Monthly Archives: Agustus 2013

Gambar

Rangining & Asoy

image

Mo beli? Sebungkus isi 15 buah masing-masing.

Harganya 5000 masing-masing perbungkus.

Minat, hubungi 089-889-00-393 🙂

Iklan

Learn to Handle Customer from Shemale & Hooker

Written by : Bayu Segara

Customers are not the enemy. The customer is king. This is the main slogan to be remembered by a customer care. This slogan should not be forgotten, because sometimes when dealing with a customer care, customers often carried away fails to put in place.

Often a customer care attitude of antipathy will advance when dealing with customers. It makes reactive when receives a complaint, instead of being proactive. Why it could happen; yes it looked customers as the enemy.

However, even customer is a king, apparently in interacting with them we do not have to put him as king. Look really contradictory? Yes indeed contradictory, but let’s discuss them further in order to clear.

Common Man and the customer is not king.

We have a lot of friends right? Surely they have different properties. The Ucrit his taciturn and thinkers, the person pretending Usro boss, the AA guy “come along, it’s up to you good”, the Selsa always say “later, i told to my house”.

With the Ucrit we cautious fear to offend him. With the Usro we have to pretend to be his subordinates. With the AA, take it not too dizzy like the song Haji Rhoma. With the Selsa, must woo-little persuasion.

Well, so did the customers. Customers have the property that there is a discreet but terminator :), there are acting like generals always want to be respected and obeyed, no luggage is always jolly jock language “easy going” and those that type of family.

Departing from this, apparently in dealing with customers can not be beaten flat. Not all customers must be treated as a king, whereby we must speak officially, protocol, bow and grovel.

So, have schools instead, the intent of the customer is a human and not a king. This is what is meant. So, if the customer care interact with customers hitting the average way of handling, it is a big mistake. Customers do not need to be treated as a king, treat appropriate type.

Handling.

Many of us encounter, when you call or meet in person with a customer care there is a distance given by their attitudes in interaction. As if they were saying “you people, I do not know you, if you’ve sorted out quickly away as far as possible”.

How does it try? Do not we have to maintain good relationships with customers so that they do not run away and switch to another brand? But the attitude of the customer care does not reflect this. So naturally, a lot of customers who scurried to the other brands if the customer care behave like this, even worse there are angry at the customers!

Then should do?

First Impressions So Seductive.

If you go back home and visit to a relative’s house, how do they feel? “Aeh aeh no guests, good health, when it comes, let’s go-go, this sorry mess again, what you want tea drinking what coffee … blah blah”. Warm is not it?

How you feel. Certainly convenient once. Even so with our customers. We have to provide warmth but not the warmth in quotes of course :). If we have given the impression of a warm, the term “first impression so tempting”, then the future so much easier affair. Believe me.

Another story if customer care stiff. The customer want to angry when I’m upset, that was not like a fuss so want. It’s the little things that do not matter so disputed. Luggage wanted to meet directly with company officials.

So, be careful with the first impression we give to the customer.

Treat Customers As per type.

Ucrit is the representation of the type of intellectual thinker. A customer should be served with this type of thinking as well. We should not be wrong. Hence the name of data, chronological and arguments must complete all. Can be long affairs that customers see this as an argument if the data and we are weak.

Usro is the representation of a customer who “bossi”. Customers who like this when it comes wished respected, if necessary, all the people bowed-bowed. Such customer-facing customer care arranged for not a lot of talk. If it is still within reasonable limits, the customer desires fulfilled quickly. If not, then the rejection should be a way that we need to be wise when such fears.

The AA is a representation of casual customers. Customers who like the easy anyway. Free chat with them alone. Because the customer usually is not as complicated as other customers. For them, the principle is “important right”. Customers like these even come just to chat just about to complain even though they come in the products they buy.

Selsa is a representation of the customer who likes to budge. Customers like this though disappointed, but if you get a good explanation of the explanation is simple though will quickly heal their disappointment. Moreover, if the bonus is given as solace disappointment, they usually will be a loyal customer.

Well, understood?

Oh, be careful with the customer whose name terrorists. What is a customer terrorists? He was a disappointed customer who then boasted everywhere, be in social media, print media and others are so. Die a thousand if found growing customers like this. The disappointed one, who know or can read thousands. Not dangerous?

Therefore, to avoid customer whose name terrorists, not hurt we learn to transvestites and prostitutes. Shemale with the slogan “got teeth, money back.” While hooker with the slogan “You are satisfied, I limp”. Slogan which indicates that customer satisfaction is the number one way or another. Do not you think?

Romansa Diakhir Ramadhan

Ditulis oleh : Bayu Segara

Sepi… Entah pada kemana semua orang. Ingin aku berkata seperti itu. Namun, tidak bisa. Karena aku tahu, orang-orang yang menjadi tetangga kos sedang pulang kampung. Mereka hendak merayakan lebaran di kampungnya masing-masing.

Ingin kukatakan entah, seolah-olah bahwa aku tidak tahu keberadaan mereka. Berharap bahwa mereka tiba-tiba ada, menyapa, dan menemani kesendirianku saat ini. Namun, ini hanyalah khayalan, hal itu tak mungkin. Kini mereka puluhan bahkan ratusan kilo keberadaannya.

Jam menunjukkan pukul satu pagi. Hening. Tak ada suara tangisan anak kecil yang biasanya sesekali terdengar dari tetangga rumah. Suasana yang membuat hati ini semakin pedih.

Masih kuingat wajah mereka kemarin. Si muka-muka bahagia. Hendak pulang kampung bertemu sanak saudara katanya. Kerinduan di dada seakan membayang di wajah mereka. Tak ada kulihat kerisauan, ketakutan atau kekhawatiran bahwa mereka hendak melakukan perjalanan jauh. Yang kulihat hanyalah harapan dan tawa kebahagiaan.

Sialan kaliaaaan… Tidakkah kalian ingin berganti peran denganku. Biarlah aku yang pulang. Biarlah kan kutempuh perjalanan jauh itu meski ribuan kilometer adanya agar bisa bertemu ibu, bapak dan saudara-saudaraku. Biarlah letih, penat dan lelah mendera tubuh ini, tak akan ada sebersit dalam pikiran bahwa perjalanan itu akan melelahkan. Hanyalah keinginan itu yang selalu datang menjelang berakhirnya ramadhan.

Setengah dua pagi. Bintang-bintang tidak ada di langit sana apalagi rembulan yang sudah tua. Hanya asap yang menutup langit memantulkan gemerlap kota menembus penglihatan mata ini. Bosan. Melihat televisi sebentar, keluar kamar, beberapa kali kulakukan hal itu. Huh…

Akhirnya sesuatu merasuk pikiranku. Televisi cepat-cepat kumatikan. Jaket, helm dan sepatu tak lama sudah menempel di tubuh ini. Lampu kamar kumatikan, pintu kukunci dengan rapih. Lima menit kemudian tubuh ini sudah menyusur jalanan dengan motorku.

Lengang. Hanya sesekali kulihat ada kendaraan melintas. Lewat Ahmad Yani kubelokkan laju motor ke kanan menuju Matraman. Sepi juga. Hanya di pasar dekat fly over terlihat keramaian. Hmmm… Walau aku kesepian, tak suka jika mesti bergabung dengan keramaian ini. Hanya uang atau hanya barang yang ada diantara mata-mata mereka. Tak ada pandangan kasih yang tulus yang kubutuhkan saat ini.

Melewati Menteng yang redup kini Kuningan yang kosong berada di depan mataku setelah lewat Cikini. Hahaha ini dia….batinku. Kutarik gas sekuatnya, tak lama kemudian motorku melesat membelah angin dalam kecepatan tinggi. Tak ada rasa takut terbersit yang jika hari-hari biasa menyelimuti pikiran melihat kendaraan yang padat.

Tak menunggu waktu lama, Kuningan telah berakhir. Kubelokkan motor ini menuju Sudirman. Seperti tadi, motor kuajak berlari terburu-buru. Spidometer menunjukkan angka di atas seratus duapuluh. Tak perduli, tangan ini terus menahan gas.

Motor hanya berkurang kecepatannya ketika masuk Menteng namun ketika menjelang Senen kembali lagi tuas gas tertahan di kecepatan tinggi. Belok kiri menuju Kemayoran. Lebih parah lagi ketika tiba di jalan bekas bandara yang lebar, tidak ada sedikitpun gas tersisa. Yang tersisa hanyalah siuran angin dan asap knalpot di belakang.

Masuk Ancol. Tak lama kemudian tubuh ini sudah berhadapan dengan laut. Rokok mengepul di mulut ini mencoba mengusir udara dingin yang datang silih berganti.

Kulihat dikejauhan kerlap-kerlip cahaya lampu yang menerangi laut sambil menerawang. Angin laut dan deburan ombak seakan mendorong lamunan.

Yani, Reni, Mayang, Putri dan wanita-wanita yang pernah ada di sekelilingku datang merasuki pikiran. Mereka seakan sedang membuka buku catatan hidup ini.

“Aku cinta pertamamu, masih ingat kan?”

“Maafkan aku meninggalkanmu.”

“Engkau hanya pelampiasan dendamku, maaf.”

“Aku butuh kepastian dan itu tidak kudapatkan darimu.”

Seakan mereka mengajak berbicara. Aah… Kenapa tak ada satupun diantara mereka yang abadi dalam kehidupanku. Selalu ada kisah yang berujung pada kesendirian diri saat ini.

Mereka memang indah dan cantik. Namun tak ada satupun yang membuatku bisa menahan agar mereka tidak lepas dari pelukan. Ada yang kurang dari mereka. Ketulusan dan kelembutan untuk jiwaku yang keras ini.

Usiaku beranjak matang, sudah saatnya mengarungi bahtera pernikahan. Namun tak berdaya hati ini untuk menerima pasrah terhadap pilihan yang ada. Aku tetap menginginkan dia.

Mungkin kekosongan jiwa ini yang memaksa. Terlahir di panti asuhan, tepatnya terbuang di sana. Tak mengenal rupa ibu dan bapak dari kecil. Yang kukenal lekat-lekat hanyalah ibu panti asuhan dan teman-teman senasibku. Hingga ada sebagian hati ini yang sepertinya sakit dan minta untuk disembuhkan. Obatnya adalah seorang wanita lembut dan keibuan disamping kecantikannya.

Aargh….. kapan? Kapan dia hadir. Dimana dan siapa? Masih lamakah aku menunggu?

Andai saja dia hadir lebih awal mungkin saat ini aku tak berada di sini. Pasti aku sedang tertidur bahagia di samping ia dalam rumah orang tuanya. Mungkin mudik mungkin tidak, tak masalah bagiku.

Lama bayang-bayang dan lamunan itu datang silih berganti hingga sayup-sayup suara orang membangunkan sahur terdengar dikejauhan.

Hmmm… Biarlah, disesali atau tidak aku tetap ada di sini. Aku hanya harus melebur kesakitan ini. Ya, mungkin aku harus kesana, gumam batinku.

Tak butuh waktu lama, motor kembali membelah jalanan, masih dengan kecepatan tinggi. Kira-kira setengah jam aku berhenti di sebuah pasar.

Semua makanan dan minuman yang terbersit enak di pikiran sudah terikat rapih di jok. Banyak sekali uang yang harus kukeluarkan sesuai dengan jumlah barang yang ada. Aku seperti orang yang sedang gila belanja. Biarlah… Sebentar lagi juga pengeluaranku akan balik lagi, lihat saja nanti.

Kuketuk pintu usang itu.
“Assalamualaikum,” ucapku.
“Waalaikum salam,” terdengar sahutan ramai dari dalam. Tak lama kemudian pintu terbuka. Satu wajah yang sangat kukenal kini berdiri di hadapanku.

“Aeeh… Randiiii… Apakabar anakku, ayo masuk-masuk. Kemana saja, kok tidak pernah datang sih, ibu kangen sama kamu,” cerocos ibu panti asuhan setengah berteriak sambil memegang tangan dan bahuku dengan hangat.

“Waduh ibu borongan ngomongnya, aku sampe bingung mau jawab yang mana dulu,” sahutku sambil masuk ke dalam diiringi ibu panti asuhan.

“Hehe… Sudah tidak usah dijawab, yang penting ibu senang kamu di sini. Kehadiran kamu yang terlihat sehat mengunjungi kita adalah tambahan kebahagiaan di sini. Ayo kita sahur bareng.”

Tiba di dalam, nampak anak-anak panti asuhan sudah berkumpul melingkari ruangan menghadap makanan yang menunya sederhana.

“Sebentar bu, saya lupa bawa sesuatu di motor,” pamitku. Tanpa menunggu jawaban aku bergegas keluar mengambil belanjaan di atas motor.

“Ini makanan serta kue untuk ibu dan anak-anak lebaran nanti,” ucapku sambil menurunkan barang di lantai.

“Horee… ” terdengar anak-anak berteriak kegirangan. Ada salah satu luka dalam hati yang langsung sembuh mendengar teriakan mereka ini.

“Aduh terimakasih anakku. Bilang apa anak-anak sama ka Randi?” ucap ibu panti sambil berpaling kepada anak-anak.

“Terimakasih ka Randiiii…..” jawab mereka berbarengan.

“Sama-sama,” balasku sambil tersenyum.

Hari itu aku tidak pulang ke kosan sampai maghrib tiba. Sibuk sekali aku membantu persiapan panti menyambut lebaran. Pulang ke kosan hanya sebentar mengambil pakaian setelah isya.

“Anakku, apakah kamu tidak berlebihan mengeluarkan uang yang begitu banyak untuk mereka,” tanya ibu panti ketika lebaran datang, saat itu pukul sepuluh malam. Kami ngobrol di ruang tamu ditemani satu orang pengurus sambil menonton televisi.

“Tidak bu, saya sangat senang dan ikhlas mengeluarkannya,” sahutku.

“Tapi, tidak seharusnya kamu begitu. Ibu ingin kamu juga bahagia. Suatu saat kamu akan menikah dan butuh biaya. Setidaknya setengah dari uang hari raya disisihkan untuk keperluan itu.”

“Ibu, tidak usah khawatir tentang hal itu, sayapun sudah memikirkannya. Dan perlu ibu tahu, uang itu kan uang hari raya, bukan uang pernikahan. Jadi ya mesti dihabiskan untuk hari raya… hehe,” candaku mencoba menepis kekhawatiran ibu panti.

“Hehe… Kamu bisa saja. Ya sudah kalau kamu sudah memikirkan hal itu, ibu hanya khawatir.”

Ibu panti tidak tahu bahwa aku tidak memikirkan biaya pernikahan itu, yang kupikirkan saat ini hanyalah bagaimana agar anak-anak yang sama nasibnya denganku tidak bersedih di saat lebaran ini.

Biarlah mereka lupa dengan keinginan bertemu dengan orangtuanya yang memang tidak ada. Biarlah baju baru yang kubelikan di pasar itu menutupi hati mereka untuk ingin mencium tangan ibu bapaknya sambil minta maaf. Biarlah tudung cantik itu menutupi mata gadis-gadis kecil panti dari air mata yang mengalir demi melihat anak-anak lain di luar panti yang berlari-lari bahagia bersama kakak dan adiknya yang mereka tidak punyai.

Dan biarlah uang itu keluar dari dompetku membawa luka yang tertutupi oleh kebahagiaan anak-anak panti yang mencium, memeluk dan bergelayut di tubuhku

Gilanya Pemancing – Kisah Mancing di Laut

Ditulis oleh : Bayu Segara

Bagang lagi… Bagang lagi… Tiap minggu acara mancingnya. Beberapa kali ngajak ke tengah laut nyewa perahu tak ada yang mau. Baik itu gerombolan kolam atau gerombolan muara. Faktor biaya yang membuat mereka enggan.

Hingga suatu hari peruntungan berubah. Minggu itu nongkrong di bagang Tanjung Kait bareng satu orang keturunan china. Kita ketemu dia di atas bagang. Namanya Sofyan. Ketawa juga denger nama dia itu, kok namanya kayak kebanyakan suku laen di sini. Udah gitu, kulitnya agak item pula :). China benteng kayaknya.

Nih orang kuncennya bagang. Kalo ke sini, peralatan mancingnya banyak banget yang dibawa. Macam-macam ikan dia tahu, teknik mancing faham. Seorang yang bisa dijadikan guru dalam hal urusan mancing.

Ngobrol ma dia asyik banget. Dia banyak cerita tentang dunia mancing yang bikin saya tambah luas pengetahuan. Nah, pada kesempatan itu saya minta diajak mancing ke tengah kalo kebetulan dia turun. Dia bilang oke.

Gak pake nunggu waktu lama. Seminggu kemudian kalo ga salah ditelpon ma dia, ngajak ke tengah. Tanpa ba bi bu saya bilang siaaap.

Rumah ko Sofyan di Cimone, sedang saya di Balaraja. Maka ketika berangkat ke Tanjung Pasir saya nyamper dia. Ternyata kalo mancing ma dia ribeet banget. Bawa kotak stereofoam di belakang motor, di depan tas berisi alat pancing menuh-menuhin tempat.

Nyamper ke rumah temannya yang mo ikut mancing juga. Dari sana pake mobil ke Tanjung Pasirnya. Sebelum lewat bandara mampir dulu di pabrik es beli es balok.

Menjelang Tanjung Pasir beli udang terlebih dahulu yang berjejer di sepanjang jalan. Harganya sangat mahal, bisa tembus lima puluh ribu perkilonya kalo lagi langka udangnya. Kalo beli di tambaknya cuman dua puluh ribu. Cukup jauh bukan?

Tiba di Tanjung Pasir jam empat subuh. Nyamper nelayannya yang masih molor. Sebel sama kelakuan nelayan. Selama mancing di sini, jarang yang udah pada nunggu kita. Banyakannya mesti dibangunin, disamper sama ditelepon… Hadooh padahal yang butuh banget itu mereka. Kalo sebelum deal, mereka itu suka nelpon untuk nanya mancing apa nggak, eh pas udah deal gitu deh kelakuannya. Semprul.

Saat itu tujuan mancing sekitaran pula Untung Jawa, pulau Dapur dan pulau Rambut.

Berangkat mancing jam limaan setelah beli udang rebon. Gileeee itu suara mesin kapal bikin telinga pekak. Geterannya bikin badan kayak kesemutan. Pokoknya mah bikin tersiksa. Jangan harap bisa tidur nyenyak deh, apalagi bagi yang baru pertama kali mancing. Begini ternyata mancing di tengah laut.

Sebelum ke lokasi tujuan, kita nyari ikan umpan terlebih dahulu. Selar dan ikan Tembang adalah ikan umpan yang banyak tersedia di pulau Seribu. Setelah dapet baru kita mancing ke lokasi favorit nelayan.

Tiba di sana kami semua nurunin pancing. Umpannya udang idup dan ikan selar ato tembang. Kesampaean juga saya mancing di tengah.

Kurisi, kerapu, ekor kuning, talang-talang mulai mendarat di kapal. Perolehan yang sangat mengecewakan bagi pemancing kawakan. Namun bagi pemula semacam saya tidak masalah.

Namun yang bikin bete adalah nelayannya. Dia hanya maunya nongkrong lama di satu spot, gak mau pindah-pindah walo sepi ikan. Nah ini juga yang kita sebel dari nelayan Tanjung Pasir, pengennya hemat solar tapi bayaran pengen full, tapi gak mau ngasih servis yang bagus sama pemancing.

Siang hari kita makan ikan yang didapet dari mancing. Uenaak ternyata ikan laut yang baru diangkat. Beda sama yang sudah nyampe pasar, apalagi yang udah dikasih es biar awet jauh banget bedanya.

Abis istirahat, mulai lagi mancing. Beberapa kali pindah lokasi, perolehan ikan masih tidak bagus. Kita mulai gerah. Gak apa-apalah kalo ga dapet ikan bagus asal nelayannya rajin cari lokasi. Ini mah diem aja, kalo dibilangin pura-pura gak denger, kalo disentak baru nyahut. Nama nelayan ini sudah tercatat di daftar hitam saya 🙂

Sore hari akhirnya pulang. Badan perih-perih kebakar matahari, muka kumal dan kusyut. Mata agak merah dan rambut yang acak-acakan adalah pemandangan biasa sehabis pulang mancing. Yang ngebedainnya cuman nyengir apa kagak. Kalo nyengir, berarti dapet ikan bagus, kalo nggak, udah tahu kan apa alesannya.

Turun dari kapal, daratan kok goyang-goyang. Bingung saya. Tanya ama temen, mereka gak ngerasain goyang-goyang. Wew, saya cengar-cengir aja, kok bisa yah kayak begini.

Di atas dermaga kita bagi-bagi ikan hasil tangkapan. Beres itu cabut pulang. Nyampe rumah, ikan dibagiin ma tetangga.

Banyak cerita tentang mancing di tengah yang pernah saya jalanin, moga aja lagi mood untuk nulisnya yah.

Cerita sebelumnya : Gilanya Pemancing – Mancing di Bagang.

Kegilaan pemancing episode kali ini:
Subuh-subuh biasanya molor sekarang lagi jalan ke tengah laut.
Duit dua ratus sampe lebih tidak sayang dikeluarkan buat mancing.
Kulit ampe item cuek aja, padahal dulu mah pengennya putih biar cewek-cewek pada n.a.k.s.i.r wkwkwk

089-889-00-393 adalah nomor saya kalo ada yang mo ngajak mancing gratis di laut Garut 🙂

Gilanya Pemancing – Kisah Mancing di Bagang

Ditulis oleh : Bayu Segara

Suatu hari si pemancing semprul ini lagi kumat kepengen mancingnya. Kebetulan kali ini penyakit mancingnya mulai parah. Hampir tiap minggu nongkrong di air.

Kalo ga salah hari itu jum’at libur gawe. Ngajak si bapak preman mancing di muara. Dia mau. Eh tambah pula jadi empat orang, karena saudaranya ikut juga.

Namun sayang berangkatnya kesiangan. Tiba di muara pas lewat sholat jum’at. Agak kurang nyaman acara mancingnya, selepas siang ikan agak jarang makan. Tapi, ya sudahlah.

Nongkrong di tempat biasa. Sampe sore pendapatan ikan kurang. Sudah begitu nyamuknya banyak banget. Nggak tahu kenapa, itu nyamuk edan banget. Sekujur tubuh dirubung ama mereka. Dan yang lebih parah, baju dan celana juga tembus digigit. Maka tak heran, pantatpun gatel-gatel. Sompreet… Baru sekarang nemu kejadian kayak gini. Gak mau nyerah, seluruh bodi diusap pake anti nyamuk yang memang selalu siap jika mancing. Hasilnya? Teteep… Kagak ngaruh… Mereka masih menggigit, mana hari mulai sore pula.

Lumayan sewot. Udah mah ikan dikit dapetnya, nyamuk gigit terus. Nyoba deketin bapak preman, kali aja bisa bagi-bagi nyamuk. Ternyata dia juga setali tiga uang, dikerubung nyamuk. Cuman dia pake minyak tanah, nemu di saung dekat parkir motor. Akhirnya saya coba juga, pantat diulas minyak tanah 🙂 bagaimana kelanjutannya? Ga ngaruh mang, tetep aje tuh nyamuk ganas. Ampe sekali pukul, ada sepuluh nyamuk yang mati, penuh ama darah.

Hari mulai gelap. Saya dan pak preman masih kurang puas. Tiba-tiba pak preman nyeletuk, “kita ke bagang yuk.”
Sayapun mengiyakan dengan antusias, sedangkan yang lain hayo aja katanya. Berangkatlah kita ke Kresek.

Sewa bagang kalo gak salah dua puluh ribu (maaf lupa mulu :), belum sama udang. Pertama kali saya naik perahu nelayan ya di sini. Dan untuk pertama kali saya tahu bagaimana tatacara mancing di bagang.

Langkah-langkahnya adalah; kita dianterin ke bagang di tengah laut milik yang punya perahu, dikasih lampu petromak buat penerangan, tiba di bagang kita ditinggalin, besoknya di jemput.

Tiba di bagang kira-kira jam sepuluh malam. Berjejer kita satu baris posisinya. Berempat kita memakai dua korang. Ternyata bagang sungguh eksotis. Air laut yang membuncah dengan deburannya, angin kencang menghembus keras membuat jaket kami bekerja dua kali lipat menahan gempuran. Gelap di sekeliling.

Kira-kira pukul sepuluh, empat pancing turun ke laut. Wew… Panen ikan sodara-sodara kitanya tuh. Sampe jam dua belas, ikan terus-terusan naek. Saya hanya bisa berdecak kagum, begini ternyata sensasinya mancing di bagang. Korang tak menunggu lama penuhnya. Mengasyikkan bukan?

Begitulah, semenjak itu kolam, tambak dan muara lewaaat, yang ada di pikiran saya adalah bagang dan bagang. Empat kali dalam sebulan saya nongkrong di Tanjung Kait. Ikan samge, glodok, kiper-kiper, kapas-kapas, sembilang, kurisi dan laennya pernah saya dapatkan di sini.

Tak bisa saya ceritakan kisah senang dan sedihnya dan episode tiap bagang karena banyak sekali. Hanya ada tiga kejadian di bagang yang menurut saya menarik.

Pertama, waktu dapet sembilang guede banget pake joran kecil. Tuh joran ampe jerit-jerit waktu ngangkat. Ngeri saya ngelihat bentuknya, kirain ikan setan :). Waktu turun di lantai bambu, patil ikan langsung dipukul pake sendal, gileee tembus tuh saking tajemnya. Kemudian dipotong ma bapak preman pake tang. Untung mancing sama dia yang dah pengalaman, kalau ngga, mungkin saya dah kena patilnya yang sangat terkenal itu. Bisa ikan ini bikin panas dingin katanya, dan jika orang kepatil ikan ini mau gak mau mesti ke darat untuk cepat-cepat diobati.

Kedua, waktu ngelempar kail, kebetulan dapet bagang yang berdekatan sama bagang tetangga. Nah, waktu ada sambaran ikan malam-malam saya gentak dan tarik. Ikannya lepas, tapi timah nyangkut sama senar pancing orang yang ada di seberang. Saya udah teriak-teriak sama bagang tetangga untuk mengulur pancingannya biar dibenerin, tapi ternyata mereka sudah KO, hingga tak ada sahutan. Terpaksa saya tarik, hingga pancing tetangga putus. Besoknya mereka pada ribut, katanya kail mereka ditarik ikan besar sampe putus 🙂

Terakhir, waktu itu mo ngopi tapi gak ada sendok. Pada lupa bawa. Nah kebetulan bapak preman dapet ikan barakuda, sedangkan barakuda kan moncongnya tajem dan panjang dengan cueknya saya bikin jadi sendok tuk ngaduk kopi. Bapak preman ampe sewot ngeliat kelakuan saya ini dan tidak mau minum kopinya 🙂

Kegilannya udah pada tahu kan, dalam episode ini wkwkwk.

Episode selanjutnya : gilanya pemancing – mancing di tengah laut.

Episode sebelumnya : gilanya pemancing – mancing di muara dan episode lainnya, silahkan dibrowsing.

Ada yang mo ngajak mancing gratis di laut garut? Kalo ada hubungi saya di 089-889-00-393 🙂

Gilanya Pemancing – Mancing di Muara

Ditulis oleh : Bayu Segara

Tiap hari melewati rumahnya karena kebetulan rumah dia di pinggir jalan tapi tidak pernah sadar kalau bapak-bapak itu hobi mancing. Mungkin karena mukanya sangar yang membuat saya tidak begitu perhatian sama dia. Yang selalu saya perhatikan dari rumah itu adalah kapankah keluarnya anak gadis yang putih dan imut itu biar mulut saya bisa begini : sst… Sstt.. Hai ceweee….., karena ternyata bapak-bapak yang serem itu anaknya mah cakep 🙂

Tau-tau kalo dia hobi mancing dari OB kantor. Kata dia, penghuni rumah itu hobinya mancing. Denger begitu, sore-sore pulang gawe sengaja mampir ke depan rumahnya. Terjadi obrolan, memang dia hobi mancing, tapi nggak di kolam atau tambak. Dia senangnya mancing di muara. Saat itu saya belum tahu dia juga senang mancing di laut, tepatnya di atas bagan atau bagang.

Singkat kata dari obrolan itu saya ikut mancing sama dia ke muara. Lumayan ribet juga. Saya mesti nyewa motor untuk kami jalan berdua, karena gerombolan mancing kolam dan tambak pada ogah diajak mancing ke muara.

Letak muara ini sangat… sangat jauh dari Balaraja, Tangerang. Muara yang dituju hampir mendekati kota Serang. Kalau anda tahu daerah Kresek, nah tempat ini dilewati oleh kami berdua.

Lewat dari jalan besar kami mesti menulusuri jalan tanah bercampur batu di pinggir sungai. Lumayan jauh juga dari jalan besar muara ini. Kalau musim hujan tiba, jangan harap motor bisa nyaman masuk sini, sengsara mang… Gual geol, gusat gesot jalan motor kayak offroad.

Menjelang tiba di muara, banyak tambak tersebar di pinggir sungai. Jadi kalo mo mancing di sini ada dua pilihan, mo mancing di tambak silahkan, mo mancing di muara tinggal turunin pancing… Silahkan… Dipilih…dipilih… Sepi di muara, tinggal jalan ke tambak cari jaer atau apalah ikan yang ada di sana tergantung nasib.

Tiba di muara, ngeri… Lihat lokasinya. Tempat mancing banyak ilalang. Mungkin ular dan buaya ikut nongkrong di sana pas saat kita mancing, itu yang ada di benak saya. Mana mesti blusukan di semak-semak nyari lokasi yang bagus buat mancing, takut banget lah kalo yang belom faham situasi mah. Ada sih tempat yang lapang cuman lokasinya tidak menjanjikan buat dapet banyak ikan.

Saya dan si bapak (lupa lagi namanya, sebut saja bapak preman karena memang dulunya dia bekas preman dan pernah dipenjara) akhirnya sudah nongkrong di dalem semak-semak pinggir sungai tak lama setelah parkir motor. Saat itu airnya kuenceng banget.

Sebagai gambaran lokasinya saya jelaskan dikit. Lebar sungai ada sekitar lima puluh meteran. Tempatnya agak sedikit menikung, airnya coklat kemerahan. Ilalang tumbuh tinggi menutupi pinggir sungai. Tanah di pinggir sungai lumayan becek, hingga susah untuk jalan. Untuk duduk terpaksa kita nyari kayu yang ada di sekitar.

Di sini saya mulai mendapat ilmu mancing lagi. Stelan muara adalah timah guedee di bawah, kail juga yang gede berjejer minimal dua biji di atas timah, kagak pake pelampung. Mancingnya dasaran. Umpannya udang dan kerang.

Beres merakit mulailah saya melempar kail. Itu tenaga saya gaspol ampe kenceng karena timahnya gede. Sekali melempar enak banget, tiuuuuung… timah melayang di udara untuk beberapa saat sampai hampir nyampe seberang. Pas udah nyemplung, tunggu bentar sampe kenur manteng. Gile… Arus deres banget, itu timah terbawa ke hilir. Ngelempar lurus ke depan, tapi pas kenur udah manteng tuh timah ada di pinggir posisi kita di tengah sungai sana. Joran yang disimpan di atas bantalan kayu ndut-ndutan digoyang-goyang arus. Oh iyah, jangan coba-coba nyimpen pancingan tergeletak begitu saja di sungai, bisa-bisa dibawa terbang ke sungai oleh tarikan ikan.

Satu lagi pancingan saya simpen agak dekat pinggiran sungai, pancingnya yang kayak buat kolam, dimana senar dan kailnya kecil tapi stelan dasaran juga.

Gak berapa lama kemudian, pancing pinggiran terasa bergetar senarnya karena memang saya pegangin senarnya. Kenapa saya pegangin? Kan ga pake pelampung, ya sebagai indikatornya getaran senar itu kalu kail itu kita disambar ikan.

Pas diangkat, ternyata yang makan ikan betik. Tangerang memang gudangnya ikan ini, dimana-mana ada. Beberapa kali ikan betik lepas dari pancingan hanya menyisakan kail doang, membuat saya gemas. Cara mereka makan sepertinya begini; kerubungi umpan rame-rame sambil berebut hingga jarang yang bisa nelen umpan bulet-bulet, maka tak heran jarang ikan yang sukses diangkat ke atas. Hiks hiks banyak ikan ternyata tidak jaminan bisa ngangkat ikan banyak kalau begini caranya 😦

Beberapa lama kemudian, pancing gede saya agak melengkung. Wew… Liat joran melengkung saya kagum. Maklum pengalaman pertama. Dengan sedikit deg-degan saya tarik kail. Gile… Ternyata lumayan berat. Selain karena timah gede yang digusur terhambat oleh lumpur juga karena arus yang kenceng ditambah sama perlawanan ikan. Pengalaman yang sangat menarik buat pemula macam saya.

Nyampe di atas, ternyata ikannya mirip lele tapi dengan tiga patil, orang Balaraja nyebutnya ikan Koropak. Dua di pinggir, satu di atas punggung itu patil. Lumayan gede ikannya. Waktu disimpen di korang tuh ikan bunyi, bikin kaget aja. Kirain binatang darat doang yang bisa bunyi ternyata ikan juga bisa bunyi 🙂

Beberapa kali kami mendapatkan ikan keropak, teman kami ada yang dapet kepiting guede banget. Waktu narik tuh kepiting dia kira kailnya nyangkut atau ngegusur batu. Beruntung banget dia.

Mancing di muara repotnya adalah kail suka nyangkut, ntah itu sama ilalang pas kita ngambil ancang-ancang atau karena salah lempar juga waktu kail terbawa arus karena di pinggir sungai banyak akar pohon. Hukum alam, Ikan gede resiko gede 🙂

Dan yang repot lagi adalah waktu hujan. Sulit mencari tempat beteduh, hingga terpaksa ujan-ujanan sambil pake jas ujan mancingnya. Kalo terang, panasnya terik banget… Serba salah 🙂

Gilanya pemancing adalah dulu liat orang blusukan diantara ilalang pas mancing saya bilang di hati “orang gila dan g ada kerjaan”. Ternyata kini saya sama gilanya 🙂

Cerita selanjutnya : Gilanya Pemancing – Mancing di Bagang.

Cerita sebelumnya : Gilanya Pemancing – Kisah Mancing di Tambak dan cerita mancing lainnya, cari sendiri dah (mals ngetiknya pake hp masalahnya bikin tulisan ini)

Penulis saat ini tinggal di Garut, kalo ada yang mo ngajak mancing di muara Pamengpeuk hubungi aje 089-889-00-393, tapi biaya akomodasi ditanggung yah, lagi kere nih 🙂

Gilanya Pemancing – Kisah Mancing Mujaer di Tambak

Ditulis oleh : Bayu Segara

Ngobrol ma tukang ojek yang biasa nemenin mancing di pos ronda asyik juga. Ngomongnya dia kuenceng banget, pake urat segala membuat saya cengar cengir. Tapi saya seneng, bisa godain dia. Terkadang saya juga bersikap kurang ajar dengan meledeknya sambil bercanda. Kekurangajaran yang bikin semua senang. 🙂

Topik pembicaraan adalah mancing. Saya berikan gambaran obrolannya, karena kebetulan lupa lagi.

“Kalau mau mujair yang gede-gede ayo ikut saya mancing ke tambak,” ucap si tukang ojek.

“Ngapain jauh-jauh kalo cuman nyari jaer mah pak, mending di kolam tempat biasa saja,” tolak saya.

Memang saat itu, hobi memancing saya belom parah, tidak ada embel-embel stadium atau akut masih meriang saja level penyakit mancingnya.

Tapi ternyata si tukang ojek masih semangat ngomporin.

“Yeeh… Nanti kita mancingnya di laut,” bujuknya.

Kali ini saya sedikit goyah. Mulai tertarik dengan kata laut. Sekalian mancing, berwisata laut juga. Mantep nih kayaknya.

“Ke tengah laut mancingnya?” tanya saya penasaran.

“Nggak, kita mancing di pinggirnya,” jawabnya dengan raut muka semangat melihat saya mulai goyah.

“Okelah kalau begitu, saya ikut juga.”

Sebuah jawaban yang sepertinya membuat si tukang ojek senang. Korban baru nih pikirnya.

Hari mancingpun tiba, si tukang ojek saya samperin ke rumahnya. Melihat peralatan mancingnya saya ketawa-ketawa. Butut-butut 🙂
Tapi dia punya banyak peralatan mancingnya.

Setelah beres, ramai-ramai kita berangkat. Lupa lagi saya berapa jumlah jiwa yang ikut mancing. Semuanya pake motor dan saya ikut sama tukang ojek karena kebetulan saat itu belum beli motor.

Seperti mancing di kolam jaer dalam episode gilanya pemancing – mancing di kolam, perjalanan ke tempat mancing jauh juga. Namun yang ini lebih jauh lagi. Jalannya berpasir dan becek ketika keluar dari jalan raya. Jalannya hancur karena banyak truk pengangkut pasir lewat.

Tiba di kampung terakhir, kami membeli udang hidup terlebih dahulu. Kalau gak salah waktu itu dua puluh ribu sekilo. Ternyata umpan mujaer tambak beda dengan mujaer kolam biasa. Tambah ilmu lagi nih.

Tiba di pinggir laut saya senang. Namun hanya sebentar. Motor tidak berhenti-henti juga.

“Pak, kok tidak berhenti di sini,” tanya saya ketika sudah melewati laut dan mulai memasuki jalan yang melewati tambak.

“Nanti di sana mancingnya,” jawab dia. Sayapun diem dengan berpikiran, nanti ada laut lagi.

Tak lama kami melewati kampung dan mulai masuk ke areal tambak. Sejauh mata memandang hanya kolam-kolam dan sungai-sungai buatan untuk mengalirkan air laut ke kolam. Lumayan ngeri juga, tanahnya berpasir dan becek serta tinggi dari batas air. Kalau motor terpeleset, pasti basah kuyup, pikir saya.

Tiba di tengah-tengah tambak dekat satu saung kami berhenti. Ternyata yang dimaksud pinggir laut itu di sini. Memang sih dekat laut, tapi jarak dari tempat berhenti ke laut ada satu kiloan. Sompret, gerutu saya. Memang sih kagak bohong si tukang ojek itu namun hanya saja tidak sesuai dugaan apa yang dia ceritakan dengan apa yang saya harapkan. Yo wislah.

Acara mancing dimulai. Di sini kita bebas mo mancing di manapun dan gratis. Namun kalau ada pemilik tambak, kita mesti berbaik hati memberikan rokok. Padahal, sebetulnya pemilik tambakpun senang kalau kolamnya dipancingin. Bagi petani tambak bandeng, ikan mujaer adalah hama. Pemberian rokok hanya sebagai basa-basi saja.

Di sini saya mulai belajar memakai udang sebagai umpan. Seperti setelan mancing jaer kolam biasa, setelan jaer tambakpun sama. Kail di bawah, timah di tengah dan pelampung di atas. Yang beda umpannya saja.

Benar saja, ikan mujaernya gede-gede. Cumaaaan panasnya pun mantap. Setengah sembilan saja tuh matahari terik banget mana gak ada pepohonan pula. Tak heran lewat jam sepuluh siksaan datang. Bentar-bentar minum, haus. Kaki sedikitpun tidak boleh lepas dari jaket dan sesekali disiram air karena saking panasnya. Topi ampe miring-miring nutupin wajah. Jam sebelas saya nyerah, gak kuat sama panas. Akhirnya istirahat. Lewat dzuhur kamipun pulang. Perolehan ikan lumayan, namun dibanding si tukang ojek saya kalah.

Rasa ikannya manteb, seperti saya ceritakan pada kisah dulu, ikan mujaer air asin itu enak rasanya. Seperti biasa, tetanggapun yang masakkin.

Waktu berlalu. Kamipun mancing lagi ke tambak.

Tidak seperti pertamakali mancing, dimana saya setia dengan satu kolam kali ini saya nyoba beberapa kolam.

Bosan dengan kolam, saya mancing di selokan. Di sini ikannya berpariasi. Jaer, kepiting, koropak dan ikan laen yang lupa lagi namanya.

Kesialan datang. Pas dapet ikan koropak, saya simpen tuh ikan di kresek samping saya. Nah, waktu anteng-anteng melototin joran, tiba-tiba saya dikejutkan dengan tarikkan ikan yang kencang sepertinya ikan payus (bandeng laki). Joran terlempar. Refleks saya menubruk tuh joran, namun nahas, paha saya menindih kresek berisi ikan koropak. Dengan indah tuh duri di punggung ikan nancep di paha saya. Mana dalem pula. Kinyut-kinyut rasanya sama perih dan pedih. Ditambah pula sama ikan yang lepas. Asemmm… Padahal tuh ikan pasti gede.

Kira-kira selepas duhur saya pindah kolam. Di sini banyak ikan yang menarik yaitu ikan payus. Setiap kail turun, pelampung tak lama turun dengan keras. Pas digentak, tuh ikan selalu mengikuti tarikan. Dan yang ajaib mereka selalu meloncat ke atas air menghindari kail atau mencoba meronta dari jeratan kail. Mereka sukses mendapatkan umpan dan terbebas dari kail. Sungguh sompret sekali mereka, membuat saya gemas. Berulangkali mereka mempermainkan saya. Hingga dipuncak kekesalan saya bergumam di hati “tuh ikan kalo dapet gue injeeek luh”. 🙂

Akhirnya, kesempatan itu datang. Ketika kail ditarik ikan, sekuat tenaga saya gentak joran. Hasilnya bagaimana? Ikan memang bisa lepas dari kail tapi dia terbang terbawa tarikan joran saya dan jatuh jauh di belakang saya. Rasain luh kampreet, sorak saya.

Dengan semangat membunuh yang tinggi saya datengi tuh ikan. Diinjek? Kagak om. Gak tega ternyata 🙂

Sebenernya saya yang salah. Kailnya kurang kecil, sedangkan mulut ikan kecil. Pantesaaaan, gak kena-kena mulu. Tapi asyik lihat ikan loncat, seru juga, mana berkilauan pula waktu mereka menggelepar di atas air. Pokoknya nikmat lah melihatnya. Pengalaman yang mengasikkan.

Kegilaannya; masa ikan mo diinjek hanya gara-gara kesel gak dapet-dapet. 🙂

Tulisan selanjutnya : mancing di muara.

Tips mancing jaer tambak:
Bawa joran yang banyak, air yang banyak, payung, rokok yang banyak.
Umpan udangnya usahakan selalu segar jangan sampe mati.

Penulis tinggal di Garut saat ini, kalo mo ngajak mancing gratisan kelaut telepon aja ke 089-889-00-393 wkwkwk 🙂