apakah mereka tidak meraba dirinya sendiri, bagaimana jika dia yang mengalami hal ini??

Mari kita amati paku di bawah ini

1. Pakunya besar, cocok untuk mobil namun jika terkena motor dampaknya lebih mantep, karet ban bisa bolong.

2. Paku sengaja dibengkokan, kedua ujungnya ditajamkan. Bukankah ini hal gila yang dilakukan oleh penebar paku??

Lalu siapa biang kerok penebar paku ini, tukang tambal ban? tukang Ban? atau tukang bangunan yang lalai?? Wallahuallam.

Salah satu contoh PAku

Paku

Pengendara Motor Banyak Yang Sakit [Edan]

Ngeri…

Ngeliat pengendara motor di Jakarta saat ini. Gak boleh liat celah sedikit, sikat terus. Ngga peduli keselamatan dirinya, apalagi keselamatan orang lain!! Gue mencatat beberapa kelakuan pengemudi motor di Jakarta.

1. Kalau tidak ada polisi, di lampu merah menjadi ajang saling dulu-duluan
2. Jalur busway disikat, padahal sudah jelas tidak boleh
3. Melawan arus, padahal dia bisa masuk ke jalur yang seharusnya. Hanya kemalasan dan kebebalan otaknya saja yang gak mikirin orang lain yang menghalangi dia.
4. Di lampu merah, ajang berdesak-desakan, gak peduli menghalangi jalur orang lain
5. Kalo menyalip, langsung menghalangi orang yang disalip dengan jarak yang begitu dekat. Dimana untuk orang waras, ketika dia menyalip, dia akan memperhatikan jarak bebas antara dia dengan kendaraan yang dia salip. Tak jarang kita dapati, mobil atau motor berdecit bannya karena mengerem mendadak ketika menemukan orang bebal membawa motor menyalip tanpa perhitungan.

Yang gue heranin, kenapa mereka bisa berbuat seperti itu. Karena kalau gue amati, mereka itu suka selap-selip di kemacetan dengan kecepatan lumayan tinggi, tapi ketika berada di lintasan lurus dan tidak macet, kecepatannya biasa-biasa aja. Di benak kita, ketika orang terburu-buru untuk mengejar sesuatu, selap-selip mungkin bisa dibenarkan, artinya kita bisa memaklumi. “oh dia lagi terburu-buru, atau mengejar sesuatu”. Tapi ini tidak, mereka hanya terburu-buru di lampu merah saja atau di kemacetan.

Sakit kayaknya…. Sekarang sudah banyak orang sakit!!

Padahal secara hukum apapun, perbuatan tersebut adalah tidak baik atau berdosa…

Mending kalau dia doang yang celaka, kita bisa bertepuk tangan, mentertawakan ketololannya. Tapi kalau sudah membawa orang lain ikut serta akibat ketololannya itu adalah hal yang terkutuk!! Apalagi kalau orang lain celaka, dia yang berbuat tolol tidak celaka, lebih biadab lagi!!