Monthly Archives: April 2011

Nak, Kamu Telah Menjatuhkan Harga diri Mama

Oleh : Bayu Segara

“Mamah tahu nak, kamu ingin dibelikan HP, namun jangan kamu jatuhkan harga diri mamah begitu. Tidak tahukah kamu, mamahmu ini dikantor ditakuti dan disegani. Karena selain sebagai manajer, mamah ini juga adalah atasan yang galak. Hal itu mama lakukan, agar anak buah mamah tidak mengusik harga diri mamah. Sekarang kamu sudah menjatuhkan harga diri mamah. Dengan membandingkan mama teman kamu dengan mamah. Seakan mamah adalah mamah yang paling jahat di dunia ini. Cuman kamu yang bisa begitu nak.”

*****

“Mah, belikan aku HP yah”, ucapmu malam itu.

“Nggak. Mama tidak akan membelikanmu HP”, ucapku tegas.

“Ayo dong mah, temenku punya, masa aku ngga”, kamu merajuk.

“Kalo mamah, bilang nggak. Ya nggak. Sudah tidur sana, mamah pusing. Gak tahu kalo mama baru pulang kerja, capek tahu. Kamu enak di rumah, mama banting tulang. Buat biayain kamu sekolah”

“Tapi mah…”

“Gak ada tapi-tapian. Kamu gak denger perkataan mamah”, bentakku sambil melotot.

Sambil menunduk ketakutan, kamu pergi meninggalkanku. Meninggalkan segores rasa penyesalan di hati mama.

Dan esoknya, ketika mamahmu baru pulang kerja. Kamu datang mendekat. Merangkul dan bergelayut di tangan mamah.

“Mah, capek yah”, ucapmu tulus.

“Iyah”, jawabku pendek.

“Aku pijitin yah, Mah..”

“Ya udah”

Tangan kecilmu memijat tanganku. Walau terasa seperti sentuhan saja. Namun mamah tidak protes. Karena mamah tahu, bahwa kamu ingin menunjukkan kasih sayang.

“Mah…”

“Yah, ada apa sayang?”

“Temenku punya gambar bagus loh di HPnya”

“Oh yah?”, aku pura-pura tidak tahu maksudmu.

“Iyah Mah. Katanya, gambar itu dia yang motret sendiri loh”, jawabmu semangat.

“Lalu ?”

“Gak apa-apa sih mah. Cuman katanya HP itu pemberian mamanya. Mama dia baek yah, Mah”, ucapmu menohokku.

“Ya udah, mama belikan kamu HP. Biar kamu bisa seperti temenmu itu”, ucapku.

Mamah tahu nak, kamu ingin dibelikan HP, namun jangan kamu jatuhkan harga diri mamah begitu. Tidak tahukah kamu, mamahmu ini dikantor ditakuti dan disegani. Karena selain sebagai manajer, mamah ini juga adalah atasan yang galak. Hal itu mama lakukan, agar anak buah mamah tidak mengusik harga diri mamah. Sekarang kamu sudah menjatuhkan harga diri mamah. Dengan membandingkan mama teman kamu dengan mamah. Seakan mamah adalah mamah yang paling jahat di dunia ini. Cuman kamu yang bisa begitu nak.

“Bener mah?” tanyamu. Matamu berbinar-binar walau menyiratkan keraguan.

“Bener”

“Mamah, adalah mama yang paling baek di dunia deh”, ucapmu. Sambil kau cium pipiku, mencairkan kebekuan wajah mamah.

“Iyah. Besok minggu kita ke toko HP”, ucap mamah meyakinkanmu.

“Cihuy”. Sambil bernyanyi, kamu berlari ke luar. Mamah tahu kamu pergi ke luar untuk menemui temenmu. Dan bakal cerita kalau mamamu akan membelikan HP. Dan mama juga tahu, kamu akan memuji mama setinggi langit di depan teman-teman kamu.

Nak, sikapmu mengingatkan mamah sama kakekmu. Beliau sama keras dan galaknya seperti mamah. Namun segala kekerasan dan kegalakan kakekmu akan luruh oleh tangisan mamah.

Apa mama kena hukum karma, nak?

Iklan

I, Scavengers And Hookers

By : Bayu Segara

That night you stood there, lined up with other women. No makeup look on your innocent face. Ah, where I’m interested in you, though my libido have to the fontanel. I passed you and you also seemed indifferent to my existence.

I stopped my bike next to a sweet woman who wore makeup so thick with clothes that stimulate lust.

“How much, Dear?” I asked when it was in front of her.

“300, short time”, she replied with a sweet smile.

“Wow, so overpriced, how about 200?”, my bargaining.

“No, search the other”, she said a little sharply, making her desire to be extinguished. Go on these footsteps in middle-aged woman who was sitting at the bus stop at the other end.

“Go wild Bro?”, Yet nothing she has offered.

“How?” I asked curtly.

“Just 300 Bro”

“Can’t be less?”

“Market for that much”

“200, how?”

“Can’t”

The answer makes my feet move to the other women. And it turns out they’ve got the same answer, to make me give up. I turn my body into the place had been parked motorcycle. There I saw innocent woman was still sitting on the sidewalk.

“Sis, how much income you last night?”, I said while standing in front of her.

“Not necessarily Bro, sometimes 10 thousand. If more fortunate get to 20 thousand”, she replied. Making I moved against you, O women of the night.

“I give you money, 200 thousand, interesting?”

“If You want to give, yes I accept”

“But there are conditions”

“What are the conditions Bro?”

“You must serve my willingness for 10 days”

“If able, I will obey, if not, I will reject it. What is your willingness?”

“Sis, you not go out and stand there for 10 days. Think of this money in lieu of income that long”

“Really?”

“Yes”

“Is that your willingness to me?”

“Just that”

“Did not carp are looking for an outlet where women as lust?”

“Yeah right”

“Then why the money was you offer to me?”

“Because you are not being offered to me”

“Is it because I am not beautiful?”

“Yeah, you less beautiful”

“Am I not attractive”

“Yeah, you unattractive”

“And if that causes you give me this money?”

“You are not beauty and vapidity which made me give the money”

“Why is that Bro?”

“Because if you are interesting, your position may not in front of me again. Maybe now you was in discotheques, stately home or in a luxury car ”

“Are You insulting?”

“I was more despicable than you, why could say if I’m insulted you”

“How you mean”

“I’m now looking for an outlet lust, while you are looking for a bite of rice”

“Then”

“I do not care anymore with my stomach is hungry because I was already full. Until I was looking for the fun of the stuffed my stomach. If my stomach was hungry and no money to buy food, where can I have fun like you doing right now, coming out at midnight for a bite of rice ”

“What the other considerations that makes you want to give that money to me?”

“I’m amazed at your struggle. While other women are asleep in her soft bed, you are willing to stand up and walk out to reach your sustenance. While other women spree with the money not from sweat. You spend a sweat for the sake of convenience ”

“Are you give this money because less money to hire other women”

“No, indeed I intend to give it to you. You see this “, I said, taking out wallet from pocket and showed it to her.

“In my wallet there is two million”

“I believe You”

“How, able to follow my wishes?”

“Yes, Bro”

“Here the money”, I said, handing her money. Looks so your eyes filled with tears when she received the money.

“I go home than, Bro. Thank you for your kindness “, she said, taking a sack that was lying on the side near the trash can. The inclusion of iron hook who had been his grasp into the sack. While she use too shabby hat, leave me alone.

“You are welcome”, I said, seeing her walk away in the darkness of night.

***** *****

The next day I went back again to it, does not seem you were there. I see around, do not appear too women of yesterday evening. Until I tried to wait for their appearance on a bike saddle. But none of their nose that appears to midnight. Whether they’re on vacation, I do not know.

Seeing this situation, make me laugh. Apparently I’m a whore too, sitting here waiting for them to vent my soul. While they are the whore of life, standing there because her stomach must be filled by the rice. While the rice can be bought when she had sold her body in lust whore like me. They become prostitutes for the necessities of life, I’m whoring for the needs of lust. Do not know who’s better, me or her, I do not know.

Dapet Jimat di Goa Pamijahan Tasikmalaya

Oleh : Bayu Segara

“Saya takjub!! Ini orang hebat, walau cuman punya uang seribu dan itupun adalah uang terakhir dia, namun masih bisa untuk bersedekah. Padahal saya yang punya uang 50 ribu, gak berani untuk ngajak orang lain makan. Dengan berbagai pertimbangan tentunya.”

****

Sore itu dapet selebaran tempat ziarah, sebagai petualang sejati, saya tertarik dengan selebaran tersebut. Saya buka dan baca isinya. Ternyata berisi informasi yang sangat menarik hati. Selebaran ini bercerita tentang tempat ziarah di Tasikmalaya yaitu tempat Syekh Abdul Muhyi menyebarkan agama dan dimakamkan.

Hal menarik lainnya di selebaran tersebut, bahwa selain mengunjungi tempat dimakamkan beliau, kita juga bisa mengunjungi sebuah goa. Goa yang bagi masyarakat di sekitar tempat tersebut menjadikan sumber cerita yang turun temurun. Ada harta karun ga yaaah… jadi penasaran

Setelah mengumpulkan uang sebagai bekal perjalanan. Akhirnya saya berangkat ke sana, dengan menumpang bis antarkota Bekasi-Tasikmalaya. Seperti perjalanan-perjalanan lainnya saya pun berangkat sendirian. Maklumlah, wanita banyak yang tidak ngeh, kalo saya ganteng, jadi ga ada yang mau nemenin saya hehe.. kok jadi curhat.

Tiba di terminal Tasik, hari menjelang maghrib. Saya celingukan kebingungan, karena tidak ada satupun angkutan yang tulisannya mengarah ke Pamijahan. Dalam kebingungan, mata saya tertumbuk sama sesosok manusia. Dia adalah pegawai terminal. Dengan senyum ramah dari hati yang paling dalem, saya minta ditunjukkan harus pake angkutan yang mana, kalau ingin ke Pamijahan.

Kata beliau, saya salah tempat menunggu. Harusnya ke terminal sebelah. Yee.. si Bapak teh bukannya bilang dari tadi… jangan nungguin saya nanya, baru ngasih tahu!! Edan yah saya., ah biarin. Lanjuut.

Ternyata terminal ini terbagi dua, satu untuk bis antarkota, satu lagi untuk angkutan lokal. Tak tahu kalau sekarang, mungkin sudah berubah. Karena cerita ini sudah lama saya alami dan baru diceritakan sekarang.

Setelah berjalan ke arah yang ditunjuk oleh si Bapak, akhirnya saya menemukan angkutan ke Pamijahan. Mobil tersebut berupa mobil elf. Alhamdulillah, tak lama mobil berangkat, jadi ga kesel nunggu mobil ngetem. Perjalanan ke kampung Pamijahan, kira-kira ditempuh dalam waktu 3,5 jam, kata om supir.

Sepanjang perjalanan saya mikir [gini nih.. untungnya punya otak]. Gimana nantinya saya kalau sudah nyampe, mo tidur dimana? Apakah mesti tidur di Poskamling atau masjid. Karena dibayangan saya saat itu, bahwa pastinya tidak ada orang, karena hari sudah larut malam.

Pikiran ini terus bergelayut, nempel di otak, hingga terminal Pamijahan. Pas turun, saya kaget. Maak.. ternyata banyak bus. Ini gimana ceritanya, kok terminal kecil, banyak busnya. Harusnya kalo terminal kecil kan, paling-paling isinya cuman angkot atau elf. Penasaran saya.

Setelah diteliti, ternyata bus tersebut adalah bus peziarah. Saya tertawa, hehe aman, banyak temen. Jadi ngga takut, walau sendirian. Minimal, bisa ngikut ama peziarah lain, pura-pura kenal aja. Buru-buru, saya ngekor sama peziarah lain, menuju tempat penziarahan.

Untuk ke tempat Syekh Abdul Muhyi, kita mesti melewati gang. Gang tersebut depannya ada gapura terbuat dari tembok bergaya bangunan zaman dulu. Sepanjang gang tersebut, banyak dagangan penduduk. Dagangannya berupa souvenir yang bisa dibawa pulang sebagai oleh-oleh bagi peziarah.

Yang bikin heran, tak satupun pedagangnya nongol. Mereka pada diam di rumahnya masing-masing. Tak takut kalau barang dagangannya dicuri. Aneh yah… tapi itulah yang terjadi. Kalau kita mau beli souvenir, kita mesti manggil pedagangnya, baru mereka keluar. Hebat…. seumur hidup, hanya disini saya menemukan pedagang seperti itu.

Setelah menurunin tanjakan kira-kira 500 meter kita mesti belok ke kanan dan berjalan beberapa meter lagi. Baru kita akan menemukan sebuah Masjid, tempat dimakamkan Syekh Abdul Muhyi. Ketika saya datang, banyak peziarah lagi pada sholat ataupun sedang mengaji. Saya pun ikut membaur dengan mereka.

Besoknya saya ke Goa Pamijahan, jaraknya kira-kira 1 Kilo, melewati pesawahan. Gua tersebut, dari luar lubangnya kecil namun ketika sudah masuk sangat besar. Di sepanjang gua, air mengalir membentuk sungai. Tingginya air, kira-kira sejengkal dari lutut. Kita jalan melewati aliran air itu untuk masuk ke dalam.

Di dalam sangat gelap, oleh karena itu kita mesti nyewa lampu Patromak. Banyak tersedia, jasa penyewaan petromak di depan pintu goa. Selain menyewakan, mereka juga menjadi pemandu kita masuk ke dalam gua ini.

Kalau kita masuk ke sana, pasti akan kaget. Karena hawa di dalam gua lumayan panas, hingga membuat badan berkeringat. Padahal saya tadinya mikir, kalau dalam gua pasti dingin, karena tidak ada cahaya matahari masuk. Maklumlah ndeso bang… saya baru pertama kali mengunjungi goa.

Disini kita akan ditunjukkan tempat jum’atan para wali, juga lorong tempat Syeh Abdul Muhyi pergi ke Mekah. Lorong ini sekarang ditutup oleh jeruji, karena sudah ada orang yang masuk dan tidak kembali [katanya]. Tak lupa juga, kopiah haji.

Kopiah haji yang dimaksud adalah cekuk di atas dinding gua yang jumlahnya kalau tidak salah ada sembilan [koreksi jika salah]. Konon katanya, jika ada salah satu cekukan yang pas dengan kepala kita, maka Insya Allah kita akan kesampaian naek haji. Jika semua cekuk itu pas, berarti 9 kali pula kita akan berhaji. Katanya juga loooh.

Disini juga ada sumber mata air, yang diyakini air zamzam. hehe… Kalo saya sih gak percaya. Ada-ada aja nih orang sana, nyari duitnya. Karena untuk mendapatkan air itu, kita mesti bayar!! Capeee deh. Setelah beres ,saya pun kembali pulang ke Mesjid. Karena tidak ada tempat berteduh selain disituh.

Lah, mana jimatnya? Katanya dapet jimat. Pasti pembaca, bertanya-tanya tentang itu. Tenang…., saya tidak akan mengecewakan anda. Kita lanjut yah ceritanya.

Kira-kira jam 9 malam, saya tiduran di dekat tembok belakang masjid. Bergabung dengan orang-orang yang sedang tiduran. Kebetulan, disamping saya ada seorang pemuda… kalau seorang pemudi bisa gawat urusan. Sambil tiduran saya ngobrol dengannya. Dia cerita, kalau sudah lama disitu, disuruh oleh gurunya dari Jawa.

“Mas, makan yuk, saya ada duit nih, nanti saya bayarin”, ucap dia. Kira-kira jam 10, saat itu.

“Ayoo, kebetulan lapar nih”, jawab saya semangat, mendengar kata-kata ‘dibayarin’. Maklumlah muka gratisan hehe.

“Nih orang banyak duitnya, udah lama tinggal disini tapi masih bisa nraktir orang lain”, pikir saya saat itu.

Akhirnya kita berjalan ke warung di belakang masjid. Nyampe disana, banyak orang yang lagi makan. Kitapun bergabung dengan mereka.

Karena merasa dibayarin, saya pun tidak berani mesan makanan duluan. Nungguin dia yang mau bayarin, mesen makan duluan. Saat itu dia mengambil singkong dan pisang rebus, tidak memesan nasi. Karena merasa kalau makan itu, ya makan nasi, saya diam saja, tidak mengambil makanan apapun. Sabaaar, pikir saya saat itu.

Lama saya tunggu dia memesan makanan, namun dia tidak juga memesan nasi. Saya jadi bingung, “Bener ga sih nih orang mau nraktir makan?”. Pikir saya saat itu. Hingga akhirnya dia ngomong.

“Ayo mas, makan”

Apa!! Maksud dia nraktir makan itu, yaitu makan singkong rebus doang!!

“Emang, Abang punya duit berapa, mau nraktir saya makan?”, tanya saya penasaran.

“Seribu”, jawabnya bikin kaget. Pada waktu itu, uang 2 ribu masih bisa dipakai makan dengan lauk seadanya.

Saya takjub!! Ini orang hebat, walau cuman punya uang seribu dan itupun adalah uang terakhir dia, namun masih bisa untuk bersedekah. Padahal saya yang punya uang 50 ribu, gak berani untuk ngajak orang lain makan. Dengan berbagai pertimbangan tentunya.

Tau ngga pembaca, saya sangat… sangat… terharu. Akhirnya malah dia yang saya traktir makan!! Saat itu saya tidak peduli, apakah bekal saya cukup untuk tinggal disana. Yang penting ada ongkos pulang, pikir saya saat itu. Saya malu sama dia, merasa kerdil, merasa terhina.

Itulah Jimat yang saya temukan dari Pamijahan!! Jimat tentang bersedekah!!

Maaf yah kalo mengecewakan, bagi pembaca yang menganggap jimat yang dimaksud adalah benda sakti bertuah seperti keris, batu dan lain sebagainya.