Monthly Archives: Januari 2011

Kali Bersih Adalah Impian

Kemaren lewat Pasar Baru selagi perjalanan menuju Mangga Dua mo beli radio. Sambil jalan tak sengaja pandangan jatuh ke kali karena emang kali tersebut di pinggir jalan. Karena kalo di tengah jalan bukan kali namanya hehe.

Saat itu aku ngerasa ada yang aneh, tapi gak tahu apanya yang aneh. Saat itu aku ngga terlalu mikirin apanya yang aneh karena mesti konsentrasi sama jalan.

Hingga lampu merah di Jalan Gunung Sahari menyala merah, otomatis kita berhenti dong. Tak sengaja mata melirik ke kali lagi. Lama aku pandangi kali tersebut, karena untuk kedua kalinya aku merasa ada yang aneh. Tapi apa yah…

Setelah lama berpikir, ternyata baru aku sadari bahwa kali tersebut bersih dari …. Sampah!!! Wow…. Apakah mata ini udah lamur, ato gimana nih. Kucek-kucek mata dengan pandangan tak percaya. Masa sih, ini terjadi. Kok bisa kali ini bersih? Ajaib.

Lampu ijo nyala, motor tancep gas menuju Mangga Dua. Tiba di mangga dua putar-puter cari barang yang dimau. Setelah berkutat ampir dua jam akhirnya balik, bete, ga ada cewek yang pake tanktop hahaha

Keluar dari parkiran masuk ke jalan Mangga Dua langsung dihadang oleh kemacetan. Terpaksa motor minggir-minggir menyusuri kiri jalan. Nah karena kelakuan inilah yang mendatangkan keheranan baru. Apa sih yang bikin heran, perasaan dari tadi itu-itu mulu yang diomongin… hiks hiks sabar, namanya juga cerita lebay

Dipinggir jalan Mangga Dua juga kan ada kalinya. Dan ketika aku lihat ternyata bersih dari sampah juga. Wew… apakah pemerintah udah sadar hingga mau membersihkan kali yang banyak sampah dari Pasar Baru hingga Mangga Dua? Atau apakah sampah tidak ada karena terbawa air deras akibat hujan yang datang tiap hari selama bulan ini??

Misal jika kali tersebut dibersihkan oleh pemerintah, kenapa di hati ini gak bisa percaya yah. Apakah karena saking bosennya melihat sampah nongkrong di kali. Berhari-hari, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Tau lah, yang pasti jika emang tuh kali pemerintah yang bersihin, maafin aku yang tidak percaya, hingga saat ini.

Tapi kalo emang bener, pemerintah yang bersihin, sekalian yah sama Bendungan Jago. Disana sampahnya bikin idung kembang kempis. Dikit-dikit ajah pak, nanti jika udah beres dari situh, beranjak ke Ciliwung yah. Ini suara rakyat Pak, katanya suara rakyat adalah suara Tuhan.

Karena ternyata, ngeliat sungai yang walaupun airnya berwarna item namun bersih dari sampah itu nikmat. Ada rasa suka di hati, ternyata pemerintah sudah berubah. Haha moga bukan mimpi yah.

Ku Ingin Bidadari

Ingin Hatiku Menangis, ketika membuat kamu terluka. Namun apa dayaku, emosi ini terlalu menguasaiku. Apalagi jika kata-katamu mengandung penentangan secara keras aku tak mampu menguasai ritme nafsuku.

Oleh karena itu jika aku sedang marah, berusalah jangan mengeluarkan ucapan-ucapan yang akan menyulut bara kemarahan. Lebih baik diamlah, agar tidak semakin mengobarkan api emosi yang sedang meletup di dadaku.

Aku tidak egois, di hatiku pun ada sedikit penyesalan. Kenapa aku tidak mampu menjinakkannya hingga tidak membuat pertengkaran. Kucoba dan kucoba, namun tak mampu aku… maafkan yah.

Malam ini aku menjadi Iblis, tapi kujamin tak kan selamanya. Mudah-mudahan besok ku kan menjadi manusia lagi.

“Yang, maafkan aku yah”, ucapku

“Maafkan aku juga.”, ucapmu

“Biar tidak ada sakit hati, nanti jika Iblis datang dalam wujudku, maka aku mohon agar kamu tidak mengeluarkan kata-kata yang membuat Iblis itu bertahan pada diriku”, lanjutku

“Baiklah, aku akan menjadi malaikat, jika kamu dalam keadaan begitu”, sambil tersenyum engkau menatapku.

“Kamu wanita tercantik dan terbaik yang pernah aku temui sayang”, rayuku.

“Moga itu bukan hanya khayalan yah sayang. Aku ingin menjadi bidadarimu untuk menghiburmu. Ingin aku menjadi air jika kamu dalam kehausan. Ingin aku menjadi api jika kamu dalam kedinginan”, kamu menjawab dengan pipi merona kemerahan.

“Ah, kamu semakin menusuk hatiku. Aku yang memberikan luka, namun kamu selalu memberikan obat padaku. Apakah Tuhan mensegerakan aku untuk bertemu bidadari di dunia ini.”, pandangku tak lepas dari matamu yang jeli.

Namun kamu hanya tersipu ketika kuucapkan kata-kata itu, sambil menghilang dari depanku.

Aku termangu, menatap kepergianmu. Apakah barusan aku bermimpi atau aku sedang berkhayal, tak tahu mana yang pasti. Namun yang kutahu, saat ini aku membutuhkanmu, jadi tolonglah kembali bidadariku.

Oknum Polisi

Mau berkomentar mengenai oknum polisi aaaah. Abis tadi pagi liat banyak polisi di jalan. Ada yang lagi nungguin di atas jembatan, ada yang lagi nungguin selepas belokan. Yang di jembatan, lagi nungguin motor-motor yang memaksa melewati verbodeen ke atas jembatan, sedangkan yang selepas belokan lagi nungguin motor yang melawan arah.

Jadi inget waktu aku berurusan ama om Pulisi dulu. Ketika beberapa hari menjelang lebaran. Aku mudik. Berangkat dari Tangerang malem-malem. Bareng-bareng ama temen yang mo mudik searah dengan kota kelahiranku.

Singkat cerita kami memasuki kota Bandung. Pas masuk Cimahi, dibelokan yang ke arah Soekarno Hatta, ada plang yang nunjukin arah Tasik, kami belok mengikut petunjuk. Waktu itu kira-kira jam 3 pagi. Keadaan jalan gelap gulita. Kami mengambil jalur kiri seperti biasanya peraturan lalulintas di Indonesia.

Namun,…. Di kegelapan kami distop Om pulisi!!! Luar biasa. Om Pulisi kayak penjahat aja, nyetop orang dikegelapan. Katanya kami salah jalur, nah ini ini lebih luar biasa lagi. Masa orang ngambil jalur kiri dibilang salah jalur… oladalah… sejak kapan hukum lalulintas ini berubah Om??

Kalau menurut aku yang sedikit waras, seharusnya jika memang jalur kiri dilarang masuk [dengan alasan tertentu], harusnya Om pulisi ini nongkrong di ujung jalan tersebut dan ngatur agak pemudik tidak mengambil jalur kiri. Nah karena dia tidak melakukan hal itu berarti ada apa yah?? Udah bisa ditebakkan!! Duit.

Aku melakukan perlawanan dengan berdebat, karena merasa tidak bersalah. Tapi Om Pulisi ini tetep kekeuh dan menakut-nakuti dengan mengeluarkan buku tilang. Sebenernya aku sih tidak takut ditilang, namun terlintas dipikiran “repot kalo sidang di Bandung, sedang aku kan tinggal di Tangerang dan jika disidang pun pasti kalah”.

Pengalaman waktu ditilang dan harus menghadiri sidang, ujung-ujungnya adalah harus mengeluarkan duit. Bahkan aku tidak diberi kesempatan untuk melawan di sidang pengadilan, karena sidangnya tidak ada!!! Di surat tilang, tertera bahwa saya mesti datang jam 9, namun ketika datang tepat waktu, katanya sidang sudah selesai!! Jadi hanya formalitas saja kata “sidang” itu.

Akhirnya karena menyadari bahwa Om pulisi ini pengen duit, aku keluarin duit dan langsung kasih ke Om pulisi. Aku merasa tidak menyogok!! Karena aku merasa tidak salah. Cuman, seperti kita tahu, kalo ngelawan Om pulisi panjang urusannya kalo di negeri ini walau kita benar. Dan belum tentu semuanya happy ending, tetep aja kita yang rugi. Jadi sudahlah, yang waras ngalah.

Setelah duit diterima dengan senang hati sama Om pulisi. Langsung aku cabut tanpa basa-basi. Dan om pulisi pun melepasku dengan ikhlas disertai lambaian tangan. Semoga selamat sampe ditujuan katanya…..haha

Gunung Sangga Buana Yang Penuh Mistis

Dulu waktu saya tinggal di Karawang, saya mempunyai seorang teman. Dia teman kerja saya. Namanya Endang, aslinya orang Tasikmalaya, gak aslinya orang Utan hehe..
Persahabatan kami ini didasari oleh satu lingkungan pekerjaan dan satu kesamaan hobi. Hobi kami saat itu yaitu bicara filsafat dan melakukan perjalanan.

Suatu hari kami jalan-jalan ke Curug Cigentis yang terletak di Selatan Karawang. Curug Cigentis ini masuk ke wilayah Desa Loji, Kecamatan Pangkalan. Perjalanan ke tempat ini, jika ditempuh dengan motor kurang lebih 1 jam.

Jika anda tertarik untuk datang ke Curug Cigentis, bagi yang suka naik angkutan umum anda bisa berhenti di Karawang Barat seandainya angkutan umum tersebut lewat toll. Selepas pintu gerbang toll ada jembatan, kita turun dari jembatan tersebut karena biasanya bus antarkota berhenti disini.

Di bawah jembatan biasanya sudah menanti mobil elf yang akan membawa kita ke Loji-Pangkalan. Mengenai tarif, saya tidak bisa memberikan info lebih lanjut karena terakhir saya kesana sudah beberapa tahun lalu.

Pada waktu itu kami duduk-duduk di depan pintu loket. Karena untuk masuk ke Curug Cigentis, kita mesti bayar biaya retribusi. Kami bertemu dengan penjaga loket tersebut yang saya tidak tahu namanya, maklum dia bukan cewek sih…. Hehehe. Kami mengobrol dengan beliau karena tertarik dengan tongkatnya. Ajaib kali yah tongkatnya, hingga kami tertarik sama tongkatnya. Haha tambah ngaco nih cerita.

Memang ajaib tuh tongkat. Ini kami ketahui setelah kami mengobrol dengan beliau. Katanya ini tongkat bisa mengusir ular. Wow… kami yang anak muda ini merasa tertarik pengen memiliki. Memang pada saat itu yang ada di pikiran kami begitu, padahal kalo sekarang mah pasti saya mikir, buat apa punya tongkat pengusir ular, wong kita hidup di kota bukan di kampung. Maklumlah bang, anak muda kan pengennya eksis.

Lanjut ama cerita. Nah, si tongkat sakti ini konon katanya ngedapetinnya di Gunung Sangga Buana. Wuih, tambah menarik lagi bagi kami nih cerita. Kami terus bertanya bagaimana agar kami bisa kesana dan ke arah mana. Beliau dengan senang hati menunjukkan arahnya.

Kata beliau, jika kita berjalan ke Curug Cigentis, maka di Kampung terakhir menuju kesini ada dua jalan. Yang ke kiri jalan menuju Curug Cigentis, sedangkan jika ke kanan, maka kita akan menemukan jalan menuju SanggaBuana bahkan ke Cianjur. Akhir dari obrolan itu, saya dan Endang berkomitmen untuk melakukan perjalanan ke sana di waktu mendatang.

Dan Alhamdulillah, akhirnya saat yang dinanti tiba juga. Setelah persiapan dengan berbagai bekal kami berangkat juga. Berbunga-bunga rasanya karena bakal jalan-jalan dan menemukan pengalaman baru.

Singkat cerita kami tiba di Desa Loji, sesuai petunjuk si Bapak penjaga itu, di dusun terakhir yang kami temui kami mengambil jalur kanan. Ternyata jalur ini adalah jalur sawah, pantesan kami kemaren tidak melihat jalur ini.

Setelah sawah habis, kita akan menemukan bebukitan. Setelah bebukitan dilewati baru kita menemukan pegunungan. Rute ini memaksa kami sering melakukan banyak istirahat karena kami yang jarang olehraga ini sering kecapean. Maklumlah…biasa olahraga tangan di kamar mandi sih…hahaha… ssst jangan bilang-bilang sapa-sapa.

Ada kejadian unik ketika kami selepas mendaki bukit pesawahan. Saat itu kami yang kecapean, duduk-duduk sambil beristirahat dan tidak lupa photo-photo sambil makan bekal. Tiba-tiba datang rombongan yang terdiri dari seorang kakek tua, seorang wanita berusia enam belas tahunan dan seorang lagi saya lupa cewek cowoknya dan tua atau mudanya.

Waktu itu kami sedang photo-photo, tiba-tiba si kakek menghampiri dan minta photo bareng. Kita melongo dan mata kami saling pandang sambil mengulum senyum. Aih ada-ada saja nih si Kakek, ternyata dia pengen numpang eksis doang hahaha. Karena setelah photo bareng, dia dan gerombolannya langsung ngeloyor pergi..

Kakek .. kakek… eh kakek aku lupa loh ngga nanyain nama cucu kakek…hihi

Setelah si kakek dan gerombolannya menghilang, kami mendapatkan bahan omongan baru. Yaitu tentang keluguan dari si kakek yang minta photo bareng dan tentang kecepatan serta kekuatan mereka dalam melakukan perjalanan. Bayangkan, untuk mendaki kurang lebih 100 meter kami begitu kesulitan dan memerlukan waktu yang lama, tapi bagi mereka hanya dalam hitungan sekejap saja. Dan tahu-tahu sudah tidak terlihat oleh mata. Luar biasa….

Dan tau ngga, ternyata setelah kami mencapai puncak Gunung SanggaBuana, mereka ini tidak ada. Padahal jelas-jelas kami melihat mereka berjalan ke arah kaki Gunung Sanggabuana. Alah ma… jangan-jangan….tatuuuuut.

Setelah dirasa cukup beristirahat akhirnya kami melanjutkan perjalanan. Tiba di kaki gunung, mulai terasa seram. Di kaki gunung kami menemukan kuburan tua. Entah kuburan siapa. Saat itu kami tidak berpikiran apa-apa, yang ada adalah rasa heran, kok ada kuburan di sini dan sudah tua sekali kuburannya.

Ternyata perjalanan kami tambah berat ketika kami mulai mendaki gunung tersebut. Kami hanya bisa mengangkat kaki untuk sepuluh langkah, sisanya kami berhenti. Jalan setapaknya rapih, terdiri dari undakan bebatuan. Saya gak habis pikir, kok bisa naek ke atas gunung tapi ada undakan yang begitu rapih sedangkan hutannya masih begituh angker. Sampai sekarang, pikiran tersebut belum bisa saya temukan jawabannya.

Belum habis pertanyaan tersebut, ada pertanyaan baru lagi. Pertanyaan baru ini timbul setelah melihat rombongan orang datang menyusul kami. Salah satu dari mereka ada yang memanggul barang bawaan. Yang memanggul barang bawaan ini adalah orang upahan, porter bahasa kerennya. Oalaaaah Pak, ini sayah begituh terengah-engah dan capeknya setengah mati untuk mendaki gunung ini, lah ini Bapak enak-enakan memanggul barang, apa sih rahasianya. Dan saya tidak dapat menemukan jawabannya sampai sekarang, karena saya ngga bertanya sama dia hehe dudul.

Siksaan dating ketika hujan turun. Dimana dalam kondisi tanah kering kami kepayahan menaklukan medan, ini ditambah dengan hujan, luar biasa derita yang kami alami saat itu. Hehe lebay mode on.

Setelah delapan jam kami berjuang dengan memaksa kaki dan menguras tenaga akhirnya kami sampai juga di atas gunung. Segala penat letih dan sengsara seakan hilang begitu kami menginjak daratan puncak. Haha… daratan… kesannya abis dari laut. Namun begitulah bayangannya, ibarat lama terombang-ambing dilautan eh nemuin daratan. Gimana gak seneng coba.

Cuman kami terkejut, karena ternyata di atas puncak gunung banyak orang. Wuiiih… kami terbengong-bengong.. kok bisa?… Malah ada yang jualan kopi!! Ah peduli setan coy, liat kopi yang masih mengepul mulut ini langsung goyah, hidung langsung limbung. Dideketin lah tuh tukang kopi. Bang atu….seru saya.

Kopi yang saya pegang itu masih panas, namun karena habis kedinginan langsung saya seruput saja tuh kopi. Ajaib!! Kopinya tidak terasa panas menyengat, tapi panas biasa, yaitu panas yang bisa kita minum… ada-ada aja. Apa karena ilmu saya sudah tinggi sehingga air kopi panas ini tidak begitu panas di mulut. Hehe

Ternyata setelah kejadian itu baru saya tahu teorinya. Teorinya adalah titik didih air di dataran rendah dan dataran tinggi itu berbeda. Di puncak gunung, tekanannya lebih rendah dari normal (1 atm). Jadi, titik didih air pun jadi lebih rendah. Contohnya, pada ketinggian 10.000 kaki, titik didih menjadi 90 C. Itulah kenapa air lebih cepat mendidih di puncak gunung daripada di dataran rendah.

Setelah ngupi, saya melihat-lihat sekeliling. Terkaget-kaget saya mendapati kenyataan di sekeliling puncak gunung ini. Saya tidak bisa menerima kenyataan ini. Sungguh… hehe. Ya gimana ga bisa menerima kenyataan, melihat banyak kuburan di atas gunung!!!

Coba pake logika, di atas gunung tidak ada perkampungan tapi kenapa ada banyak kuburan. Gimana caranya?? Jika ini kuburan adalah kuburan penduduk di sekeliling gunung, bagaimana membawa kerandanya dan apakah memang mau bagi pembawa mayit melintasi terjalnya jalan untuk membawa keranda ke atas puncak gunung yang begitu tinggi. Ah pikirin deh sendiri… abang sudah pusing nih.

Hebatnya lagi kuburan ini adalah bukan kuburan orang lokal setelah saya teliti. Orang-orang yang dikubur disini adalah orang Cirebon. Ini menurut perkiraan saya Karena melihat samara-samar kata-kata cirebon di batu nisan salah satu kuburan. Tambah luar biasa lagi…

Menurut desas-desus dari orang-orang yang saya tanyakan mengenai kenyataan yang ajaib ini ada satu cerita yang turun temurun. Katanya dulu, banyak orang berterbangan membawa keranda ke arah Gunung Sangga Buana. Benar tidak cerita ini Wallahualam, tapi kalau melihat kenyataan, ingin rasanya saya percaya.

Banyaknya orang yang ada di atas puncak gunung ini tak lain karena mereka sedang ziarah karena kebetulan waktu itu adalah bulan mulud. Dimana bulan mulud adalah bulannya para peziarah. Pantesan…

Namun sangat disayangkan, banyak peziarah yang musyrik. Mereka meminta-minta ke kuburan. Disituh ada beberapa kuburan yang diberi saung, satu yang saya perhatikan adalah kuburan Eyang Haji Ganda Malela. Nah kemusyrikan mereka macem-macem. Ada yang minta kaya, ada yang minta suara bagus dan lain sebagainya. Ada yang meyakini, jika ingin kaya, maka kita harus meminta kekuburan yang ini. Jika ingin yang lain minta ke kuburan yang itu. Astaghfirullah. Manusia… manusia.

Kemusyrikan ini didukung oleh berdirinya mushalla yang katanya dibangun oleh seseorang yang sudah berhasil karena mengunjungi gunung tersebut. Gak tahu gimana ceritanya… tapi itulah desas desus yang saya dengar.

Gunung Sangga Buana ini gunung yang indah, begitu kokoh mengapit tiga kota. Ke timur adalah kota Purwakarta, Ke selatan adalah kota Cianjur dan ke barat adalah kota Karawang. Jatiluhur bisa dilihat dari sini secara jelas, dimana menambah keindahan gunung ini.

Keunikan saya temui dari gunung ini adalah Elang Jawa. Kita dapat melihat secara dekat Elang Jawa bersarang di atas pepohonan di atas Gunung Sangga Buana ini. Dan seumur hidup baru sekali saya melihat elang yang begitu besar dan di habitat alaminya.

Gunung Sangga Buana. Gunung yang angker, alami dan penuh mistis.
[lain kali saya akan cerita tentang kemistisan lainnya]

Puisi Cinta

Ku tak suka puisi cinta
Hanya karena engkau suka
Maka kubuatkan puisi ini
Untukmu bahagia

Dengarkan..
Aku akan menulis
Tentang puja-puji
Biar kau tersipu

Duhai cinta
Kau menandingi semesta alam
Kau lebih indah dari pelangi
Bahkan kau dipuja setiap hari

Kau layak obat bagi sakit
Kau layak air bagi ikan
Kau layak angin bagi nelayan
Kau layak air bagi pengembara

Jika aku menghinamu
Berbondong-bondong manusia memujimu
Jika aku menyalahkanmu
Berbondong-bondong orang membelamu

Cinta.. bagiku kau makhluk aneh
Tidak tampan.. tidak cantik
Namun lelaki menyukaimu
Wanita mendambakanmu

Cinta.. kau begitu berkuasa
Hingga dunia ke dunia
Mahkotamu selalu bertengger
Kekuasaanmu tak terkira

Cinta kau adalah makhluk
Namun pesonamu melebihi penciptamu
Kau disebut-sebut setiap hari
Penciptamu hanya sedikit yang mengingat

Maafkan puisi ini
Tak indah ditelingamu
Namun harus kau sadar
Kau hanyalah ciptaan

Jalan Berlubang Adalah Api Neraka Bagi Pemerintah

Gabruk…. Ban motor kena lubang di jalan. Siaal…. Kata makian spontan terlontar dari bibir gue. Gimana ga kesal coba, sepanjang perjalanan dari tempat wisata dari selatan ke arah Jakarta udah beberapa kali ban motor nyangkut di lubang jalan.

Badan udah pada pegel, pantat udah panas, mata udah merah karena melototin terus lalulintas eh ditambah dengan goncangan di motor yang nubruk lobang, lengkaplah sudah penderitaan.

Jadi inget undang-undang tentang jalan mengingat kejadian ini. Undang-undang yang dimaksud yaitu UU No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Pasal 273 UU itu menyebutkan penyedia sarana jalan baik di jalan nasional, provinsi, dan kabupaten atau kota wajib menyediakan jalan dengan kondisi baik sehingga memungkinkan terselenggaranya keselamatan di jalan.

Selain itu, Bab XI dalam UU ini jelas mensyaratkan bahwa pemerintah bertanggung jawab terhadap keselamatan lalulintas dan angkutan jalan. Pemerintah yang dapat digugat, yakni Menteri Pekerjaan Umum untuk jalan nasional, gubernur untuk jalan provinsi, wali kota-bupati untuk jalan-kota dan kabupaten.

Nah kalo udah baca undang-undang ini, maka jika ada kejadian seorang pengendara jatuh maka orang yang mesti bertanggungjawab dari kejadian itu adalah pemerintah. Mantep…. Cuman karena kita nggak tahu itu hukum, maka kita tidak menggugat pemerintah, kalo kita tidak menggugat, kasihan benar dengan pemerintah, siap-siap nanti dibalas dengan api neraka hehe. Makanya jangan kira jadi menteri Pekerjaan Umum, Gubernur, Bupati itu enak karena ternyata resiko masuk ke nerakanya sangat gede …alias sudah hampir 99%.

Mari kita mengandai-andai, jika di seluruh Indonesia semua kota jalannya rusak, berarti ada 349 Bupati, 33 Gubernur dan 1 Menteri Pekerjaan Umum yang siap-siap masuk neraka, oh My God. Pak Menteri, Gubernur dan Bupati, cepat-cepat tobat pak.

Tobatnya yaitu dengan membetulkan jalan yang berlubang secepatnya karena jika ada 1000 orang yang mengalami kecelakaan akibat jalan yang berlubang selama Bapak bertugas maka nanti 1000 orang itu akan menggugat Bapak jika tidak di dunia nanti di akhirat. Ngeri yah Pak.

Pak, Kalau tidak mau masuk neraka contohlah Presiden Umar Bin Khatab yang berkata:“Seandainya ada seekor unta yang masuk ke suatu lobang di tengah jalan kota Baghdad, maka aku akan bertangungjawab dan akan ditanya oleh Allah Taala pada hari kiamat nanti“. Bayangkan, Presiden Umar bin Khattab mengurus pemerintahannya dari kota Madinah [Arab Saudi], tetapi kekhalifahannya sampai ke kota Baghdad [Iraq], dan dia merasa jika ada seekor unta yang terperosok ke dalam lobang di jalan-jalan kota Baghdad [Iraq], maka nanti walaupun dia berada di madinah [Arab Saudi], Allah juga akan mempertanyakan tugasnya dan menghukum keteledorannya sebab tidak mengetahuii ada lobang di kota Baghdad yang telah mencederakan seekor unta. Begitulah keadaan seorang muslim yang merasa bertanggungjawab atas segala amanah yang diterimanya dengan menduduki jabatan Pemimpin.

Presiden Umar, itu sudah menyadari sebelumnya dan siap siaga agar jangan sampai jalan berlubang sehingga ada kendaraan yang terperosok ke dalamnya. Luar biasa. Coba bandingkan dengan pemerintah kita, jalan berlubang dimana-mana, cuek aja ga ada takut-takutnya. Sadar Pak, kalau gak sadar-sadar… siap-siap aja…hehe.

Inbox SCTV, Analisa dan Pertanyaan-Pertanyaan

Pagi-pagi pasti kita akan temui satu acara di stasiun televisi swasta yaitu SCTV yang menyiarkan acara musik dengan judul program Inbox. Dimana bagi saya ada beberapa hal yang menggelitik dalam pikiran saya untuk dipertanyakan dan dianalisa.

Pertama, adalah mengenai penonton.
Penonton yang muncul di acara tersebut banyak anak-anak usia sekolah. Apakah mereka tidak sekolah? Kalo mereka sekolah, berarti mereka bolos. Kalau mereka bolos, apakah tidak ada yang menegur. Atau apakah yang mempunyai hajat acara tidak peduli, apakah mereka sekolah atau tidak?
Kalau mereka masuk siang [saya sangsi mengenai hal ini], apakah tidak ada kegiatan lain yang berguna bagi mereka sebagai pelajar untuk mengisi waktu luang untuk masa depannya.

Kedua, adalah mengenai waktu.
Tak dapat dipungkiri manusia suka musik. Namun apakah benar pagi-pagi kita sudah tongkrongin televisi hanya untuk mendengarkan atau melihat penyanyi pujaan memainkan musik dan lagu kesukaan kita. Mungkin jika dihari sabtu atau minggu, kita bisa menikmati acara ini, kalau dihari kerja kayaknya acara ini kurang mengena untuk memberikan semangat baru bagi kita dalam menghadapi kehidupan.

Ketiga, Pembawa Acara.
Coba anda perhatikan pembawa acara tersebut. Kalau anda amati pasti anda akan merasakan kalau mereka itu kayak tidak lagi ngomong sama kita. Jadi mereka rame sendiri, ketawa-ketawa atau ngobrol diantara mereka sendiri. Kita seperti nonton mereka yang lagi ngobrol sendiri. Ibaratnya begini, kita ada tiga orang, dua orang temen kita ngobrol, kita dikacangin, bete kan. Nah itu yang saya tangkap dari pembawa acara tersebut.

Keempat, Pangsa Pasar Yang Mana yang Dibidik
Kalo memang yang dibidik adalah anak sekolah, hal ini jelas-jelas sangat tidak masuk akal. Karena anak-anak sekolah pasti sedang bersekolah. Jika mereka bolos sekolah gara-gara acara ini, tambah keliru lagi.
Kemungkinan yang dibidik adalah ibu-ibu rumah tangga. Cuman saya kira tidak tepat acara musik ini ditujukan untuk pangsa pasar ini karena biasanya yang suka acara musik Inbox adalah anak-anak muda. Kalau ibu-ibu rumah tangga, mereka mendengarkan musik ketika hanya ingin saja, artinya minat untuk musik tidak sebesar anak-anak muda.

Kelima, Masukan.
Menurut saya pribadi, acara musik seperti ini harusnya ditayangkan waktu malam. Dimana semua orang sudah berkumpul. Jika diputar jam 10an, lumayan bisa dijadikan sebagai lagu nina bobo untuk menghantarkan kita tidur. Jika diputar jam 8an, lumayan sebagai selingan pengganti sinetron yang bikin bete bagi saya hehe.

Keenam, ini hanya opini saya pribadi, jika anda setuju dua jempol saya acungkan, jika tidak jangan marah yah.